Kisah Sukses

Achmad Zacky & Diajeng Lestari, Merawat Cinta dan Membesarkan e-commerce Bersama

oleh Naomi Jayalaksana

Diajeng Lestari menemukan sosok aktivis "Minke" dalam novel Pramoedya pada diri Zaky/Foto: Dok. Pribadi
 

Ketika banyak kisah percintaan mengumbar romantisme klasik yang penuh kata cinta, cerita Achmad Zacky (31) dan Diajeng Lestari (32) adalah sebuah anomali. Sama-sama berkecimpung di dunia pergerakan mahasiswa, obrolan kencan mereka dipenuhi oleh mimpi idealis membangun ekonomi dengan cara kreatif untuk memberikan yang terbaik bagi komunitas dan negara. Di ruang pertemuan antara idealisme dan kreatif inilah cinta mereka berpadu.

Di antara seribuan mahasiswa yang hadir di Forum Muda Indonesia angkatan 2008, tatapan Zacky terpaut hanya pada satu wajah: seorang wanita berperawakan mungil yang terlihat lincah dan fokus mengurusi segala sesuatu. Wanita itu adalah Ajeng, mahasiswi jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
 
Sayang, pandang kagum Zacky tak sempat dirasakan oleh Ajeng yang sibuk sebagai panitia. Malang pula bagi Zacky, karena tak satu pun dari rekan yang ditanyainya kenal dengan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya itu. Sampai beberapa bulan kemudian, pertalian nasib menautkan takdir mereka.
 
Saat itu Ajeng sedang mencari informasi tentang ITB untuk Ali, adiknya, yang masuk melalui program beasiswa. Seorang teman menyarankan untuk mencari tahu dari peserta FIM asal ITB. Saat itulah nama Zacky, muncul di layar laman Facebook Forum Indonesia Muda. Sejak saat itu satu per satu pertalian nasib mulai mendekatkan mereka berdua.
 
“Adik saya sempat sakit selama karantina bagi penerima beasiswa di Bandung. Posisi saya waktu itu sudah bekerja di Jakarta. Jadi, selama itu Zacky yang rajin menengok dan membelikan obat untuk adik saya. Padahal, waktu itu Zacky sedang ujian juga. Baik dan bertanggung jawab sekali orangnya,” ungkap Ajeng, kagum.
 
Ingatan pada awal pertemuan ini pun ikut menggelitik Zacky. Tak pernah menyangka, nasib kembali mempertemukannya dengan sang pujaan hati. Lebih dari itu, ia bahkan menjadi pria yang dipilih Ajeng untuk menjadi pasangan hidupnya.
 
“Ajeng cantik, jenis people person yang populer dan cukup banyak diperebutkan para pria. Alhamdulillah kalau saya dilirik oleh Ajeng, haha... ha...,ungkap Zacky, yang sempat ‘stalking’ informasi hingga ke teman-teman SMA Ajeng.
 
Namun, lebih dari sekadar urusan fisik dan romantika, keduanya jatuh hati pada kesamaan visi hidup untuk menjadi sosok yang berdampak. Visi ini tidak hanya terbentuk oleh latar belakang perkuliahannya di jurusan politik. Sejak SMA, Ajeng gemar melahap buku-buku Pramoedya Ananta Toer, seperti Anak Semua Bangsa yang bercerita tentang seorang anak Jawa yang pergi merantau dan pulang dengan membawa dampak dan pengaruh besar bagi negara.

“Saya jatuh hati pada tokoh Minke, dalam buku Pramoedya yang berjudul Bumi dan Manusia. Saya berpikir, nanti saya akan menikah dengan tokoh pergerakan seperti Minke itu. Sosok pasangan yang bisa berkolaborasi untuk membawa dampak yang besar bagi komunitas dan negara,” ungkap Ajeng, yang aktif menjadi aktivis di beberapa organisasi saat kuliah.
 
Tidak salah jika Forum Indonesia Muda, yang merupakan wadah pergerakan para mahasiswa idealis dari seluruh tanah air, menjadi pintu yang membukakan jalan takdir mereka. Bagi Zacky, membangun keluarga bukan hanya perkara ketertarikan fisik. Harus ada kesamaan visi dan sikap batin dengan pasangan.
 
“Saat menikah, saya tidak ingin hanya hidup untuk diri sendiri. Saya ingin suatu hari nanti kami bisa sama-sama menggerakkan semua orang. Dan Ajeng memiliki spirit yang sama!” ungkap Zacky. Kesamaan visi dan spirit ini yang berhasil memadukan hati mereka, hingga keduanya memutuskan mengikat janji setia dan menikah pada 17 Oktober 2010.
 

Mulai Dari Nol
 Saat ini orang mungkin mengenal Zacky dan Ajeng sebagai pebisnis e-commerce yang berkibar di tanah air. Zacky dengan Bukalapak dan Ajeng dengan HiJup.com. Baru-baru ini bisnis start-up Bukalapak berhasil menembus status Unicorn dengan nilai kelola bisnis di atas 1 miliar dolar AS, atau sekitar Rp14 triliun! Bisnis busana wanita muslim yang dikelola Ajeng juga tumbuh pesat dengan suntikan investasi 1 juta dolar AS(Rp14 miliar) dari penyandang dana di Silicon Valley, AS.
 
