Inovasi Produk

Sejarah Street Food: Berawal Dari Gerobak, Lain Tempat Lain Primadona

oleh Trifitria S. Nuragustina

Foto: Pexels

Sesuai namanya, street food memang berawal dari makanan yang dijual di gerobak-gerobak di pinggir jalan. Pilihan makanan biasanya berupa makanan tradisional dengan harga yang pas di kantong.

Ditelusuri lebih jauh, street food sebetulnya tak sekadar jajanan pinggir jalan atau berupa makanan tradisional. Banyak pihak merasa bahwa street food bisa bermakna comfort food. Artinya, jajanan itu bisa memberikan rasa nyaman dan membangkitkan romantisisme nostalgia saat disantap.

Hal ini diamini KF Seetoh, pendiri Makansutra, sebuah komunitas kuliner di Singapura. Menurutnya, street food adalah budaya yang tidak bisa dipisahkan dari comfort food.

“Bentuknya bisa berupa sajian tradisional atau kontemporer yang dikemas ke dalam sebuah sajian yang bisa dinikmati semua orang. Dan, yang pasti street food harus bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga terjangkau, tanpa mengorbankan kualitas dan cita rasa yang jempolan.”

Tidak adanya regulasi pasti membuat jumlah pedagang kaki lima di  tiap negara membengkak dan menimbulkan efek domino. Dari kebersihan jalan, tata kota, hingga konsistensi rasa street food itu sendiri.

Pada tahun 1950-an, ada ribuan hawker di seluruh Singapura (dan tentu jauh sebelumnya, saat Singapura belum pecah dari Malaysia). Adalah Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura, yang disebut bertangan besi untuk menertibkan mereka dari jalanan. Kala itu, penjaja harus kejar-kejaran dengan aparat. Tujuan penertiban ini mulanya agar sungai-sungai di kala itu tidak bau dan jalanan rapi jali.

Food culture multikultur ini terselamtkan oleh program pembangunan pujasera –kala itu disebut hawker centre- di tiap wilayah. “Relokasi dilakukan  besar-besaran pada tahun 1971,”  sambung Daniel Wang, mantan Direktur Jenderal Public Health di Singapura. Pedagang yang awalnya menolak karena khawatir tidak bisa menjual makanan dengan harga murah lagi, justru mendapat keuntungan maksimal dengan banyaknya wisatawan yang makan.

LAIN TEMPAT, LAIN PRIMADONA
Pusat jajanan kaki lima yang pertama dibuka di Singapura adalah Newton Circus, tak jauh dari tempat populer Orchard Road. Disusul oleh Tiong Bahru dan banyak tempat lain. Serunya, tiap hawker center punya jenis makanan yang jadi primadona dan diburu banyak orang. Sebutlah Tiong Bahru yang menjadi tempat lahirnya carrot cake, atau Bukit Timah yang ramai oleh pengunjung yang mencari jian bo shui kueh (kue lobak ber-topping sambal).

Dignity Kitchen turut menjadi hawker center yang banyak disorot dan dikunjungi. Berbeda dari area jajan lain, tempat yang didirikan oleh pengusaha ternama Koh Seng Choon pada tahun 2010 ini khusus disediakan untuk pedagang yang memiliki kekurangan jasmani (tunarungu, tunanetra, atau tunadaksa).

Konon, ini merupakan wujud rasa terima kasihnya kepada kelompok masyarakat itu. Tak tanggung-tanggung, Choon menyediakan alat khusus untuk mengakomodasi para pedagangnya itu. Makanan yang dijual sangat beragam, yang populer bak choor mee (mi ayam), kuih (jajan pasar), dan chicken rice.

Untuk kawasan yang lebih modern bisa dinikmati di Singapore Food Trail di kompleks Singapore Flyer. Dekorasinya bergaya vintage dan yang bergabung di sana adalah pedagang legendaris, mirip dengan pujasera Eat&Eat milik Iwan Tjandra di Jakarta. (f)

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article