Kewirausahaan

Eksplorasi Kain Tenun Baduy

oleh Wanita Wirausaha Femina
“Saya melihat ada kesamaan antara cara hidup orang Mongolia dan Baduy yang nomaden, sehingga gaya berpakaiannya pun ada kemiripan. Selain itu, dua komunitas ini juga nyaris tidak terjamah oleh kemajuan zaman sehingga representasi mereka akan keindahan pun berbeda dari kebanyakan,” kisahnya.

Wanita yang pernah bertualang nyaris ke seluruh dunia ini pun pulang untuk mewujudkan mimpinya, mengangkat tenun Baduy menjadi sesuatu yang beda dan bisa dibanggakan. “Kita mengetahui masyarakat Baduy hanya sebagai masyarakat pedalaman yang tidak tergantung pada elektronik, media, dan pemerintah. Mereka mempunyai gaya hidup sendiri, yang membuat saya tertarik untuk melihat secara langsung bagaimana kebudayaan di sana. Lagi pula, kenapa kita harus mencari yang jauh, kalau ternyata di dekat kita pun masih belum ada yang kita angkat budayanya,” tambahnya.  Lokasi Baduy memang terhitung dekat dari Jakarta, hanya berjarak 175 km, atau hanya 5 jam perjalanan dari Jakarta.

Tidak Mengubah Pakem
Kain tenun Baduy merupakan kain lurik dengan kombinasi warna yang memikat. Jika daerah lain memiliki lurik dengan kombinasi warna monokrom, maka penenun lurik Baduy piawai memadukan warna monokrom dengan warna-warna cerah lainnya.

“Biarpun begitu, warnanya memang terbatas karena menggunakan bahan pewarna alami,” ungkap Amanda. Selama ini, mereka membuat kain panjang dan selendang, yang   kemudian dijual kepada turis Kain-kain yang dibuat oleh masyarakat  Baduy ini kemudian dimodifikasi oleh Amanda menjadi busana yang edgy dan modern. Karya  Amanda yang diberi nama The Old Journey to The Nomad ini memang menyajikan koleksi yang tidak biasa: siluet asimetris dan   perpaduan motif serta warna.

Orang mungkin tertegun ketika pertama kali melihat desain yang tidak biasa ini, tapi Amanda terus melaju dengan pilihannya. Lambat laun, justru keunikan inilah yang menjadi ciri khas: tidak mudah ditiru, sekaligus menonjolkan keunikan tenun Baduy.
Lekat, begitu Amanda memberi nama label fashion-nya ini. “Lekat artinya menempel. Untuk wanita, fashion adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika mereka sudah menyukai sesuatu, pasti sudah mempunyai memori yang akan selalu melekat di hati,” jelasnya.

Sejak pertama kali tertarik pada  motif lurik Baduy, Amanda memiliki keinginan untuk memberdayakan penenun Baduy. Memberdayakan di sini bukan berarti mengubah konsep dan motif yang sudah tertanam selama ratusan tahun. “Saya tetap menjaga pattern dan penggunaan benang yang diproduksi oleh masyarakat Baduy. Yang saya modifikasi adalah pewarnaannya saja,” jelas Amanda.

Amanda mengakui bahwa ada tantangan tersendiri ketika bekerja dengan para penenun Baduy. Mereka yang dulunya menenun hanya sebagai pengisi waktu luang dan juga untuk memenuhi kebutuhan kain dalam keluarga, kini dituntut untuk lebih teratur dalam menghasilkan karya. “Memang agak sulit menerapkan deadline kepada para penenun. Selain belum terbiasa, sumber dayanya  juga   terbatas. Karena itu, saya tidak mau memproduksi dalam jumlah banyak,” tambah wanita yang membuka butik di wilayah Kemang, Jakarta Selatan, ini. (f)
Juliana Harsianti

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article