Kewirausahaan

Desainer Aksesori Pembukaan Asian Games 2018 Rinaldy A Yunardi, Tanpa Bekal Ilmu Formal Berguru Langsung Pada Desainer Senior

oleh Naomi Jayalaksana

Foto: Dachri Megantara

Dua puluh dua tahun Rinaldy A. Yunardi menekuni karier sebagai desainer aksesori. Bukan waktu yang sedikit, dan penuh dengan perjuangan panjang yang tak jarang membuatnya nyaris menyerah. Tanpa bekal formal pendidikan fashion, ia melengkapi talenta seni, ketajaman intuisi, dan keterampilannya dalam berinovasi dengan berguru langsung kepada ahlinya.
 
“Guru-guru saya kebanyakan adalah para desainer. Saya banyak belajar dari Didi Budiardjo, Sebastian Gunawan, Widhi Budimulia, dan Susan Budihardjo. Kepada mereka ini saya belajar taste dan style. Bagaimana saya bisa melengkapi dan menyempurnakan karya mereka dengan karya saya,” ungkap Rinaldy.
 
Apa yang bisa membuatnya terus berkarya dengan aliran ide yang mengalir bagai mata air? Mendengar ini, Rinaldy tersenyum, dan dengan bijak ia menjawab, bahwa seseorang harusnya tidak membiarkan hidup mereka mengalir begitu saja, tanpa arah yang jelas. Pengalaman hidup mengajarkannya bahwa sangat penting bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri dengan baik.
 
“Setelah kita mengenal apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan kita, mulailah untuk mencari apa yang kita cintai dalam hidup ini, sesuatu yang membuat kita bersedia memberikan waktu kita dengan senang hati. Lakukanlah itu sebelum terlambat atau kehabisan waktu. Apa yang kita rasakan di hati, apa yang kita inginkan, apa yang kita bisa. Ini modal dasarnya,” jelas pria yang identik dengan busana warna hitam ini.
 
Sukses bertahan di bisnis aksesori dan merambah pasar mancanegara tidak berarti membuatnya selalu percaya diri. Keraguan itu bisa muncul kapan saja, seperti saat ia harus menghasilkan karya bagi para superstar, yang perlu mendapat perlakuan khusus. Namun, tiap kali keraguan ini muncul, ia punya mantra sendiri, yaitu: berkarya, berkarya, berkarya, dan lakukan dengan hati.
 
Ketekunan untuk terus berkarya inilah yang akan melatih otaknya untuk terus menggulirkan ide-ide baru. Sementara itu, cinta akan menjadi energi abadi yang selalu berhasil membuatnya jatuh hati pada profesi yang sama berulang kali. “Kalau masih ragu, saya akan melihat kembali karya-karya yang pernah saya buat, dan bagaimana proses yang harus saya lalui untuk menghasilkan semua itu. Cara ini selalu berhasil mengembalikan fokus saya dalm berkarya,” ungkapnya.
 
Energi cinta dan ketekunan ini pula yang mengantarkan sebuah kepercayaan besar padanya untuk menjadi salah satu desainer yang bertanggung jawab dalam acara pembukaan Asian Games 2018. Mengambil tema Energy of Asia, Rinaldy membungkus karyanya dalam tiga segmen. Pertama, Earth, yang menceritakan tentang kekayaan bumi Indonesia. Segmen kedua adalah Fire, yang menggambarkan kobaran semangat untuk memenangkan Indonesia. Sementara segmen ketiga adalah Energy, bahwa Indonesia memiliki energi positif yang tidak gampang terpecah-belah oleh berbagai tantangan.
 
“Jika selama ini saya mendapat kehormatan membawa nama Indonesia ke dunia internasional, melalui Asian Games ini saya bisa berkarya untuk negara saya sendiri. Ini merupakan kebanggaan besar bagi saya,” ungkap Rinaldy.
 
Meski tak pernah menggembar-gemborkan kecintaannya pada Indonesia, rasa nasionalisme Rinaldy sangat besar. Apabila kebanyakan orang mengejar kesempatan untuk sukses di negeri orang, ia justru menolak tawaran hijrah ke negeri orang demi mengejar kesuksesan. Seperti saat ia mendapat tawaran dari sebuah stasiun televisi di Shanghai, Cina, untuk menjadi konsultan penampilan bagi salah satu reality show kompetisi menyanyi mereka.
 
“Saya lahir dan tinggal di Indonesia. Saya cinta Indonesia. Saya bisa berkarya lebih karena terinspirasi oleh kekayaan budaya Indonesia yang tidak terbatas itu. Saya merasa nyaman berkarya di Indonesia. Dalam dunia seni, perasaan nyaman dan bahagia ini sangat penting dalam keberlanjutan karya,” ungkap Rinaldy, membumi.
 
Untuk Indonesia pula, Rinaldy masih harus mengerjakan impiannya yang lain, membuat museum fashion Indonesia. Museum ini nantinya tidak hanya menyimpan seluruh karyanya, tapi juga karya-karya desainer lain, dan perkembangan fashion Indonesia dari masa ke masa, baik kekayaan fashion tradisional maupun kontemporer.
 
“Keberadaan museum ini penting sebagai referensi generasi Indonesia di masa depan. Agar mereka mengenal dan mencintai akar budayanya sendiri. Museum ini juga bisa menjadi referensi yang valid dalam berkarya. Sebab, kita harus memahami perjalanan sejarah suatu karya budaya untuk bisa menghasilkan inovasi,” jelas Rinaldy.
 
Impiannya ini masih terbentur pada pengumpulan bahan dan referensi tentang budaya asli tradisional dari masing-masing daerah yang membutuhkan investasi besar. Namun, ia tidak ingin berkecil hati. Ia akan tetap mengawal impiannya ini dengan terus berkarya. “Hidup saya tidak berhenti dari berkarya. Waktu saya untuk berkarya, menyempurnakan hidup saya dengan karya,” ungkapnya, di penghujung wawancara. (f)

Baca Juga:
Tulola Gemas Pembajak
Inspirasi Aksesori dari Madonna hingga Rihanna di Red Carpet Met Gala 2018
Sambut Asian Games 2018, Torajamelo Pamer Tenun Kece di Asian Textiles Exhibition

 

Naomi Jayalaksana
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article