Kewirausahaan

Sulit Merintis Bisnis, Apa Saran Pakar?

oleh Ficky Yusrini

Dok: unsplash @belart84

Beberapa tahun silam, Nur Ainy Shaesarita (34) memutuskan untuk berhenti bekerja setelah anaknya menginjak usia 1 tahun. Tak ingin hanya diam berpangku tangan di rumah, untuk mengisi kegiatan, ia menjadi reseller produk fashion. Ia juga menjajal kemampuannya untuk mendesain tas, lalu memesannya pada perajin untuk membuatkan tas dari desain yang ia inginkan.
 
Ternyata, keinginannya disanggupi oleh perajin. Dengan semangat, ia pun memesan dalam jumlah satu lusin dari motif yang ia buat sendiri. Jadilah tote bag itu ia beri merek ‘Someah’, dari Bahasa Sunda yang artinya ramah tamah, yang kemudian ia tekuni secara serius.
 
“Tas yang awalnya selusin itu cepat laku. Uangnya saya putar lagi untuk produksi berikutnya,” ujar wanita yang akrab disapa Ainy. Terpikir untuk lebih menguatkan karakter produk, Ainy pun mengaitkan desain motifnya dengan ciri khas Bandung, kota tempat tinggalnya. “Konsepnya adalah ‘limited bag from Bandung’. Untuk satu desain, kami hanya membuat 10 tas,” kata Ainy, yang di luar bisnis, juga dikenal sebagai founder komunitas fotografi di Instagram, yakni Motogenik.
 
Selain Someah yang sudah berjalan sejak tahun 2013, Ainy juga memiliki lini kedua yang sifatnya lebih massal, yakni merek Sampurasun. Tas kanvas printing dengan produksi yang lebih massal. Dari dua merek itu, kini setidaknya setiap bulan Ainy memproduksi 260-300 tas.
 
Ainy mengakui, tantangan di dunia bisnis yang ia hadapi tidak mudah. Ketika mereknya mulai dikenal, ia menghadapi pembajakan dari perajinnya sendiri. Belajar dari situ, ia pun berencana untuk punya pekerja sendiri. Di sisi lain, ia juga masih merasa perlu menambah pengetahuan untuk meningkatkan kualitas produk. Bagaimana mendapatkan bahan yang bagus, namun harga jualnya bisa murah. Dari sisi e-commerce, produknya juga belum dijual di lapak belanja online. Penjualan online selama ini masih sebatas di akun Instagram yang ia kelola sendiri.
 
Untuk bisa sukses di dunia bisnis, Mawar Sheila, konsultan di Executive Learning Institute Prasetiya Mulya, menyebut era yang sekarang sebagai VUCA atau kepanjangan dari Volatile, Uncertainty, Complex, dan Ambiguity. Karena itu, ada baiknya membekali diri dengan amunisi skill yang tepat.
 
Ia menyebutkan ada tiga kompetensi utama yang harus dimiliki oleh setiap individu, antara lain, entrepreneurship atau kewirausahaan, kolaboratif, dan agile. Kemampuan kewirausahaan harus dimiliki oleh siapa pun, tak hanya mereka yang terjun sebagai pebisnis saja.
Zaman sekarang, orang tak bisa bergerak sendiri. Untuk itu, ia harus kolaboratif, mampu berkolaborasi dengan siapa pun. “Seseorang juga harus gesit. Tidak boleh kaku. Mudah menyesuaikan diri, bisa fleksibel mengubah rencana,” tukas Mawar. Ia menggarisbawahi, agar seorang wirausaha mampu berkompetisi ke depannya, ia perlu menguasai ketiga skill tersebut. (f)

Baca Juga: 
CARA MENEMUKAN PASSION ANDA UNTUK MEMULAI BISNIS
LAKUKAN INI SAAT BISNIS ANDA GAGAL TERUS
BURNOUT, PENYAKIT YANG MENGHANTUI ENTREPRENEUR





 

 

Ficky Yusrini
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article