Inovasi Produk

Cokelat, Bisnis 'Hati' Berlaba Tinggi

oleh Wanita Wirausaha Femina
 
Harum aroma cokelat menebar ke seluruh ruangan kedai mungil bernuansa Eropa milik Marda Dian Ekowati (30). Rupanya, sang koki tengah asyik mengaduk lelehan cokelat di dapur, yang langsung berbatasan dengan ruang display. Aroma inilah yang menggiring konsumen untuk mampir mencicip penganan cokelat di kedainya di Rawamangun, Jakarta Timur. Mengusung nama Cokelatque, usaha yang diawali di tahun 2003 ini berkembang dari tahun ke tahun. Padahal, ia mengaku, awalnya ini adalah bisnis 'kecelakaan'.
 
“Saya ditodong adik --yang saat itu masih SMA-- untuk membuat cokelat. Alasannya, sih, untuk acara Valentine. Eh, bukannya dibagikan, cokelat itu malah dijual ke teman-temannya,” cerita Marda. Melihat keuntungannya, Marda tertarik untuk serius menekuni bisnis ini, dan mundur dari pekerjaannya sebagai staf administrasi.
 
Untuk bisnisnya itu, lajang yang hobi memasak ini rela mengeluarkan modal cukup besar, yaitu Rp100 juta. Dari jumlah tersebut, 95% dialokasikan untuk renovasi tempat, yang disewanya menjadi toko sekaligus dapur. Sisanya untuk investasi alat. Namun, ia tak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati keuntungan. ”Dalam setahun, saya bisa BEP (break even point),” ungkapnya, puas. Keunikan produk dan sepinya pesaing membuatnya meraup keuntungan kotor hingga Rp 6 juta per hari di awal tahun usahanya.
 
Kebalikan dari Marda, trio pengusaha kedai online Podjok Cokelat yang terdiri dari Santi Darmawan (38), Rika Eridani (38), dan Haryanti (38) justru memulai bisnis dengan modal minim. ”Modal kami hanya cetakan cokelat. Itu pun bonus dari buku resep. Karena belum punya warmer (pemanas khusus untuk melelehkan cokelat), kami mengandalkan dua panci yang ditumpuk jadi satu untuk mengetim cokelat,” kenang Santi, yang membuka bisnis tahun 1999.
 
Mereka memang mengawali bisnis ini dengan modal nekat. Sebab, waktu itu bisnis cokelat di Jakarta masih sangat jarang, sehingga sulit mencari bahan baku. Jauh berbeda dari sekarang. “Ditambah lagi, saat itu sedang krisis moneter. Apakah orang kepikiran untuk beli cokelat?” ujar Santi. Nyatanya, bisnis rumahan yang awalnya mengandalkan sistem promosi door to door (dari teman ke teman), membuahkan keuntungan lumayan.
 
Hasil keuntungan ini mereka sisihkan untuk melengkapi peralatan. ”Sambil melihat respons pasar, kami mulai mencicil alat-alat memasak,” kata Santi. Jika ditotal, modal untuk alat ini mencapai Rp5 juta. Meski ketiganya enggan menyebut angka, Santi bercerita, dari tahun ke tahun omzet mereka meningkat 20–30%. Apalagi, sejak mereka menambah variasi produk seperti cake dan kue kering di tahun 2006. ”Pokoknya, kalau bicara soal BEP, sudah lewat jauuh...,” Rika tertawa. Untuk mengirit biaya produksi, ketiganya sepakat untuk tidak memakai pegawai tetap. Jadi, saat sepi order, mereka menggarap sendiri pesanan yang ada, termasuk mengantar pesanan.
 
Menjalani bisnis secara online, awalnya mereka tidak mengeluarkan uang sepeser pun. ”Kami hanya mengandalkan layanan situs dan domain gratis di internet untuk menawarkan produk,” kata Santi. Kebetulan, suami Rika bekerja sebagai tenaga TI, sedangkan suami Santi adalah fotografer yang bertugas menyuplai foto produk untuk website mereka. Namun, dengan keuntungan yang makin meningkat, mereka sudah mampu membeli domain dan menyewa layanan hosting internet.
 
Pengalaman mirip Podjok Cokelat juga dialami pemilik Chocolique, Fani Andriani Sumarli (23), yang memulai usaha dengan modal kecil. Karena sudah memiliki cetakan, ia hanya perlu mengeluarkan Rp500.000 untuk membeli bahan baku cokelat blok. Usaha rumahannya berawal ketika ia masih menjadi mahasiswi jurusan komputer akuntansi di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. ”Saat itu Hari Valentine. Iseng, saya membuat permen cokelat untuk dibagikan kepada sahabat-sahabat di kampus. Eh, setelahnya saya malah kebanjiran pesanan,” katanya.
 
