Ilmu Bisnis UKM

Ikut Tren atau Jadi Trendsetter? (part 2)

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay

Ide usaha dan pasar adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam berbisnis. Ketika Anda memiliki ide usaha tentu ingin agar pasar tertarik untuk membeli, menyerap atau memakai produk atau jasa yang Anda hasilkan.
 
Pasar seperti apa yang perlu Anda dekati? Apakah pasar yang sudah ada, ataukah Anda membuat pasar baru? Berikut saran Yoris Sebastian, praktisi industri kreatif yang disarikan dari Buku Seri kewirausahaan Femina: Ini Cara Bisnis Naik kelas1:
 
4/ Jangan kejar uangnya
Dalam membuka pasar usaha, membuat perhitungan keuangan sangat penting. Tapi, jika di dalam benak Anda semata-mata mengejar uang, biasanya akan gagal. Kejarlah yang Anda suka, karena hal itu akan menjadikan Anda mengejar kualitas. Hasilnya akan jauh lebih bagus. Logikanya: tak ada orang yang tega mempresentasikan produk yang dia suka, jika  kualitasnya jelek.
 
Dengan moto tersebut, Yoris menciptakan istilah happynomics, yang berarti melakukan bisnis sesuai passion tapi tetap memiliki nilai ekonomis. Sebab, menurut Yoris, bila perasaan senang sudah didapat, keuntungan dan kesuksesan pun akan mengikuti dengan sendirinya.
 
“Bisa dibilang, happy menjadi moto dasar dalam berbisnis. Bisnis yang didasari oleh rasa happy akan lebih total, plus menghasilkan nilai ekonomis yang sepadan.”
 
5/ Dari Anda untuk komunitas
Kini bukan masanya lagi Anda membuka usaha semata-mata mengejar gembulnya kantong sendiri. Usaha yang memiliki nafas panjang saat ini adalah usaha yang memberikan dampak positif, bukan hanya kepada diri, melainkan juga orang lain. Mereka ini bukan disebut sasaran target, tapi komunitas usaha Anda.   It’s never about us or me, but about them. Dengan berbuat baik kepada komunitas, maka dengan sendirinya komunitas akan mendukung usaha Anda.
 
Kita bisa belajar dari pengalaman Azalea Ayuningtyas, CEO Du’Anyam, sebuah kewirausahaan sosial di Flores, NTT. Masalah malnutrisi yang diidap para ibu dan anak-anak di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah sedemikian serius yang menggerakkan Ayu.  “Sekitar 45 persen anak-anak dan 50 persen ibu-ibu yang tinggal di wilayah tersebut menderita malnutrisi,” kata Ayu.
           
Lulusan program master di bidang kesehatan masyarakat dari Harvard University, Amerika, ini, meninggalkan pekerjaannya di Boston dan bergabung bersama 6 orang temannya untuk membangun kewirausahaan sosial di Flores sejak tahun 2014 dengan nama Du’Anyam. “Kami menggandeng para wanita di Flores yang selama ini menggantungkan kehidupannya dari menganyam daun lontar untuk sama-sama membangun bisnis,” ujarnya.
           
Lewat Du’Anyam, Ayu dan teman-temannya membantu  ibu-ibu dan wanita di 15 desa di Flores untuk lebih banyak menghasilkan produk kerajinan anyaman dari daun lontar dengan tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional. Du’Anyam menghasilkan tas, sepatu, dan beragam suvenir serta produk kerajinan berbahan daun lontar lain.

“Produk ini kami jual di beberapa resor, hotel, dan toko suvenir di Bali,” kata Ayu. Uang hasil penjualan digunakan untuk memperbaiki dan memenuhi kebutuhan pangan sehat anak-anak dan para ibu. (f)

Baca Juga:

Azalea Ayuningtyas, Pemilik Du’Anyam, Mengatasi Masalah Nutrisi
Yoris Sebastian: Menjadi Kreatif Artinya Harus Berani Ambil Risiko
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article