Aspek Legal

E-Commerce jadi Tempat Peredaran Produk Palsu, Konsumen Harus Lebih Cerdas

oleh Faunda Liswijayanti


Dok: Pixabay

Tak dipungkiri, tren belanja online kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir.  Fenomena positif yang dapat menggerakkan roda perekonomian nasional. Namun, seiring meningkatnya tren belanja online, menjadi celah bagi munculnya peredaran barang-barang palsu. Apalagi, barang palsu tak hanya untuk kebutuhan gaya hidup, obat-obatan dan kosmetik yang bisa memberikan dampak bahaya bagi pengguna juga tak luput dari praktik pemalsuan.

Kondisi ini menjadi perhatian Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) yang menggalang kolaborasi berkelanjutan dari berbagai pihak untuk menangani peredaran produk palsu di saluran e-commerce. Kedepannya diharapkan hak dan keselamatan konsumen untuk hanya mendapatkan produk-produk berkualitas terbaik benar-benar terlindungi.

Di sektor industri farmasi, menurut Pharmaceutical Security Institute (PSI), mengutip data dari Kementrian Dalam Negeri AS, pada tahun 2016, secara global dilaporkan telah terjadi 3.147 temuan pelanggaran produk farmasi (produk palsu dan illegal) 127 negara, atau secara global naik 5% dibanding temuan yang dilaporkan di tahun sebelumnya. “Peredaran produk-produk obat palsu ini dapat membahayakan keselamatan jiwa konsumen yang mengkonsumsinya,” kata Justisiari P. Kusumah, Ketua MIAP.

Salah satu anggota dan pendiri MIAP, Pfizer, secara aktif bekerjasama dengan BPOM dan otoritas penegak hukum di berbagai negara, termasuk di Indonesia dalam upaya untuk melakukan kegiatan edukasi publik dan penegakan hukum, sekaligus melindungi konsumen dari beredarnya obat-obatan palsu. Pada tahun 2016, misalnya otoritas penegak hukum di 13 negara Asia Pasifik menyita setidaknya 5,6 juta dosis obat-obatan Pfizer yang dipalsukan seperti Viagra dan Ponstan.

Lebih lanjut Justisiari mengatakan bahwa memberantas peredaran barang palsu lewat e-commerce menjadi tanggung jawab banyak pihak, pemerintah, industri, dan pengusaha e-commerce. Termasuk juga meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat melalui langkah-langkah edukatif tentang kerugian dan bahaya dari mengonsumsi produk-produk palsu.

“Konsumen juga harus memiliki kemampuan untuk dapat mengenali produk yang asli dan berkualias,” katanya. Tahun ini MIAP bekerjasama dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta yang akan melakukan serangkaian kegiatan edukasi masyarakat untuk mewujudkan sikap anti pemalsuan dan peduli penggunaan produk asli. (f)

Baca Juga: 
BUKALAPAK JADI NOMOR SATU DI SURVEI LOYALITAS PELANGGAN E-COMMERCE
KUDO, PERUSAHAAN E-COMMERCE DENGAN STRATEGI BISNIS ONLINE TO OFFLINE AJAK WANITA MAKIN BERDAYA
DONGKRAK PRODUK LOKAL LEWAT E-COMMERCE?

 

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article