Kisah Sukses

Kisah Sukses: Fitri Yunita Permatasari Mendulang Laba dari Kue Kering Dapur Tiptop

oleh Faunda Liswijayanti

Foto: Dok. Instagram/ @DapurTiptop

Sebenarnya, sudah lama saya, Fitri Yunita Permatasari (31), asal Jakarta senang membuat kue-kue kering untuk camilan keluarga. Tahun 2012, ketika rainbow cake sedang booming, iseng-iseng saya buat lidah kucing rainbow. Hasilnya tak hanya untuk konsumsi keluarga, saya juga berikan kepada tetangga dan beberapa teman kantor. Ternyata, reaksi mereka semua senang dengan kue buatan saya itu, karena renyah dan enak rasanya.

Menjelang bulan puasa, saya mulai coba-coba membuat kue-kue kering lainnya dari resep peninggalan Ibu. Saat itu, saya masih berstatus karyawan di sebuah bank swasta, sehingga membuat kue biasanya saya lakukan di akhir minggu. Suami, sih, setuju saja dengan hobi saya ini, karena jadi selalu ada camilan di rumah. Lagi pula, saya lebih senang menyajikan kue-kue buatan sendiri untuk keluarga  daripada membeli kue di toko.
Seiring waktu, kreasi kue kering saya bertambah banyak. Beberapa teman kemudian mulai memesan kue kering buatan saya. Terutama kaastengel, karena menurut mereka kaastengel buatan saya itu enak. Bahkan, sampai ada yang enggak mau makan kaastengel, kalau bukan buatan saya.

Tanggapan yang positif membuat saya percaya diri untuk ikut beberapa pameran wirausaha. Melalui pameran dan promosi dari mulut ke mulut, kue kering yang saya beri nama Dapur Tiptop ini mulai dikenal luas. Tak hanya di kalangan rumahan, tapi juga korporasi. Beberapa kali saya menerima pesanan kue kering hingga ratusan paket. Hingga akhirnya, saya pun memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus memenuhi pesanan Dapur Tiptop.

Tapi, seperti bisa ditebak, bisnis kue kering sifatnya musiman. Di luar Lebaran dan Natal, jumlah pesanan berkurang drastis. Memanfaatkan waktu luang saat pesanan sepi, saya belajar membuat kue ulang tahun dari YouTube. Beberapa kali sempat gagal. Akhirnya, saya berhasil juga ketika membuat kue ulang tahun karakter minion untuk ulang tahun anak. Foto kue tersebut saya unggah di media sosial. Komentar dari teman-teman, “Kok, lucu, ya.” Sampai ada teman yang memesan kue ulang tahun untuk anaknya.

Saat itu saya benar-benar modal nekat. Ilmu belum seberapa, tapi saya sudah berani mengambil pesanan. Padahal, membuat kue ulang tahun dari fondant itu sulit, butuh keterampilan tersendiri. Apalagi saya tak pernah mengikuti kursus membuat kue, semua saya pelajari secara autodidak. Prinsip saya, jangan takut untuk mencoba.

 Lewat akun Instagram, @dapurtiptop, saya memasarkan aneka kue ringan dan kue ulang tahun. Kini, sudah ada 1.400 lebih followers, dengan jumlah pelanggan ratusan orang. Meski begitu, saya tetap membatasi jumlah pesanan karena semua masih saya kerjakan sendiri. Walaupun ada asisten, hanya untuk membantu mempersiapkan bahan-bahan saja. Keseluruhan prosesnya, dari baking hingga dekorasi, saya mengerjakannya sendiri.

Dulu, pelanggan saya kebanyakan datang dari kalangan teman dan saudara. Kini pelanggan saya sudah mulai meluas ke berbagai kalangan. Saya bahkan beberapa kali mendapat pelanggan baru yang tidak saya kenal sebelumnya.  Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena kreasi kue buatan saya mulai dikenal banyak orang. Dalam satu bulan omzet yang saya dapatkan bisa mencapai Rp10 juta. (f)

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article