Kewirausahaan

UKM Indonesia: Saatnya ‘Berlari’ Lebih Cepat di 2017

oleh Cempaka Fajriningtyas

Foto: Fotosearch
 
Beberapa tahun belakangan ini, startup Indonesia berada di atas angin. Kehadiran mereka dianggap penting. Bukan hanya sebagai generasi muda yang berkarya, tetapi juga sebagai duta investasi di kancah internasional, sekaligus membangun ekonomi kreatif dalam negeri. Bahkan, data laporan investasi per kuartal yang dirangkum oleh Tech in Asia menyatakan, sebanyak 28 startup di Indonesia telah mendatangkan investasi senilai Rp2,09 triliun pada kuartal 2 tahun 2016. Lantas, bagaimana peluang startup Indonesia untuk terus berkembang pada tahun 2017?
                 Untuk menjawabnya, Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia; Bullit Sesariza, Kepala Bagian Akademis Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI); Andi Boediman, Managing Partner Ideosource – incubator venture capital, dan Karyana Hutomo, ST. MM., Binus Incubator Head of Program – Global Employability and Entrepreneurship BINUS University, berbagi ‘penerawangan’ mereka tentang tren bisnis di masa depan.
 
Bank Indonesia memprediksi, perekonomian Indonesia pada tahun 2017 akan tetap kondusif, meski tidak sekuat pada tahun 2016. Bagaimana kondisi ini akan memengaruhi perkembangan startup di Indonesia?
Ricky Pesik (RP):
Industri startup di Indonesia akan tetap atraktif karena masih banyak pasar dan sektor yang bisa digali. Barriers to entry untuk menjadi pelaku startup di Indonesia juga masih sangat minim. Tidak hanya dari sektor digital, tetapi juga bisa mengembangkan sektor konvensional ke dalam bentuk digital. Misal, sektor travel seperti penjualan tiket bus antarkota yang selama ini dijual secara tatap muka, bisa diperantarai oleh teknologi.   
Bullit Sesariza (BS):
Kalau merujuk ke pasar global, sektor edukasi dan kesehatan sudah sangat berkembang, sehingga ada kemungkinan beberapa startup di Indonesia akan terinspirasi oleh hal itu. Namun, agak sulit memprediksi perkembangan sektor startup dalam negeri karena negara kita sangat unik dan memiliki beragam budaya lokal. Makin banyak sektor yang bisa masuk ke arah teknologi, di luar para pemain besar yang sudah ada sekarang, seperti transportasi dan teknologi finansial (fintech).
Andi Boediman (AB):
Fintech akan menjadi sektor favorit yang mendapat banyak perhatian dan investasi. Potensi peningkatan industri finansial akan sangat besar karena ada beberapa sektor yang punya peluang besar, yaitu financing, insurance, dan banking. Selain itu, nilai investasinya masih tidak terlalu besar, jika dibandingkan sektor lain sehingga menarik bagi investor.
                 Untuk sektor e-commerce, justru akan mendapat banyak perhatian dari pemerintah. Dari sisi regulasi, pemerintah harus adaptif terhadap kebutuhan masyarakat umum. Industri pendukung e-commerce, seperti logistik atau fulfillment, dan payment juga akan ikut berkembang. Merger dan konsolidasi akan menjadi pilihan bagi pemain e-commerce untuk menggalang kekuatan yang lebih besar dan mendapatkan market share di pasar yang sudah ramai ini. Sementara itu, pendanaan e-commerce akan didominasi oleh pemain besar dan fokus  pada profitabilitas. Profit menjadi faktor yang sangat krusial.
Karyana Hutomo (KH):
Dilihat dari beberapa kebijakan pemerintah yang tengah memperbaiki kualitas transportasi umum, menurut saya bisa jadi dampaknya akan memengaruhi startup di sektor transportasi. Sebab, jika transportasi umum sudah  makin baik, masyarakat yang tadinya setia menggunakan sistem transportasi online jadi punya alternatif kendaraan. Perubahan-perubahan seperti ini jadi tantangan untuk startup yang sudah ada.
 
