Ilmu Bisnis UKM

Pebisnis Online, Selain Google Analytics Anda Perlu Tahu Data Dari Sini Juga

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pexels
 

Salah satu perubahan mindset dari penjual offline ke online, adalah seorang pebisnis harus update tentang segala hal yang sedang berlangsung di internet. Bagaimanapun, konsumen adalah hal yang paling penting dan harus menjadi fokus utama dalam bisnis online.
 
Bagaimana kita tahu siapa mereka, apa seleranya, apa ekspektasinya, termasuk di platform apa mereka ‘bermain’ saat ini.  Benarkah marketplace A masih menjadi top leader daripada marketplace B, benarkah platform media sosial A masih menjadi tujuan orang berbelanja, dan lain sebagainya.
 
“Kita perlu tahu apa demand dari sisi konsumen untuk kemudian menentukan supply-nya dengan berinteraksi dengan data-data konsumen, sehingga kita bisa memprediksi dan melakukan kebijakan yang cepat dan tepat, ibarat sniper yang langsung membidik ke arah target sasaran,” kata Elizabeth Kurniawan, CEO The Shonet, sebuah platform shopping network.
 
Untungnya, digital sangat memudahkan penjual karena segala sesuatu yang terjadi secara online pasti menghasilkan data yang bisa dijadikan dasar dalam  tiap keputusan bisnis apa pun. Dari transaksi kartu kredit misalnya, apa pun data yang tercetak di kartu pasti akan terekam. Bahkan, ketika seseorang browsing di marketplace tertentu, ada cookies yang ditanam yang kemudian bisa menjadi data yang bisa digunakan untuk kepentingan bisnis apa pun.
 
Google Analytics disebut Elizabeth menjadi salah satu platform yang bisa menjadi pegangan. ”Google itu komprehensif dan sudah dibuat sederhana. Tapi, yang perlu diperhatikan, kita tidak bisa hanya memegang satu data, karena bagaimanapun tidak ada yang sempurna dan bisa meng-cover segala hal. Kita perlu membandingkan dengan data-data lain untuk kemudian ditarik benang merahnya,” jelas Elizabeth.
 
Tuhu Nugraha, Digital Strategist Expert & Trainer menambahkan, dua sumber data yang juga bisa dipertimbangkan. Pertama adalah rilis dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), yang rutin mem-publish hasil survei mereka. Kedua, data dari We Are Social, yang memiliki data dari seluruh dunia, termasuk e-commerce di Indonesia yang bisa diunduh secara gratis.
 
“Di digital itu perubahan terjadi sangat cepat. Cara kita memvalidasi apakah platform yang kita gunakan masih relevan adalah dengan membaca data. Jangan sampai ketika konsumen berpindah platform, kita ketinggalan kereta,” kata Tuhu.
 
Tanpa Kita, Data Tidak Bisa Bicara
Elizabeth menggarisbawahi, meski data bisa didapat dengan mudah di era internet ini, data baru bisa bicara dengan analisis kita sebagai manusia.  Misalnya, kita harus bisa memilah data yang benar-benar sesuai dengan yang kita butuhkan. Siapakah orang yang mengisi survei kita? Apakah demografi mereka memang sesuai dengan target market bisnis kita? Bisa jadi ada orang yang iseng mengisi survei, tapi sebetulnya ia bukan target market dari produk atau jasa kita.
 
“Kalau tidak dipilah dengan benar, maka akan miskonsep karena produk atau servis untuk target market tertentu pasti tidak akan bisa diapresiasi baik oleh target market yang berbeda. Nyaris tidak mungkin kan membuat servis atau produk yang bisa mengakomodasi semua orang,” katanya.
 
Ada tricky part yang lain. Meski kita sebagai pebisnis pasti membutuhkan data yang detail,   kita harus mempertimbangkan dari sisi konsumen. Bagaimanapun, seseorang cenderung malas kalau diminta mengisi banyak pertanyaan kuesioner.
 
“Jangan memberi pertanyaan survei berhalaman-halaman karena daya tahan orang itu terbatas. Sesuka-sukanya mereka dengan servis atau produk kita,   mereka tetap  punya batasan untuk mengisi survei. Memang sebuah tantangan untuk bisa membuat survei yang bisa komprehensif,  tapi bisa dilakukan dengan cepat dan tidak memakan waktu lama,” kata Elizabeth.
 
Karena itu, untuk mengatasi keterbatasan ini, perlu data pembanding. ”Data survei langsung dari konsumen memang penting. Tetapi, kita bisa perkirakan berapa persen, sih, sebetulnya responden survei itu bila dibandingkan dengan jumlah pelanggan kita yang sesungguhnya? Kalau hanya 20 persen yang isi lalu kita membuat kebijakan berdasarkan hasil survei, ini kan tidak valid juga. Karena itu, butuh data pembanding, misalnya untuk bisnis hotel, bisa ditambah dengan data reservasi dan data orang yang bener-benar stay. Baru kebijakan yang diambil bisa lebih akurat.” (f)

Baca Juga:
Perlu Tahu 7 Hal Tentang Sosial Media Ini Agar Tidak Ketinggalan Zaman
E-Commerce: Cara Sederhana Membuat Storytelling Untuk Brand Anda
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article