Ilmu Bisnis UKM

Pasar Besar Hidangan Vegetarian. Ke Mana Saja Menjualnya?

oleh Trifitria S. Nuragustina
 


Pelaku vegetarian ‘meningkat’ jumlahnya di masyarakat urban. Ini bisa dilihat dari  makin banyaknya komunitas ‘tidak makan daging’. Bahkan organisasi Indonesia Vegetarian Society saja beranggotakan hampir 9.000 orang.
 
Informasi dalam genggaman tangan memang mempercepat pelakunya untuk berbagi inspirasi. Pemikat publik, seperti Nadya Hutagalung dan Sophie Navita, rajin menggunggah foto-foto makanan vegetarian (dan raw food) menggiurkan lewat media sosial.
 
Tentu saja, ‘undangan’ untuk berbisnis makanan vegetarian melebar dan mulai dijalani orang-orang muda. Mereka berkomunikasi melalui media sosial dan membangun tempat makan bergaya masa kini, menyemarakkan bisnis makanan sehat yang telah ada.
 
Di tangan mereka, terbangun paradigma baru bahwa makanan sehat adalah gaya hidup kekinian yang tak perlu menunggu disantap kalau sudah terserang penyakit!
 
DARI PENGALAMAN
Di balik bisnis yang cukup menjanjikan, ada alasan lain mengapa Priangga Amalo mendirikan De Good Food, sebuah katering vegan online.
 
Wisang, sapaan akrab Priangga, menganut pola makan vegetaris sejak 5 tahun lalu dan kini menjadi vegetarian, yakni tidak mengonsumsi telur dan susu. Ini dilakukannya bukan karena alasan kesehatan, melainkan hatinya tak tenang saat mengingat hewan yang dikorbankan diolah menjadi makanan.
 
“Menjadi vegetaris juga termasuk cara mengurangi emisi rumah kaca penyebab pemanasan global,” papar Wisang. Ketiga ungkapan itulah yang menjadi pesan Wisang melalui De Good Food. Setelah menjadi vegetarian (vegan), mantan associate art director di salah satu advertising agency ini mendalami ilmunya agar tak salah kaprah.
 
Lain lagi dengan Helga Angelina Tjahjadi, salah satu pendiri Burgreens, tempat makan vegetarian yang sedang naik daun. Sejak kecil, ia sakit-sakitan dan selalu minum obat-obatan. Alhasil, di usia belia ia mengalami gangguan ginjal. Saat umur 15 tahun, ia mulai menerapkan pola hidup food combining, berlanjut menjadi vegetarian tidak lama setelahnya. Dalam dua tahun, kesehatannya membaik.
 
Meraih kembali kesehatannya hanya dengan mengubah dan menjaga pola makan, sangat disyukuri Helga. Ini alasan mengapa ia bersama Max Mandias, teman kuliahnya, bermimpi untuk membuka restoran vegetarian di Jakarta.
 
Visi dan misinya klik dengan Songolas, sebuah bisnis properti pengusung kehidupan hijau di Rempoa, Tangerang, yang mengajak bekerja sama untuk mendirikan Burgreens.
 
Kegigihannya mengelola Burgreens berujung pada ajakan dari Organik Klub untuk membuka cabang Burgreens di Tebet, Jakarta, awal 2015.
 
Begitu pula Farah Dina Gatam. Ia memulai Green Apron Meal karena ingin berbagi resep menjadi sehat yang diraihnya dari mengubah pola makan. “Dulu, saya dan suami penggemar makanan ‘jorok’ dan benci sayuran,” terang Dina.
 
Seiring bertambahnya usia, penyakit hipertensi menjadi salah satu yang diidap Dina. Sementara, sang suami memiliki bobot hampir menyentuh angka 100 kg.
“Ini menjadi turning point kami,” aku Dina.
 
Ia kemudian banyak membaca buku tentang holistic lifestyle dan mencoba pola makan sehat yang dianjurkan. Ia menjalani clean eating dengan mengonsumsi makanan yang paling alami dan tidak banyak diproses, alias mengonsumsi banyak sayuran mentah.
 
Eksperimen pun dilakukan pada sang suami. Hasilnya, bobot tubuh suami  menyusut 20 kg dalam 12 bulan. Badan terasa lebih sehat dan bugar!
 

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article