Inovasi Produk

Jajanan Basah Naik Kelas Lewat Packaging

oleh Trifitria S. Nuragustina
 
Berbeda dengan cake dan kue kering, kue basah tradisional jarang mendapat sentuhan modern. Kue basah --banyak ditemui sebagai jajanan pasar-- dilewati begitu saja oleh anak muda karena tidak keluar dari cangkang lamanya. Cita rasanya sangat enak, tapi tidak memiliki branding sebagai added value.
 
Terkadang kemasan khusus yang tahan lama juga membuat kue-kue rumahan ini sulit tiba dalam kondisi yang baik di tangan penerima.
 
Tidak demikian dengan Jepang, kue-kue basah mereka dikenal dunia dan tampil all out dengan kemasan imut-imut menggemaskan. Greget diciptakan oleh bangsa yang sangat menaruh perhatian pada detail itu. Prancis juga punya kemasan kue basah lokal seperti macaron (French macaroon) yang ikonis. Merek Ladurée dan Pierre Hermé Paris misalnya, menciptakan boks cantik berseri. Setelah kue habis, boksnya jadi barang koleksi!
 
Karena berlangsung begitu lama, orang Indonesia tidak menyadari hilangnya peran lebih kue lokal. Berbondong-bondong, cake dan cookies ala Barat dikirim sebagai kado di hari-hari besar.
 
Namun, beberapa brand milik sejumlah foodpreneur mengubahnya. Berkat kesadaran branding, brand-brand ini mengubah situasi bisnis menjadi lebih cerah.
 


Jongkong MamaWin
Erwin, pengelola Jongkong MamaWin, memulai produknya berbekal keresahan yang sama. “Ada anggapan kue basah itu kurang keren, karena biasanya cuma ditemui di pasar dan tanpa kemasan apik,” ujarnya.

Pede dengan rasa kue jongkong buatan sang Ibu, Loe Djit Kwan, yang dinikmatinya sejak kecil, ia menggandeng ahli desain logo. Nama ‘MamaWin’ fiktif, diserap dari semua first name keluarganya yang berembel-embel ‘win’ (Erwin, Darwin, Wiwin. -Red). Logonya adalah karikatur sang ibu yang sedang memasak. Brand perception yang diinginkannya adalah produk rumahan yang dibuat sepenuh hati, dari bahan alami.

Baginya branding itu penting untuk menimbulkan minat anak muda. Dulu sang ibu skeptis karena sudah punya konotasi bahwa kue lokal itu barang murah. Ternyata, dengan kualitas rasa dan kemasan yang representatif, banyak pelanggan yang bahkan menjadikan Jongkong MamaWin sebagai oleh-oleh hingga ke luar negeri.




Lapis Ijo Pandan by Eddrian Tjhia

Setelah kue Lapis Ijo Pandan khas Cina Bangka ini memiliki penetrasi pasar yang baik, chef Eddrian Tjhia mengutuhkan branding dengan menggandeng Unique–Concept Design, untuk mendesain boks eksklusif. “Prosesnya tiga bulan sampai saya puas dengan kesan yang simpel dan elegan. Kue lokal jadi naik kelas,” ujarnya.
 

Foto: Dok. Instagram @tandurjkt
 
Tandur JKT

Nisa Quin, co-owner Tandur JKT, tidak ingin ketan durian kalah gengsi. Bersama Esach Rifky, kontestan MasterChef Indonesia - Season 2, Tandur Mini Bites yang semula dikemas dalam kardus konvensional, lekas dibenahi.

Pertengahan 2017, hadir packaging baru dengan hand lettering karya Letterhend Studio. “Harus instagrammable. Dari harga Rp44.000 per kotak, kini Rp55.000. Ganti packaging malah laris,” ucap alumnus sekolah perhotelan ini.




 Pisang Goreng Bu Nanik


Dua anak Nanik Soelistiowati yang bersekolah bisnis di Ontario dan bersekolah memasak di London kembali ke tanah air dan menyadari potensi local uniqueness ini. Keduanya menggelar kompetisi logo melalui Instagram dan mendapatkan logo karikatur sang ibu yang dinilai pas.

“Kata anak saya, logo foto udah enggak zaman,” ujar wanita Madiun ini. Pisang goreng dicetak agar ukurannya seragam dan dimasukkan ke dalam kantong kertas berlogo. Konsumen tidak lagi ragu mengirim gorengan sebagai bingkisan istimewa.
 


Kue Ijo–Fin’s Recipe

Kue Ijo–Fin’s Recipe disusun rapi dalam wadah plastik, disertai kelapa parut dan garpu terpisah. Informasi saran penyajian didesain dengan grafis modern. Merek ini menyasar pangsa pasar menengah ke atas.

Baca juga: 
DESAIN KEMASAN DAN LOGO MEMENGARUHI KESUKSESAN BISNIS
SURVEI NIELSEN: PRODUK LOKAL SANGAT DIGEMARI

 

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article