Kisah Sukses

Kisah Sukses: Yolanda Sari dan Primrose Garden, Jamu Praktis untuk Semua

oleh Novita Permatasari

Foto: Dok. Pribadi

Tantangan untuk bisnis minuman rumahan adalah bertahan di pasar dan mengalahkan bisnis minuman produksi pabrik dengan tetap menjaga kualitas minuman. Sebab, kelebihan sekaligus kendala utama dari minuman kemasan rumahan adalah konsistensi produk dan masa berlaku minuman yang tidak lama.

Bisnis minuman kemasan rumahan menggunakan bahan-bahan segar dan berkualitas kini  makin menjamur. Mulai dari kopi, jus buah, hingga minuman tradisional seperti jamu, tidak sedikit yang memasang label homemade. Rata-rata, dengan modal Rp30 juta, bisnis ini sudah bisa dijalankan.

Hal serupa juga diterapkan oleh Yolanda Sari (33), yang mengemas jamu tradisional ke dalam minuman kemasan bernama Primrose Garden. “Sekarang orang malas bikin jamu sendiri karena ribet. Karena saya juga senang membuatnya untuk diri sendiri, sekalian saja saya jual,” terang Yolanda, yang mengonsumsi minuman tradisional ini sejak kecil.

Kualitas adalah hal terpenting bagi Yolanda karena ia juga membuatnya untuk dikonsumsi sendiri. Untuk itu, ia sampai mengambil bahan-bahan dari petani di Jawa untuk ia sortir kembali. Bahan-bahan itu kemudian ia cantumkan di label komposisi di kemasan minuman seharga Rp15.000 untuk botol ukuran 250 ml ini.

Meskipun berlatar belakang jurusan seni, ia melakukan survei pasar dan bahan selama tiga bulan dan banyak mendapatkan ilmu lewat buku-buku kesehatan. Usahanya berbuah manis, produknya mendapat sambutan dari berbagai kalangan. Konsumennya tak hanya penikmat jamu, tapi juga   orang-orang yang sedang menjalani pengobatan atau program diet, bahkan dokter. Produk yang ditawarkan lewat akun Instagram, @primrose.garden, ini sudah terjual 1.000 botol per bulan.

Yolanda misalnya, produk jamunya hanya bertahan dua hari jika tidak dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Padahal, permintaan jamu banyak datang dari luar pulau.

Kendala itu ia siasati dengan rencana membuka franchise di luar pulau agar produk jamunya bisa dinikmati oleh orang-orang di luar Jabodetabek dan Jawa. “Karena banyak peminatnya, saya rasa tak masalah memberikan resep jamu. Untuk menjaga kualitas, saya akan melatih secara langsung pengelola franchise mengenai cara menghasilkan rasa jamu yang sama dengan kios pertamanya di Jakarta,” ujarnya.

Karena tidak menggunakan pengawet, produk jamunya akan berubah warna jika lewat dari satu hari. Tak jarang Yolanda mendapat pertanyaan mengenai hal itu dari konsumennya. “Di sini tantangannya. Saya selalu menjelaskan bahwa penggunaan bahan alami memang tidak bisa konsisten seperti minuman botol produksi pabrik,” ujarnya. Ia menambahkan, hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena ketidakkonsistenan warna produknya justru membuat pelanggan yakin akan penggunaan bahan alami.
 
Kiat Bisnis dari Yolanda:
Pikirkan mengenai logo yang eyecatching dan nama yang mudah diingat, kemudian  tentukan juga jangka waktu tertentu pada menu yang Anda miliki. Jangan malas mencoba resep-resep baru. Lakukan survei bahan-bahan secara berkala untuk menjaga kualitas produk. Yang terpenting, jaga kepercayaan konsumen dengan servis memuaskan, termasuk komunikasi dan pengiriman tepat waktu. (f)
           

 

Novita Permatasari
-
Share This :

Trending

Related Article