Apa yang mereka nikmati saat ini merupakan bagian dari perjuangan mereka merintis bisnis sejak titik nol. Saat itu Ajeng masih bekerja di lembaga konsultasi milik Jerman, sebelum akhirnya pindah sebagai tim riset pemasaran di sebuah perusahaan komersial. Zacky bekerja sebagai tenaga lepas programming. Dengan pendapatan yang terbatas, setelah menikah mereka hanya bisa menyewa sebuah kamar kos untuk tempat tinggal. Namun, justru dari kamar kos ini banyak ide lahir, saat itu Zacky sedang merintis Bukalapak.
 
“Waktu itu gaji kami rata-rata hanya dua juta rupiah per bulan. Uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup, sehingga kami sama sekali tidak punya tabungan. Harta kami saat itu hanyalah sebuah motor. Modal kami hanya semangat, harapan, dan mimpi,” ungkap pria lulusan terbaik Teknik Informatika ITB itu.
 
Ajeng tidak merasakan perjuangan mereka saat itu sebagai sesuatu yang membuat dirinya selalu waswas terhadap masa depan. Sebaliknya, ia justru sangat menikmati masa-masa pergi ke mana-mana naik sepeda motor, makan berdua di warung tenda. “Di kesempatan seperti ini kami suka ngobrolin soal negara. Berat, ya? Ha... haha…,” ujar Ajeng.
 
Meski terdengar seperti gurauan, pasangan suami-istri ini sangat serius tentang visi mereka yang satu ini. “Misi kami adalah bagaimana agar semua pelaku bisnis di Indonesia ini mengalami kesejahteraan yang merata. Kami ingin memberikan kekuatan lebih kepada para pebisnis kecil sehingga mereka menjadi lebih kompetitif dan sejahtera,” lanjut Zacky, yang mengidolakan Bung Hatta, inisiator koperasi di Indonesia.
 
Usaha yang berawal dari kamar kos, delapan tahun lalu, itu kini mampu menggerakkan perekonomian mikro dan menghidupi sebanyak 1.500 karyawan. Demikian halnya dengan HiJup.com. Bisnis yang berawal dari ruangan 2 x 3 meter dengan satu karyawan lulusan SMKsebagai tenaga administrasi itu kini telah tumbuh pesat.
 
Mengayomi sebanyak lebih dari 200 merek lokal yang 90% di antaranya berskala bisnis UKM, kini bisnis HiJup.com telah menjangkau 100 negara. Bahkan, memiliki gudang penyimpanan sendiri di London. “Kami ingin membantu UKM agar lebih terorganisasi dan konsisten dalam berproduksi, sehingga mereka bisa naik kelas dan lebih matang dalam berbisnis,” ungkap Ajeng, tentang usaha yang dirintisnya tahun 2011 itu.
 
Tidak mudah menjaga stabilitas bisnis start-up yang berjalan di platform digital. Tuntutan bisnis berjalan dalam hitungan detik. Hilangnya batas geografi dan zona waktu juga membuat bisnis ini meminta komitmen lebih yang menjadi tantangan tersendiri saat dihadapkan pada kebutuhan waktu berkualitas sebagai sebuah keluarga. Apalagi, saat ini mereka telah dikaruniai dua putri, Laiqa (5) dan Maura (8 bulan).
 
“Solusi kami adalah mendekatkan rumah ke kantor, dan mengusahakan agar pukul tujuh malam kami sudah ada di rumah,” ungkap Ajeng, tentang komitmennya bersama suami. Dulu, waktu mereka habis di jalan untuk menembus kemacetan antara Kemang dan Cinere, Jakarta Selatan. Kini, sejak mereka pindah rumah ke wilayan Pejaten, Jakarta Selatan, waktu di jalan ini terpotong signifikan.
 
Keduanya cukup fleksibel dalam mengelola waktu bisnis dan kebersamaan. Di jam makan siang, Zacky akan menjemput anak dari sekolah dan menyempatkan makan siang bersama di rumah. Jika Ajeng harus bertemu investor, maka ia tidak keberatan membawa anak ke kantor. Begitu juga sebaliknya. “Waktu eksklusif kami adalah di pagi hari. Setelah menyiapkan anak dan mengantarkan mereka ke sekolah, kami ada waktu berduaan untuk mengobrol santai sembari sarapan,” ungkap Ajeng.
 
Mengaku sebagai pasangan santai, Ajeng menemukan bahasa romantis yang berbeda dari Zacky. Salah satunya, saat suaminya itu mendukung gagasannya untuk melakukan persalinan water birth (melahirkan secara alami dalam air). “Meskipun jadwal rapatnya sangat padat, ia tetap bersedia ikut workshop, belajar dari buku-buku, dan dia lumayan sukses mendampingi saya selama persalinan,” ceritanya, haru.
 
Sementara itu, di mata Zacky, istrinya bisa menjadi sosok penyeimbang yang kembali membangkitkan semangatnya. “Dia selalu menjadi sisi positif saat saya sedang tidak percaya diri. Kami bisa saling membangkitkan semangat. Kekuatan instingnya sebagai wanita juga ikut memberi insight menarik dalam bisnis.” (f)

Baca Juga: 
CARA HIJUP.COM BERPROMOSI LEWAT VIDEO
SEWINDU BUKALAPAK, MEMBAWA UKM INDONESIA NAIK KELAS
5 KIAT ACHMAD ZAKY MEMBAWA BUKALAPAK JADI UNICORN STARTUP DENGAN VALUASI TRILIUNAN RUPIAH










 

 

Naomi Jayalaksana
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article