Kewirausahaan

5 Kiat Chic & Darling Bertahan Selama Lima Tahun di Bisnis Home Decor

oleh Faunda Liswijayanti

Dok: Chic & Darling

Berangkat dari keinginan untuk menciptakan rumah yang nyaman bagi keluarga kecilnya, tahun 2013, Kania Annisa Anggiani membuat bantal-bantal cantik untuk ruang makan. Keisengan yang kemudian berkembang menjadi bisnis home decor dengan label Chic & Darling. Produknya kala itu tak hanya bantal, tapi juga runner untuk meja makan dengan bahan katun.
 
Setahun menjalankan bisnisnya, Chic & Darling bisa menjual hingga 500 bantal dalam sebulan. Strategi penjualannya dari pameran ke pameran dan secara daring lewat Instagram @Chicanddarling dan www.chicanddarling.com. Hingga seiring waktu bisnisnya terus berkembang. “Saya tidak ingin hanya bergantung pada satu produk. Kalau mau maju, harus berani eksplorasi lebih banyak hal,” ungkap Kania, ketika ditemui femina tahun lalu.
 
Setahun berlalu, bisnis Chic & Darling terus meningkat, dengan sebuah kantor baru dan jumlah karyawan yang membesar. Konsep bisnisnya pun tak hanya memenuhi kebutuhan konsumen, tapi sudah menangani perusahaan-perusahaan besar yang membutuhkan produk dekorasi dari Chic & Darling.
 
Di usianya yang genap lima tahun, Kania membuat banyak penyegaran pada bisnisnya ini. “Ibu saya selalu mengingatkan dalam hal apapun – ulang tahun diri sendiri, keluarga atau perayaan lainnya - makna lima tahun dan kelipatan lima itu spesial. Milestone kita untuk membuat langkah ke depan,” ungkap Kania, disela-sela syukurang lima tahun Chic & Darling.
 
Menandakan lima tahun perjalanannya, dari tanggal 15 hingga 18 Maret 2018, bertempat di Rucy’s, Blok S, Senopati, Jakarta Selatan, Chic & Darling membuka pop up store berkolaborasi dengan beberapa produk lokal lain. Tidak hanya itu, Chic & Darling juga meluncurkan koleksi terbaru kolaborasi dengan Abenk Alter (seniman) serta website baru yang lebih ramah pengguna.  
 

Dok: Chic & Darling
 
 
Lantas apa yang menjadi kiat sukses Kania membesarkan Chic & Darling hingga membesar seperti sekarang ini?  
 
1/ Pentingnya support system
Memulai lima tahun lalu, Kania seperti berjalan sendiri  tanpa support dari siapapun. “One man show,” katanya. Dengan modal Rp500 ribu dan sebuah mesin jahit pemberian sang mertua, Kania memproduksi sendiri produk pertama Chic & Darling. Maka, ketika akhirnya ia memiliki orang-orang yang menyukai karyanya, termasuk juga bertemu para pebisnis muda lainnya yang seperjuangan, menjadi amunisi tersendiri bagi Kania untuk bertahan dan menjalankan bisnisnya.

2/ Jangan takut berinovasi pada produk
Dalam memproduksi produk-produk Chic & Darling, Kania selalu membuat prototype yang bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga akhirnya produk tersebut benar-benar dijual ke pasar. Baginya, tak perlu takut melakukan try & error karena dengan cara ini, ia jadi banyak belajar terutama soal proses pembuatan produknya. Dari kegemarannya berinovasi ini, sekarang Chic & Darling telah memiliki sekitar 30 kategori produk, dari bantal, syal, tas, pouch, hingga lini fashion. Tanpa menghilangkan filosofi Chic & Darling sebagai produk home base, kini Chic & Darling telah meluas menjadi produk Home, Daily, & Ready to Wear.
 
3/ Kepuasan konsumen yang utama
“Chic & Darling adalah bisnis yang sangat customer base, penjualan tergantung pada permintaan customer,” katanya. Sehingga penting bagi Chic & Darling untuk selalu memuaskan keinginan konsumen, tidak hanya soal produk, tapi juga pelayanan. Dengan menghadirkan website baru, Chic & Darling ingin memberikan service yang baik, sekaligus pengalaman yang lebih menyenangkan untuk konsumen. Apalagi website menjadi satu-satunya media yang menghubungkan Chic & Darling dengan konsumennya.
 
4/ Terbuka untuk kolaborasi
Saat ini tak ada bisnis yang bisa berjalan sendiri tanpa kolaborasi. Menurut Kania, kolaborasi bisa sangat luas dari kolaborasi dengan produk lain, hingga seniman. Yang perlu diperhatikan adalah ketika berkolaborasi, tidak justru menghilangkan benang merah bisnis itu sendiri. Yang terbaru, Chic & Darling berkolaborasi dengan Abenx untuk desain produk terbaru yang terinspirasi dari lirik lagu ciptaan Abenx. Bahkan penjualan syal dari kolaborasi ini 40%-nya akan disumbangkan untuk membantu anak-anak pasien kanker.
 
5/ Believe in Dream
Menetapkan mimpi untuk bisnis ke depan, buat keinginan-keinginan baru yang ingin dicapai. Dengan demikian akan selalu ada tantangan untuk tumbuh lebih besar. “Tapi jangan lupa untuk melihat kembali tujuan awal ketika memulai usaha. Karena dari awal bisnis ini dimulai dari rumah dan berhubungan dengan keluarga, maka prinsip saya bisnis ini harus tumbuh sejalan dengan mimpi keluarga saya juga,” tutup Kania. (f)

Baca Juga:
Meraup Untung dari Bersih-Bersih Rumah
Sentuhan Hati Mojo Indonesia
 

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article