Kisah Sukses

Bisnis Kelas Keramik Puaskan Keinginan Niche Market

oleh Trifitria S. Nuragustina
Foto: Dok. Unsplash

Haryoadiputro Soenggono melepas para murid hingga  keluar pagar rumahnya yang sekaligus tempat kursus keramik Bengkel Keramik Puspa 5. Mereka, ekspatriat Jepang, mendapat  informasi tempat ini dari mulut ke mulut. Jumlah muridnya tak pernah putus, walau Haryo tak pernah memasang iklan maupun memiliki website.
 
“Saya merasakan ketenangan saat menyentuh tanah liat,” aku Yuko Ogura, murid yang telah tiga hari ke bengkel, tentang alasan ketertarikannya. Ia menyukai kursus yang jarang diketahui kalangan kebanyakan. “Di sini lebih privat, tidak ramai,” sambungnya.
 
Empat belas tahun lalu, murid pertama didapatkan tanpa sengaja, yakni wanita Jepang pelanggan Haryo yang penasaran pada proses di home industry Haryo. Di sana, Industri keramik ‘menyala’ di Jepang. Pengajarnya tidak langka dan membuat keramik sendiri di rumah bukan hal aneh.
 
Di era etalase online, terbukanya kemudahan bagi kebanyakan keramikus lokal untuk berpamer karya menciptakan ketertarikan konsumen muda Indonesia. Akhirnya, yang semula pembeli, berubah minat ke pembuatan keramik. Satu per satu wajah lokal bermunculan di kelas Haryo.
 
Saat dikunjungi, Haryo yang mengajar seorang diri silih berganti membimbing dua muridnya menekuk-nekuk tanah liat yang telah dicetak ke dalam bentuk daun, mendampingi murid lainnya mencelup keramik ke dalam glasur, sambil sesekali menjemur keramik setengah jadi. Terlihat kesabaran Haryo kala mengajar.
“Saya menyebut studio ini bengkel bersama karena para ‘alumni’ juga sering datang kembali karena tak ingin lepas dari indahnya proses membuat keramik. Ada juga yang membawa keramik setengah jadi dan melakukan proses bakar di sini,” jelas Sarjana Teknik Sipil Universitas Indonesia --yang tiba-tiba suka keramik saat kursus pada keramikus terpandang Indonesia, almarhum Liem Keng Sieng-- ini.
 
Bengkel dibuka pukul sembilan pagi hingga satu siang, pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Sistem kelasnya unik. Tiap murid mendapatkan waktu belajar setotal 24 jam yang tanggal dan durasinya boleh dibagi-bagi sesuka hati. Mereka mengisi log book secara mandiri.
 
Mereka mempelajari teknik pinch, yakni mencubit-cubit tanah liat untuk mencapai bentuk yang disuka, berpindah ke teknik slab, yakni mencetak datar tanah liat, teknik putar (memakai meja putar) untuk produk silinder, hingga ke kombinasi teknik.
 
Bengkel berfokus pada pembuatan alat makan berdesain alami. Ketertarikan Haryo bukan pada keramik patung karena ia menemukan kesulitan menangani bentuk manusia atau hewan yang harus simetris.
 
Tanah liatnya dari Sukabumi, karena sifatnya yang mudah ditangani. “Jika mendapatkan jenis tanah yang agak sulit dibentuk, murid akan mengira dirinya yang tak bisa-bisa membuat keramik,” ujar Haryo.
 
Bengkel ini tak membanding-bandingkan tingkat kecepatan murid dalam menguasai teknik tertentu. Proses handmade adalah refleksi jiwa, tak memerlukan skor keseragaman sebagaimana produk fabrikasi. Satu mangkuk yang bisa dianggap kurang indah oleh murid lain, bisa saja sempurna di mata pembuat karena sesuai kepribadian.
 
Di sini, murid belajar menghargai proses. Sebelum dibakar, keramik harus disusun di oven berdasarkan bentuk dan ketebalannya agar ‘matang’ merata. Pembakarannya 12-30 jam. Setelah matang, keramik diberi glasur, lalu dibakar lagi. Usai dimatikan, keramik baru dikeluarkan dari oven tiga hari kemudian, saat oven sudah adem!
 
Karena proses panjang ini, banyak pelajar keramik di perguruan tinggi Indonesia banting setir karena enggan bergantung mandiri pada bisnis keramik handmade. Semangat Haryo menghidupkan bengkel ini sebagai salah satu dari sedikit  tempat kursus berkualitas yang eksis. (f)

(Artikel bersumber dari Femina  edisi 44/ 2015)

Baca juga: 
LAHAN BESAR JADI TOUR GUIDE MAKANAN
THE BETAWI SALAD, BISNIS KEREN MAKANAN SEHAT


 
 

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article