Apa saja tantangan untuk para founder startup pada tahun 2017?
RP: Penduduk Indonesia hampir 250 juta orang. Kebanyakan berada di rentang usia produktif, dan pertumbuhan kelas ekonomi menengah berkembang pesat. Mereka rata-rata sudah aktif menggunakan teknologi digital, meski belum semuanya fasih. Tantangannya, bagaimana founder startup bisa memaksimalkan dan memanfaatkan potensi pasar itu, karena sebenarnya potensi itu saat ini belum tergarap maksimal.
BS: Ekosistem startup di Indonesia masih awal banget, masih terbangun mulai dari pendanaan, teknologi, hingga infrastruktur. Jadi, meski kelihatannya masih banyak peluang, tetap saja teman-teman yang membangun startup di Indonesia harus siap ‘maraton’ karena memang talent yang siap terjun membantu masih sangat kurang. Selain itu, pola pikir untuk siap terjun total membangun startup dalam jangka panjang juga menjadi tantangan yang harus dihadapi teman-teman startup.
AB: Akses pendanaan akan lebih terbatas. Venture capital akan lebih fokus pada industri berkembang yang potensinya besar, bukan industri yang sudah mapan. Jadi, modal ventura akan masuk ke sektor-sektor baru, seperti big data, analytics, dan Internet of Things (IoT). Sementara, strategic investor atau private equity akan mencari model bisnis yang sudah mapan dan berulang. Mereka akan berinvestasi di bisnis yang sudah jelas bentuknya sehingga lebih aman.
KH: Beberapa sektor sudah terlalu ramai, terutama ­e-commerce. Jadi, salah satu tantangan penting adalah membuat diferensiasi produk di antara pasar yang sudah ramai itu. Jangan hanya sibuk berusaha menjadi pemain nomor satu saja.
 
Menurut riset terbaru Google dan Temasek, Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara dengan jumlah startup terbanyak, sekitar 2.033. Apa kekuatan startup lokal?
RP: Indonesia sangat kaya dengan budaya yang menciptakan isu sosial. Kekuatan startup lokal adalah kemampuan founder-nya untuk mengenali isu-isu domestik dan mengubahnya jadi ide atau inovasi, sebagai solusi bagi isu tersebut. Salah satu contohnya, Nadiem Makarim, lewat Gojek yang bisa menawarkan solusi bagi masalah perekonomian dan transportasi sekaligus.
BS: Semangat kewirausahaan yang tinggi dan dukungan pelatihan dari banyak institusi pendidikan sejak mereka masih kuliah.
AB & KH: Pemahaman startup mengenai kebutuhan pasar lokal dan masalah-masalah yang menyertai di dalamnya.
 
Apa kelemahan dari startup lokal?
RP: Populasi penduduk Indonesia, yang sebenarnya berpotensi besar sebagai konsumen, belum dapat dikapitalisasikan dengan maksimal oleh startup lokal. Para founder  umumnya  masih harus mempertajam kemampuan manajemen mereka karena membangun startup bukanlah sekadar ide di atas kertas.
BS: Masih perlu meningkatkan daya tahan agar tahan banting untuk terjun total membangun startup dalam jangka panjang.
AB: Startup tidak bisa dibangun hanya dengan ide. Para founder startup lokal masih lemah dalam pola pikir analitis dan kapabilitas untuk membangun startup yang scalable.      
KH: Belum melihat masalah di industri secara holistik. Kita tidak bisa ‘bulat-bulat’ menelan mimpi bahwa Indonesia bisa menjadi Silicon Valley karena isu lokal tentu sangat berbeda dengan isu global, begitu juga dengan kondisi dan ekosistem bisnisnya. (f)

 

Cempaka Fajriningtyas
-
Share This :

Trending

Related Article