Kewirausahaan

Kiat Mencari Mitra Bisnis: Temukan Kesamaan Visi dan Minat

oleh Wanita Wirausaha Femina

Foto: 123RF
 
Sama seperti memilih jodoh, yang tidak bisa hanya sekadar tampan atau kaya, dalam memilih partner bisnis pun Anda tidak bisa memilih hanya berdasarkan kedekatan hubungan atau besarnya modal yang ia miliki. Tidak semua orang bisa menjadi partner bisnis yang baik. Ada yang cocok sebagai teman atau pasangan, tapi tidak klik sebagai teman usaha. Keliru dalam  memilih rekan bisnis akan menuai masalah di belakang hari. Lantas, bagaimana memilih partner bisnis yang tepat? Simak pengalaman Helga Angelina Tjahjadi (26), pemilik Burgreens, dan Farah Spears (35), pemilik Spa & Beyond, dalam memilih partner bisnis mereka.
 
Salah satu alasan Helga Angelina Tjahyadi atau disapa Helga memilih Max Madian, seorang aktivis lingkungan, sebagai pasangan bisnisnya adalah adanya kesamaan minat. Helga dan Max  sama-sama vegetarian dan pencinta makanan sehat. Helga senang makan, Max pandai memasak, klop. Berawal dari diskusi-diskusi tentang lingkungan yang ramah, pola hidup sehat yang ramah lingkungan, tercetuslah ide untuk membuat Burgreens, singkatan dari burger green, yang diluncurkan 3 tahun lalu.

“Saya dan Max, yang sekarang menjadi suami saya, memiliki visi yang sama, yaitu ingin menularkan hidup sehat, ramah lingkungan, sekaligus kami ingin membangun social business. Kami tidak hanya bisnis, tetapi berupaya menjaga lingkungan dan mengembangkan perekonomian masyarakat,” jelas Helga.  
 

Foto: Dok. Pribadi Max & Helga

Kesamaan minat juga jadi pertimbangan Farah Spears dalam memilih partner bisnis yang juga sahabatnya, Fauzia Belfast. Keduanya begitu jatuh cinta pada beragam perawatan kecantikan, khususnya mandi tradisional ala Maroko.

“Saya senang melihat kulit wanita Maroko saat di sana yang begitu glowing, cerah, dan sehat. Karena itu, saya belajar tentang Moroccan bath. Ketika pulang ke Indonesia, saya melihat peluang untuk membuka bisnis ini. Akhirnya saya mengajak sahabat saya untuk membuka Spa & Beyond di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan,” tutur Farah.

Namun, keduanya juga menyatakan bahwa kesamaan visi bukan satu-satunya alasan dalam memilih partner bisnis. Ada hal-hal lain yang juga tak kalah penting. Kunci hubungan yang baik adalah komunikasi. Bila komunikasi yang dijalin antara Anda dengan partner cukup buruk, jangan harap hubungan bisnis dapat berjalan baik. Ada baiknya partner bisnis memiliki sikap keterbukaan dan profesionalisme dalam berbisnis.

“Meski partner bisnis saya adalah suami sendiri, kami berusaha bersikap profesional. Urusan rumah tangga enggak perlu dibawa ke bisnis, begitu juga sebaliknya. Kalau pekerjaan saya tidak beres, dia tidak akan ragu untuk mengingatkan atau menegur saya, begitu juga sebaliknya. Profesional saja, enggak perlu dimasukkan ke hati,” kata Helga.
 

Farah juga mengatakan bahwa partner bisnis sebaiknya mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing, lalu buatlah perjanjian yang jelas mengenai hak dan tanggung jawab masing-masing. “Kami berbagi tugas. Saya mengurus bagian administrasi, keuangan, promosi, dan marketing.  Selain itu, saya juga bertugas untuk pengadaan material yang digunakan untuk spa yang diimpor dari Maroko dan India. Saya harus memastikan bahan-bahan tersebut selalu tersedia,” ujar Farah.

Sementara, tugas Fauzia adalah memberikan training. Pembagian ini dilandasi fakta bahwa Fauzia masih bekerja sebagai pramugari dan memang mempunyai sertifikat terapis. Saat tidak bertugas, Fauzia tak segan turun langsung menangani pelanggannya. “Fauzia juga bertanggung jawab untuk rekrutmen karyawan,” ungkap Farah. (f)

Baca juga:
Tiru Kunci Sukses La Maison Patisserie yang Berhasil Menjual Ribuan Macaron dalam Hitungan Jam
Permainan Tekstur Jadi Andalan Kreasi Menu Kafe Sehat Berrywell Milik Kareyca Moeloek
Seri Memahami Konsumen Millennial: Makanan yang Nyeleneh, yang Dicari
Seri Memahami Konsumen Millennial: Pengaruh Tren Dari Negara Maju

Ika Nurul Syifa

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article