Inovasi Produk

Pebisnis Kuliner Perlu Tahu 7 Fakta Berbahaya Limbah Sedotan Plastik

oleh Faunda Liswijayanti

Dok: @tompumford Unsplash.com


Baru-baru ini Starbucks mengumumkan bahwa perusahaan kopi internasional ini akan menghentikan penggunaan sedotan plastik sekali pakai di seluruh gerainya mulai 2020. Sebagai gantinya, Starbucks akan menggunakan penutup minuman yang memungkinkan pelanggan meminum kopi tanpa harus menggunakan sedotan.

Belakangan gerakan stop menggunakan sedotan plastik memang marak dilakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tidak hanya Starbuck, sebuah brand fashion yang biasa menggunakan sibori, batik tulis dan tenun dalam desainnya, NES, juga menggalakan kampanye stop penggunaan sedotan plastik lewat program Jakarta Tanpa Sedotan (JTS).

Lantas, mengapa kita harus semakin bijak menggunakan sedotan plastik dan mencegah semakin banyak limbah sampah sedotan yang terbuang ke laut? Ini faktanya!

1/ Sedotan plastik masuk ke dalam 10 jenis barang yang ditemukan dalam kategori sampah di pantai dan lautan dunia. Bentuk sedotan yang kecil dan ringan membuat sampah ini jarang dipungut pemulung karena dianggap tidak memberikan keuntungan. Ujung-ujungnya, sedotan akan terbuang sia-sia, dan akhirnya menumpuk di lautan.

2/ Riset Jambeck di 2015 menyebutkan bahwa Indonesia ada di peringkat kedua dunia sebagai penghasil sampah plastik ke laut. Jumlahnya mencapai sebesar 1,29 juta ton per tahun atau setara dengan 215.000 gajah jantan Afrika dewasa. Wow!

3/ Menurut data LSM Divers Clean Action (DCA), pemakaian sedotan di Indonesia mencapai 93.244.847 batang, berasal dari restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya. Jumlah konsumsi sedotan per hari ini jika disusun memanjang, panjangnya akan mencapai 16.784 km atau setara dengan jarak Jakarta – Mexico City. Jika diakumulasi seminggu, panjangnya bisa mencapai 117.449 km atau setara dengan jarak 3 kali keliling bumi.

4/ Walaupun sedotan plastik panjangnya hanya sekitar 10 cm, namun perlu 500 tahun lamanya agar sampah plastik tersebut bisa terurai secara alami. Karena sedotan terbuat dari polipropilena yang didesain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk dapat hancur dan terurai.

5/ Menurut ilmuwan dan aktivis lingkungan, Marcus Eriksen, yang juga pendiri LSM 5 Greys, sedotan plastik dapat berbahaya sebab alat minum ini ketika di alam akan berubah menjadi mikroplastik. Mikroplastik yang terlepas di lautan akan menjadi makanan bagi ikan-ikan (karena dianggap sebagai plankton). Jika ikan tersebut kemudian dikonsumsi oleh manusia maka akan memberikan efek buruk bagi kesehatan manusia sendiri.

6/ Data DCA selama setahun kebelakang dengan melakukan sampling sampah di bawah laut dan pantai Kepulauan Seribu, rata-rata terdapat 16 kg sampah tiap 100 m2 perairan laut sekitaran Pulau Pramuka di kedalaman 5-13 m. Selain itu ditemukan rata-rata 18 kg sampah di tiap 100 m garis pantai yang ada. Setelah digabungkan, ternyata jumlah sampah sedotan mencapai 2,66 persen dari total lebih dari 300 kg sampah yang terangkut dan terhitung dengan jelas.

7/ Starbucks menyebutkan dengan mengurangi satu miliar sedotan plastik yang dibuang per tahun diperkirakan akan menyelamatkan sebanyak 100.000 mamalia, khususnya yang hidup di laut dan pantai, yang terancam mati karena menelan atau terjerat limbah plastik. (f)

Baca Juga: 

MEMANFAATKAN SAMPAH KAYU DI LAUT JADI KARYA SENI?
IRENE HOLLE, MENYULAP SAMPAH JADI LABA (1)
IRENE HOLLE, MENYULAP SAMPAH JADI LABA (2)?







 

 

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article