Kisah Sukses

Kisah Sukses: Annisa Mirela, Rutin Kursus untuk Meningkatkan Keterampilan Bisnis di Ratu Pastry

oleh Faunda Liswijayanti

Foto: Dok. Instagram/ @ratupastry

Setelah anak kedua saya berusia 2 tahun, saya, Annisa Mirela (30), asal Jakarta, mulai memikirkan untuk mencari kegiatan yang berbeda. Saat itu, di dekat rumah ada tempat kursus kue. Iseng-iseng saya mendaftar dan ikut kursus satu hari. Walaupun hanya satu hari, saya   tertarik untuk mendalami soal kue ini. Tapi, saat itu saya belum memiliki peralatan yang lengkap. Ibu sayalah yang kemudian mendorong saya untuk membeli alat-alat standar untuk membuat kue, seperti mixer dan loyang. Kata Ibu, ilmu kursus akan terbuang percuma, jika saya tak mempraktikkannya di rumah.

Setelah itu, saya jadi rutin mencoba aneka resep cupcake. Awal saya membuat kue banyak gagalnya. Saya harus ‘berkenalan’ dulu dengan oven, bahan kue, hingga dekorasi kue, yang sebelumnya tidak saya pahami. Lambat laun hasil kue buatan saya mulai menemukan karakter. Keluarga menyukai cupcake buatan saya. Suami yang memiliki bisnis katering juga memuji kue buatan saya. Ini membuat adik saya berinisiatif membuatkan website untuk mempromosikan cupcake saya.

Saya pun mulai mengembangkan website Ratu Pastry, yang saya ambil dari nama katering milik suami. Awalnya, saya sempat merasa tidak pede memulai bisnis ini, mengingat saya benar-benar ‘pemain’ baru soal kue. Setelah 3 bulan coba-coba menjual cupcake, akhirnya ada pelanggan yang memesan, kebanyakan datang dari lingkungan pertemanan dan keluarga. Berkat promosi di Instagram, website, dan dari mulut ke mulut, Ratu Pastry kian dikenal.

Cupcake pertama yang saya jual desainnya sangat sederhana. Saat itu, saya memang belum berani menawarkan bentuk-bentuk yang rumit. Namun, atas nama berinovasi untuk menyesuaikan perkembangan zaman, saya berusaha mendalami aneka desain kue. Saya juga menetapkan target setidaknya dua kali setahun mengikuti kursus membuat kue untuk menambah ilmu dan keterampilan.

Bisnis yang saya mulai sekitar tahun 2012 itu terus berkembang. Kini, dalam satu minggu saya bisa menerima hingga 5 pesanan kue, baik cupcake maupun kue ulang tahun dengan karakter khusus. Dengan harga kue mulai dari ratusan ribu hingga jutaan, dalam satu bulan saya bisa mendapat omzet antara Rp15 juta hingga Rp20 juta.

Berbisnis kue home made menyisakan banyak tantangan, mulai dari pengerjaan hingga proses delivery. Pernah, suatu kali, kue pesanan yang diantar kurir sampai ke rumah pelanggan dalam keadaan berantakan. Ini terjadi karena ada kendala teknis di jalan. Kue yang rusak itu tentu membuat pelanggan kecewa dan marah besar. Sebab, rencana pesta ulang tahunnya jadi ikut berantakan. Pengalaman ini menyisakan pelajaran yang sangat berharga.

Karena itu, saya tidak mau lagi menerima pesanan kue yang mendadak. Harus ada jeda waktu yang cukup, setidaknya 2-3 hari, agar proses delivery tidak terburu-buru, sehingga kue bisa tiba dengan selamat. Kalau ada pelanggan yang pesan kue untuk acara pagi, saya akan mengantarkannya satu hari sebelumnya. Begitu pula jika acaranya sore atau malam, saya akan mengantarkannya pagi hari.

Memang, kue home made seperti ini harganya relatif lebih mahal daripada yang ada di toko. Beruntung, kini sudah banyak orang yang menyukai kue home made karena rasanya lebih enak dan fresh. Makanya, penting bagi saya untuk mengutamakan kepuasan pelanggan agar mereka selalu setia memesan kue di Ratu Pastry. (f)

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article