Ilmu Bisnis UKM

Ikut Tren atau Jadi Trendsetter? (part 1)

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay

Ide usaha dan pasar adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam berbisnis. Ketika Anda memiliki ide usaha tentu ingin agar pasar tertarik untuk membeli, menyerap atau memakai produk atau jasa yang Anda hasilkan.
 
Pasar seperti apa yang perlu Anda dekati? Apakah pasar yang sudah ada, ataukah Anda membuat pasar baru? Berikut saran Yoris Sebastian, praktisi industri kreatif yang disarikan dari Buku Seri kewirausahaan Femina: Ini Cara Bisnis Naik kelas1:
 
1/ Cari pasar terdekat
Sebagai UKM, Anda perlu tahu trend atau kecenderungan yang popular dari pasar global dan nasional, Tapi, jadikan hal itu sebagai referensi saja. Karena, sebagai UKM, pekerjaan rumah Anda lebih dititikberatkan untuk mencari pasar terdekat dengan Anda, pasar terdekat yang ada di sekeliling Anda.
 
Misalnya, Anda ingin membuka usaha baju muslim. Dengan modal sekitar satu juta rupiah, Anda mendesain dan memproduksi baju muslim yang menarik, lalu jualnya lewat akun sosial media seperti Facebook atau Instagram. Siapa pasar Anda? Ya, teman sendiri. Daripada belum apa-apa, Anda sudah menghabiskan uang untuk sewa toko, bangun sarana toko, dan sebagainya. Memangnya, sudah yakin orang pasti suka dengan produk Anda?
 
Soal pasar, Anda beruntung hidup di zaman sosial media yang beragam. Kedekatan bisa dijangkau dengan teknologi. Anda tak perlu membuka toko di Jakarta misalnya untuk usaha batik Anda yang berlokasi di Solo. Cukup berkoneksi melalui dunia maya.
 
2/ Start Small
Ida Widyastuti, pemilik Roemah Snack Mekarsari, Sidoarjo, yang juga Pemenang I Lomba wanita Wirausaha Femina 2012 dan Class of Winner EY Entrepreneurial Winning Women 2013,  memulai usahanya dengan berjualan emping melinjo dengan modal Rp500.000. Kini, Ida adalah pengusaha makanan ringan yang mampu mengekspor produk camilannya ke berbagai negara, termasuk bisa menembus pasar Jepang dan Korea Selatan.
 
Untuk pebisnis pemula, memang sebaiknya memulai dari hal yang kecil. Yoris mencontohkan seorang temannya yang berbisnis kuliner dengan menu makan yang enak, konsep unik, dan lokasi mal. Saking yakinnya, ia pun sudah melakukan langkah untuk mematenkan konsepnya. Ratusan juta rupiah pun terserap.
 
Tapi, teman Yoris ini lupa, ketika dia memberikan sampel makanan itu adalah kepada anak dan teman-teman sekolahnya. ”Harusnya, jangan mulai langsung besar seperti itu. Lebih baik dia membuat booth dorong yang bagus. Nama dan konsep dipatenkan, tapi jualan dulu ke sekolah-sekolah. Setelah, kelihatan hasil dan pasarnya,  baru masuk mal. Jika sampai usaha gagal, dengan skala kecil, rasa sakit karena gagal itu tidak terlalu telak. Anda masih bisa mengatakan: “Yah, namanya juga usaha....”
             
3/ Ikut tren boleh, tapi ....
Sah-sah saja kita mengikuti selera pasar atau Anda ikut meramaikan pasar yang sudah ada. Namun, bila menempuh jalan ini, Yoris mengisyaratkan, Anda harus memiliki banyak modal uang.
 
“Dalam buku berjudul Fast Second: How Smart Companies Bypass Radical Innovation to Enter and Dominate New Markets dijelaskan, bagaiman orang yang memiliki uang banyak bisa survive dengan meniru. Dia untung tidak perlu biaya riset. Pasar membuat apa, dia langsung ikut. Tiru habis-habisan dengan biaya lebih murah, misalnya 10%. Tapi...  ini hanya mungkin dilakukan oleh pemodal besar,” kata Yoris.
 
Jika usaha kecil, sebaiknya jangan nekat. Kekuatan pengusaha UKM adalah kreativitas, cari yang unik agar nama Anda terdengar di pasaran. Nah kalo pengusaha UKM tetap nekat terus melakukan hal itu? Ya, risikonya sepi atau bahkan tak yang membeli produk Anda. Tanpa keunikan, nama dan gerak usaha Anda tidak akan terdengar. Anda hanya sekadar meramaikan pasar yang ada. (f)
 
Baca Juga:
7 Cara Jitu Raih Untung Cepat Di Ceruk Pasar Sempit
Anne Sri Arti: Menciptakan Pasar Pasti

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article