Kisah Sukses

Kisah Sukses: Meyta Retnayu, Pemilik Brand Kaynn & Pentingnya Keterampilan Komunikasi dalam Berbisnis Tas

oleh Reynette Fausto

Foto: Dok. Kaynn


Sejak dulu saya, Meyta Retnayu (26) asal Bandung, memang sudah suka mengerjakan kerajinan tangan. Itu sebabnya, saya memilih kuliah di  jurusan Seni Rupa ITB. Setelah lulus tahun 2009, saya pindah ke Bali dan bekerja selama 2 tahun di sebuah butik handicraft. Di sana saya banyak belajar mengenai proses produksi, pengawasan kualitas, hingga pemasaran produk jadi. Ini penting sebagai modal pengalaman sebelum membuka usaha sendiri.

Dengan modal awal Rp500.000 pada tahun 2010, saya memulai bisnis kecil, yaitu membuat aksesori, seperti gelang, dompet, dan gantungan kunci berbahan dasar kulit sapi. Saya menjualnya dari teman ke teman, media sosial, dan juga pameran kerajinan kreatif seperti Brightspot Market. Produk olahan kulit cukup disukai karena sifatnya yang tahan lama. Saat itu saya melihat belum banyak produk tas kulit yang cocok untuk wanita usia 20-an.

Melihat peluang itu, saya mulai mendesain dan membuat sekitar 80 tas kulit tiap bulannya dengan mempekerjakan 11 perajin. Harga dipatok mulai dari Rp650.000 untuk pouch hingga Rp2.000.000 untuk koper. Sekitar 70 persen produk yang dihasilkan memang untuk wanita.

Untuk menjaga kualitas, saya mengontrol pemilihan bahan material. Saya memilih kulit pabrikan kualitas ekspor ketimbang kulit hasil perajin lokal. Sebab, pengolahan kulit secara manual oleh perajin kulit hasilnya kasar dan kaku, kurang bagus untuk diolah. Setelah pemilihan kulit, hal lain yang harus diperhatikan adalah kekuatan dan kerapian jahitan, serta desain yang timeless. Itu kunci yang saya pegang.

Sejauh ini saya menjualnya hanya lewat Instagram dan pameran. Saya tidak menggunakan website karena pemasaran lewat situs kurang efektif saat ini. Mungkin karena sifatnya kurang interaktif dan kurang bisa viral seperti di media sosial.    

Saya juga membuka toko di Bandung sebagai bentuk pelayanan pelanggan. Banyak pembeli lebih suka bila bisa ‘menyentuh’ produk, apalagi jika produk yang akan dibeli itu harganya jutaan. Dengan datang langsung ke toko, mereka juga bisa berkonsultasi mengenai produk  yang cocok untuk mereka. Kami juga memberikan pelayanan pascajual, yaitu memperbaiki tas apabila rusak dan juga jasa spa untuk membersihkan tas dengan tambahan biaya. 

Saya tidak terlalu menargetkan untuk ekspor karena ingin memperluas pasar dalam negeri dulu. Rencana terdekat, saya ingin meningkatkan kapasitas produksi hingga 250 tas per bulan dan juga punya perajin yang khusus menangani pembuatan tas pesanan spesial. 
 
Tip:
  • Untuk melindungi dari pemalsuan merek, daftarkan brand Anda ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Ini penting untuk menjaga reputasi merek.
  • Keterampilan komunikasi sangatlah penting, baik untuk mendengarkan keinginan pembeli maupun untuk menyampaikan ketentuan standar baku desain dengan perajin. (f)

 

Reynette Fausto
-
Share This :

Trending

Related Article