Alhasil, semalaman ia harus rela begadang sendiri mengerjakan pesanan yang mencapai 500 buah. Namun pengorbanan Fani tidak sia-sia. Modal yang ia keluarkan kembali berlipat ganda. ”Dengan modal Rp500.000, saya bisa meraih omzet hingga Rp1,5 juta,” cerita Fani, yang setelah menikah memilih berhenti dari tempat kerjanya untuk serius di bisnis ini.
 
 
Jeli Membidik Pasar
Marda bersyukur, Coklatque bisa eksis hingga kini. Rahasianya? ”Saya memiliki target market yang jelas. Sejak awal berdiri, saya menargetkan produk untuk remaja atau anak sekolah,” katanya. Target market yang jelas ini memudahkannya dalam melakukan pendekatan atau promosi. Ia sendiri merasa terbantu oleh tren di kalangan remaja. Tren manga, misalnya. Komik Jepang ini kerap mengulas gaya hidup remaja Jepang yang sering memakai cokelat untuk mengekspresikan perasaan mereka. Otomatis, pembaca komik pun akan terbawa dengan gaya hidup seperti itu. Karena itu, agar tidak ketinggalan tren, Marda sering membaca majalah remaja, atau bekerja sama dengan mereka lewat acara pesta sekolah atau pensi (pentas seni).
 
Namun, Marda harus menyesuaikan harga dengan ukuran kantong konsumennya. Untuk praline, misalnya, ia hanya mematok harga Rp15.000 per ons yang isinya sekitar 10 buah. Untuk cake cokelat, seperti truffles, tiramisu, atau opera, dijual seharga Rp9.000 per potong. Meski punya sasaran spesifik, bukan berarti Marda menutup kemungkinan meraih pangsa pasar berbeda. Orang tua anak-anak ini ikut datang. Bahkan, para pelanggannya, yang kini telah menjadi mahasiswa, tetap datang ke kedainya.
 
Podjok Cokelat punya target pasar berbeda. Mereka melirik para pekerja kantoran yang terlalu sibuk atau mereka yang malas pergi ke toko. Konsumen hanya perlu mengklik pilihan cokelat yang mereka inginkan melalui internet. Setelah melakukan konfirmasi via telepon, pesanan akan langsung diproses dan diantar sesuai permintaan.
 
Sistem pembayarannya pun mudah, yaitu via transfer bank maupun COD (cash on delivery) atau pembayaran di tempat. Meskipun terkesan ‘wah’, untuk urusan harga, mereka cukup bersaing. Harganya mulai Rp1.500 per buah (untuk praline) hingga Rp500.000 dalam bentuk paket (hamper). Istimewanya, pesanan di Podjok Cokelat tidak ada batas minimal. Meski cuma pesan satu, mereka akan layani. Yang membuat mahal adalah ongkos kirim. “Apalagi jika pemesan tinggal di daerah yang jauh dari Sunter, Jakarta Utara, tempat dapur kami. Atau di daerah yang termasuk kawasan macet. Sebab, untuk mengantar, kami selalu menggunakan mobil,” aku Santi, yang berprofesi sebagai dosen ini.
 
Meski harga di Podjok Cokelat jatuhnya menjadi mahal, jumlah pelanggan terus bertambah. Apalagi di hari-hari khusus, seperti Valentine atau hari raya keagamaan. ”Kami mencoba untuk melayani semua pesanan sebaik mungkin. Bahkan pesanan yang dadakan, selama memungkinkan,” kata Rika.
 
Chocolique punya jalan berbeda. Ketimbang membuat butik cokelat atau kafe, Fani memilih jalur wedding dan promosi dengan menyediakan cokelat sebagai suvenir pernikahan atau promotional gift di acara meeting perusahaan, seminar, dan peluncuran produk baru. Konsumen pertama adalah teman-teman yang akan menikah. Dari sini Fani berhasil menjaring konsumen yang lebih besar. ”Saya tidak pernah lupa menempelkan logo yang sudah dilengkapi dengan alamat dan nomor kontak. Jadi, saat ada yang tertarik, mereka langsung menghubungi saya,” ujar Fani, berbagi tip.
 
Tapi, bisnis suvenir wedding ini bersifat musiman. Biasanya, pesanan akan mencapai puncak sekitar September hingga Desember. Di masa peak season, omzetnya bisa ’gila-gilaan’. Desember tahun lalu, misalnya, Fani meraih omzet hingga Rp30 juta. Tapi, di bulan-bulan ’kering’, seperti April, bisa saja ia tidak mendapat pesanan sama sekali. Nah, di masa-masa seperti inilah, ia gencar mendekati perusahaan-perusahaan untuk menawarkan cokelat sebagai promotional gift. ”Klien terakhir saya adalah salah satu distributor kosmetik internasional yang sedang meluncurkan produk baru,” cerita Fani. Karena itu, sekali pesan langsung dalam jumlah besar, yaitu 2.000 kotak. Keuntungan yang didapat dari sini mampu mengisi kekosongan pemasukan dari suvenir wedding.
 

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article