Kisah Sukses

Kisah Sukses: Poetri Andayani, Jadi Tukang Sayur Digital dengan @tantesayur

oleh Faunda Liswijayanti

Foto: Instagram/ @tantesayur

Semangat saya, Poetri Andayani (30) asal Jakarta memulai IG @tantesayur sebenarnya datang dari kegilaan suami pada  makanan sehat. Suami saya tinggal di Bali, tiap minggu ia meminta uang belanja Rp1 juta. Tentu saja saya sempat tak menyetujui permintaannya tersebut. Bagi saya, jumlah tersebut terbilang besar untuk keperluan belanja. Hingga ketika akhirnya saya tinggal di Bali selama tiga bulan, saya baru melihat pola makannya yang berubah sehat. Ia banyak mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Itu sebabnya, tiap minggu ia rutin belanja sayur organik dan buah-buahan yang harganya cukup mahal.
 
Dari kebiasaan suami ini, saya jadi penasaran mengapa sayuran organik harganya mahal. Saya pun mencari informasi lewat komunitas organik Indonesia, mulai dari browsing di internet hingga mencari kebun organik yang lokasinya ada di sekitar Pulau Bali. Saya juga mulai menanam sendiri beberapa sayuran organik dan herbal untuk konsumsi keluarga kami sehari-hari. Saya membuat kebun kecil di lahan seluas 200 meter persegi yang kami sewa.

Mulai dari situ, saya berkenalan dengan banyak petani organik dan koperasi desa. Rata-rata petani organik ini memang bukan petani konvensional. Mereka adalah petani urban yang bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Saya melihat, konsumen yang membutuhkan sayuran organik ini cukup luas, tapi pilihannya sangat terbatas. Saya pun akhirnya mulai menjual hasil panen yang tersisa, meski jumlahnya hanya sedikit. Sambil berjualan produk organik, saya sekaligus mengedukasi para pelanggan mengenai tanaman organik, hidroponik, hingga cara tepat mencuci sayuran sebelum dikonsumsi.

Awal tahun 2015, saya mulai serius menggarap akun Instagram @tantesayur yang kini sudah memiliki 4.000 lebih followers. Seperti tukang sayur pada umumnya, @tantesayur menjual produk sayur, tapi yang jenisnya organik. Memang, menjual sayur organik yang harganya relatif lebih mahal dari sayuran biasa memiliki banyak tantangan. Menjual makanan yang sifatnya lebih umum tentu lebih mudah laku daripada jualan sayur mentah. Namun, saya tetap berkomitmen untuk konsisten di jalur ini.

Lewat @tantesayur, saya menjual berbagai jenis sayuran organik yang saya dapat dari petani-petani organik yang tak jauh dari Jakarta, seperti di Cipanas, Sukabumi, dan beberapa dari Lampung. Hingga saat ini saya tidak memiliki toko konvensional. Saya menerapkan sistem membuka pesanan di muka dan mengantarkannya ke pelanggan ketika stok sayur sudah datang.

Biasanya, petani yang menjadi supplier saya akan menginformasikan jenis sayur yang akan mereka panen di minggu tersebut. Saya akan menawarkan sayuran tersebut di @tantesayur. Seperti baru-baru ini, saya mendapat stok 100 kg avokad, yang saya tawarkan di Instagram seharga Rp35.000 per kilo. Hanya dalam waktu 3 hari, semuanya habis dipesan.

Sayuran dari petani akan diantar ke central kitchen kami yang berada di daerah Jakarta Selatan. Dari sini, sayuran tersebut akan diantar ke  tiap pelanggan oleh kurir. Untuk kurir, saya menggunakan jasa Go-jek dan Alfa-cart. Jasa kurir ditanggung konsumen, jika jumlahnya tidak lebih dari Rp30.000. Jika lebih dari itu, maka saya yang akan menanggung biaya sisanya.   

Melihat respons pasar yang cukup bagus, awal tahun ini saya mengembangkan sayap dengan menyediakan sayur, daging, dan roti sehat. Ikan yang saya tawarkan berasal dari distributor penyediaan makanan hasil laut yang sustainable. Begitu pula untuk daging, saya memilih yang kualitasnya prima. Daging cincang misalnya, saya bagi menjadi tiga kategori, yaitu less fat, juicy, dan non fat. Sedangkan untuk roti, saya memproduksinya sendiri.

Hingga saat ini, saya sudah memiliki 10 karyawan tetap yang terdiri atas HRD, accounting, butcher (untuk memotong daging), serta pekerja yang mengemas sayuran pesanan pelanggan. Saya juga menerapkan prinsip garansi 100 persen sayuran segar sampai di tangan pelanggan. Jika pelanggan menerima sayuran dalam kondisi ‘tidur’ atau layu, dapat difoto langsung dan bisa mengembalikan sayur tersebut. Uang konsumen akan langsung saya kembalikan 100%. Hal ini tentu saja untuk menjamin kepuasan pelanggan, karena saya sadar barang yang saya tawarkan tidak murah.

Sejauh ini, sudah ada ratusan pelanggan setia yang memesan secara rutin. Dengan pelanggan yang tersebar di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, dalam satu minggu saya bisa menjual hingga 250 kg lebih sayur, dengan omzet mencapai Rp15 juta - Rp20 juta.

Meski awalnya hanya iseng, kini saya ingin memunculkan image tukang sayur digital yang gaul lewat @tantesayur. Sambil berjualan, saya juga mengemas story telling yang menarik soal sayuran. Inginnya, generasi muda saat ini bisa lebih memahami pola makan sehat. Berkat @tantesayur pula saya baru-baru ini berkesempatan mengikuti Sustainable Development dalam ASEAN Young Entrepreneur Carnival 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Di program tersebut, saya menjadi salah satu moderator. (f)

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article