Inovasi Produk

10 Tip Bagi Desainer Pemula Agar Karya Tetap Autentik

oleh Wanita Wirausaha Femina

Foto: Pexels

Tren selalu berputar. Namun, tantangan terbesar seorang desainer tetap sama: menentukan dan mewujudkan ide autentik ke dalam tiap rancangan yang unik dan berkarakter.
 
Berikut ini ulasan para desainer, Deden Siswanto, Irna Mutiara, Malik Mustaram, Neeta R. Aildasani (founder of Mosso), Rima Insania, dan Attina (pemilik brand Pinx), dan Septrina Rams Chhetri (Creative Director of Vlinder) bagaimana membangun autentisitas produk:
 
1/ Temukan Motivasi
Menjadi desainer tidak seglamor yang Anda kira. Ini adalah bisnis yang penuh kerja keras dan kompetitif. “Anda harus dapat menemukan motivasi yang kuat untuk berjuang dan membumi. Temukan motivasi Anda, atau tinggalkan profesi ini,” tegas Deden Siswanto.
 
2/ Perkuat dengan Ilmu
Kemampuan mendesain tidak hanya bicara soal bakat, tapi perlu banyak latihan. Pelajari cara membuat pola dasar, teori warna, hingga mengenali sifat berbagai material tekstil. Magang di perusahaan garmen atau rumah mode desainer senior sangat dianjurkan. “Jangan berkecil hati jika Anda diminta melakukan pekerjaan kecil atau kasar. Lihat sisi baiknya, yaitu relasi dan jejaring baru,” saran Irna Mutiara.
 
3/ Fashion = Produk Budaya
Pelajari berbagai desain para desainer ternama. Jangan hanya terbatas mempelajari konsepnya. Anda perlu ‘membedahnya’ lebih dalam. Pelajari latar belakang budaya, teknik mengolah kain, hingga inspirasi mereka dalam menciptakan karya-karya tersebut. Cara ini membangun inspirasi Anda untuk menemukan desain sendiri. Bukan menyonteknya.
 
4/ Jadilah Spesialis
“Ada empat bidang dalam dunia fashion, yaitu haute couture, ready-to-wear, leisure gear, dan mass market,” ungkap Rima Insania, pemilik Pinx The Label. Berusahalah untuk fokus pada satu bidang saja karena tiap subbidang memiliki tingkat kesulitan beragam. Boleh saja memilih 2 hingga 3 subbidang, tapi pastikan Anda memahami core desain fashion Anda.
 
5/ Kenali Pesaing
Industri mode adalah industri yang sangat kompetitif. “Lakukan riset untuk mengetahui ‘manuver’ yang dilakukan oleh brand atau desainer lain,” ujar Attina, pemilik Pinx The Label.
 
6/ Pelajari Mata Rantai Industri
Pelajari berbagai skill di luar urusan desain tapi sangat relevan. Di antaranya ilmu komunikasi, media, fashion stylist, dan pemain retail. “Dengan mempelajari seluruh peran mereka, Anda akan memiliki pemahaman yang utuh terhadap industri fashion itu sendiri,” saran Neeta R. Aildasani, founder of Mozzo.
 
7/ Inspirasi Tanpa Batas
“Barkan pikiran serta jemari Anda menggoreskan desain secara liar. Dari situ, Anda akan melihat inti sarinya,” saran desainer Malik Mustaram. Anda dapat mencari inspirasi dari perhelatan rumah mode besar dunia hingga berbagai produk seni, seperti lukisan dan patung.
 
8/ Jangan Jadi Plagiat
“Terinspirasi boleh saja, asalkan Anda tahu batasnya dan tidak menjiplak,” ujar Deden Siswanto. Desain busana bisa dipertanyakan orisinalitasnya jika terlalu banyak kesamaan dari segi potongan, detail, hingga styling. Jika Anda terinspirasi karya orang lain, maka desain itu harus muncul dengan ide baru yang khas Anda.
 
9/ Perkuat Jejaring
Kedekatan dengan klien, awak media, fashion stylist, public figure, buyer, supplier, dan sesama desainer sangat penting untuk mengembangkan wawasan. “Dari kedekatan ini Anda dapat bertemu klien baru, atau selebritas yang dapat menjadi media promosi Anda,” imbuh Septrina, yang aktif mem-branding bisnisnya di media sosial.
 
10/ Cari Ciri Khas
Karya desain yang memikat penikmat mode adalah desain yang berciri khas. Contohnya, Calvin Klein dengan potongan clean dan Issey Miyake dengan pleats-nya. Edward Hutabarat dengan wastra Indonesia bersiluet resort look, atau Lulu Lutfi Labibi dengan kain lurik dan model tumpuk bersiluet
Jepang.(f)

Artikel ini pernah dipublikasikan di www.femina.co.id

Baca Juga:
6 Inspirasi Gaya Kotak-Kotak dari Street Style Fashion Week

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article