Kisah Sukses

Max Mandias & Helga Angelina (Pemilik Burgreens): Lika-Liku Bisnis Bersama Pasangan

oleh Faunda Liswijayanti

Dok: femina

“Saya awalnya adalah ‘pemakan daging'. Namun, sejak berkenalan dengan Helga, yang sangat sehat dan energik, saya tertarik untuk mencoba pola makan vegan (hanya mengonsumsi produk vegetasi) yang diterapkan Helga. Saat itu, kami berdua masih sama-sama di Belanda. Saya bekerja sebagai analis data, dan Helga masih menyelesaikan kuliahnya,” ungkap Max Mandias, yang bersama sang istri, Helga Angelina, mengembangkan bisnis restoran vegan Burgreens.

Merasakan manfaat kesehatan untuk tubuh dari menjalankan pola hidup vegetarian, Max akhirnya keterusan sampai sekarang. Total sudah 5 tahun ia menjadi vegetarian. Dari sini ia lantas terdorong untuk membuat bisnis restoran vegan saat kembali ke tanah air. “Waktu itu kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih. ‘Jadian’ pada tahun 2012 di Belanda, pada November 2013 kami membuka gerai vegan Burgreens yang pertama di Rempoa, Jakarta Selata,” ungkap Max.

Dua tahun pertama menjalankan bisnis memang sangat berat, tapi penyesuaian selama pacaran dan mengelola bisnis bersama menjadi fondasi kuat pasangan ini dalam membangun hubungan. “Jujur, saat mematangkan ide bisnis, saking seru dan bersemangatnya, tidak pernah terlintas di kepala bahwa berbisnis bersama pasangan bisa menjadi complicated. Masalah terutama mulai terasa saat kami mulai mengeksekusi ide-ide tersebut. Mulai dari membuat standar patty (daging burger dari bahan nabati), saus, mencari supplier, sampai urusan marketing. Semua kami kerjakan secara serabutan. Ketidakjelasan batas wewenang inilah yang sering menyulut api konflik,” cerita Max.

Ketegangan yang muncul berpengaruh pada hubungan mereka di wilayah personal. Bayangkan saja, dari buka kafe sampai tutup kafe, total mereka bekerja bersama-sama selama 15 hingga 16 jam tiap harinya. Berbagai kekesalan, ketidakpuasan, dan kerunyaman campur aduk menjadi satu. Ini makin diperparah oleh perbedaan karakter keduanya yang benar-benar merupakan gambaran yin dan yang.
 
“Saya tipe orang yang tidak suka berkonflik, sehingga saat merasa tidak puas, saya memendamnya. Sementara itu, Helga adalah tipe yang vokal, yang bisa menyuarakan argumennya. Saya memiliki batas toleransi tinggi saat pegawai melakukan kesalahan atau sulit belajar, sementara Helga adalah sosok dengan target-target yang jelas dan cukup ketat terkait peraturan,” kata Max.

Max menambahkan bahwa Helga pernah memasang target untuk Max menciptakan menu baru. Gara-gara ini, mereka pernah sempat putus, walau cuma dua hari saja. “Ha… ha… ha…. Saya capek sekali, dan merasa bahwa ini bukan menjadi mimpi saya lagi. Saat itu kami berdua memang sangat emosional. Tapi, setelah dibawa tidur, kami berdua ternyata masih sama-sama ingin memperjuangkan hubungan dan mau berubah. Pasti ada cara komunikasi yang lebih baik dalam relasi,” ceritanya, tersenyum.

Kebiasaan Max memendam ketidaksetujuan dalam hati, ia akui sebagai hal yang tidak sehat dan menjadi bom waktu. Ujung-ujungnya, ia malah jadi frustrasi sendiri dan ketika keluar lewat kata-kata, jadi seperti meracau tidak jelas ujung pangkalnya. Ini bukan bentuk komunikasi yang baik. Sebaliknya, Helga belajar bahwa karakter vokal dan ceplas-ceplosnya bisa melukai perasaan suaminya. Keduanya pun mulai memikirkan cara berkomunikasi yang lebih baik agar hubungan ini terus berlanjut.

“Kami mulai belajar saling memahami bahasa masing-masing, dengan menghargai perbedaan karakter. Saya belajar lebih terbuka dan mengomunikasikan segala hal yang mengganjal di hati. Sedangkan Helga belajar mengungkapkan kritik dan masukan dengan bahasa yang tidak terlalu pedas.Kami juga tidak memaksakan diri penyelesaian masalah ketika masih sama-sama emosi. Kami akan menunggu dan membicarakannya saat kepala sudah dingin. Sebisa mungkin, sebelum tidur malam masalah sudah selesai. Sebab, kalau terbawa sampai pagi, bisa bikin cranky. Ha… ha… ha,” ungkap Max.

Max dan Helga lalu mulai membagi tanggung jawab di bisnis. Max lebih kepada urusan pengembangan dapur, seperti menciptakan menu-menu baru dan memberikan pelatihan kepada pegawai untuk urusan terkait. Sedangkan, Helga mengambil peran mengurus manajemen Kafe Burgreens. Mereka juga membayar tenaga profesional. “Sebab, besar dana yang kami irit tidak seimbang dengan harga yang harus kami bayar di relasi personal,” jelas Max.

Dari kejadian ini mereka belajar bahwa mengembangkan bisnis bersama pasangan sebenarnya bisa menjadi sarana latihan dan ujian terhadap kesiapan mental sebelum menikah. “Sebab, memiliki bisnis itu sama seperti membesarkan seorang anak bersama. Ada komitmen dan harga yang harus kami bayar agar ‘anak’ kami ini tumbuh besar dengan sehat. Setidaknya hal ini cukup berhasil bagi kami,” kata Max, serius. (f)

Artikel ini sebelumnya sudah dipublikasikan di www.femina.co.id (https://www.femina.co.id/True-Story/max-mandias-helga-angelina-disatukan-oleh-makanan-vegan).

Baca Juga:
YULI TAN, YOGI YANG WUJUDKAN MAKANAN VEGETARIAN TAPI ENAK!
INILAH WARNA-WARNA MENGGUGAH SELERA YANG PERLU DIKETAHUI PARA PEBISNIS KULINER
INGIN SUKSES DI BISNIS KULINER? KUASAI 4 HAL INI









 

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article