Kisah Sukses

Feny Mustafa Sukses Membesarkan Label Baju Muslim Shafira Dengan Modal Awal Pinjaman Dari Ibu

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Adeli Arifin

Shafira, label ini sudah menjadi top of mind orang ketika berbicara tentang label busana Muslim di Indonesia. Menyasar segmen kelas menengah dan sedikit ke atas, label yang didirikan oleh Feny Mustafa pada tahun 1989 ini sukses bertahan dan terus berkembang menjadi Zoya, Mezora, Encyclo juga produk Zoya Beauty.
 
Menjadi pembicara dalam workshop Wise Women Entreprenenur Masterclass di Bandung yang merupakan rangkaian workshop kewirausahaan kerjasama Wanita Wirausaha Femina, Commonwealth Bank dan Mastercard Center for Inclusive Growth, Feny membeberkan resep sukses bisnisnya, antara lain mentalitas pebisnis yang bisa dipercaya, networking yang baik serta mengelola bisnis dengan profesional.
 
“Banyak orang mengeluh ingin memiliki bisnis tapi tidak punya modal uang. Saya selalu bilang, membuka bisnis tidak harus memiliki modal uang karena diri kitalah yang sebetulnya menjadi modal utama,” ujar Feny mengawali presentasi.
 
Betul, Feny mengakui, dengan mengatakan begitu, ia kerap disoraki dan dibantah, “Iya, pengusaha sukses pasti ngomongnya begitu.”

Tapi Feny merujuk kembali pada pengalamannya hampir 30 tahun lalu, ketika ia memulai bisnis Shafira. “Saat itu saya sama sekali tidak punya modal uang. Saya pun meminjam ibu saya, sahabat bahkan juga dosen dan kakak-kakak mentor saya di Masjid Salman ITB Bandung,” kata Feny.
 
Bisa mendapatkan pinjaman modal tentu harus bisa menjadi orang yang dipercaya. Itulah pentingnya networking bagi seorang pebisnis. “Networking ini ada dua sisi, dari sisi investor, kita harus bisa dipercaya oleh pihak-pihak yang invest seperti sahabat atau keluarga maupun pihak perbankan. Di sisi lain, juga dari konsumen. Bagaimana pun, di awal bisnis, yang menjadi konsumen pertama kita adalah keluarga dan teman-teman dekat.”
 
Feny menambahkan, networking harus dipelihara. Jangan sampai kita hanya mengontak orang ketika butuh saja. “Sebetulnya dalam bisnis itu sederhana saja, untuk produksi barang kita perlu modal, lalu untuk menjual produk kita juga butuh pembeli, dan semua itu bisa berjalan ketika kita punya networking,” imbuh ibu dua anak ini.
 
Pentingnya Bersikap Profesional

Hal lain yang sering menjadi bahan curhat para wanita pebisnis UKM adalah segala hal dikerjakan sendiri. Wajar memang, ketika memulai usaha, kita menjadi CEO alias chief everything officer. Bagi pebisnis fashion misalnya, mulai dari mendesain, belanja bahan, melayani chatting pembeli di sosial media, hingga membuat pancatatan keuangan semua dikerjakan sendiri. Mungkin hanya angkut-angkut saja yang dikerjakan oleh orang lain.
 
Feny Mustafa pun pernah melakoni fase ini semasa mengawali bisnis. Tapi, Feny mengatakan, sejak awal ia menginginkan usaha yang professional. Karena itu, sejak awal ia pun berusaha untuk merekrut professional sebagai tenaga kerja. “Saya desainer, seniman, karena itu karyawan pertama yang saya rekrut adalah bagian akunting. Jadi, sejak awal bisnis saya sudah rapi dalam hal keuangan,” katanya.
 
Bagi wanita yang kini juga menjadi mentor di Program MBA CCE ITB Bandung ini, ingin menjadi apa bentuk bisnis yang kita inginkan, semua ada di tangan kita. “Ada yang ingin hanya jualan seminggu sekali, ada yang ingin jualan pada waktu-waktu tertentu saja misalnya menjelang Lebaran, tapi sejak awal saya menginginkan bisnis yang bisa menjadi industri. Karena itu, saya membuat produk dengan segmentasi pasar yang memungkinkan menjadi industri,” ujar Feny.
 
Yang dimaksud Feny adalah ketika pertama mendirikan Shafira, ia ingin meraup semua segmen konsumen. Ternyata tidak bisa, karena ada kelompok konsumen yang merasa harga Shafira terlalu mahal. Karena itu kemudian ia membuka Zoya, untuk pasar kelas menengah.
 
“Karena kelas menengah kita saat ini mendominasi pasar sehingga perkembangan Zoya sangat pesat dengan kini kami memiliki 120 lebih toko di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Sedangkan Shafira sudah ada 24 toko,” cerita Feny.
 
Lewat bendera Shafira Corporation (Shafco), berdiri juga brand Mezora untuk segmen menengah sedikit ke bawah yang kini sudah ada 60 stores dan untuk bisa bersaing dengan retail dari luar negeri di mal-mal, Shafco mendirikan Encyclo, yang saat ini diakui Feny masih berjuang untuk bisa eksis di pasaran. "Untuk bisa mendapatkan gerai di mal tidak mudah meski kita memiliki uang. Encyclo hanya mendapat gerai di mal-mal yang sepi pengunjung sehingga akhirnya produk kami tarik dan dijual di toko-toko Shafco," kata Feny.
 
Lalu, bagaimana dengan kompetitor? Feny mengakui bahwa saat ini pasar memang sangat kompetitif. “Dulu boleh dibilang Shafira sendirian, tapi dulu kami juga berjuang membangun pasar apalagi dulu wanita berhijab belum sebanyak sekarang. Namun, supaya kita tetap tumbuh kita harus memiliki produk berkualitas dan memiliki daya saing sehingga produk kita tetap diminati,” ujar wanita penyuka traveling dan kegiatan sosial ini.
 
Caranya? “Saat ini kami memiliki tim desainer sendiri di setiap brand. Kami juga menerapkan SOP produksi yang ketat untuk menjaga kualitas,” katanya. Dengan demikian, maka kualitas produk pun bisa terus terjaga. (f)

Baca Juga:
Wise Women Jogja, Perlunya Membuat Laporan Keuangan Bisnis Sejak Sekarang & Pentingnya Desain Kemasan Yang Menjual
Wise Women Medan: Buat Laporan Keuangan Usaha Secara Sederhana
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article