Kisah Sukses

Nova Dewi Setiabudi, Perjuangan Demi Jamu Naik Kelas

oleh Trifitria S. Nuragustina

Dok: Femina

Bukan hal yang mudah mengubah paradigma masyarakat soal jamu yang biasanya lekat dengan minuman orang tua, kuno, dan pahit. Berkat kegigihan dan kesabaran Nova Dewi Setiabudi, perlahan minuman herbal ini mulai digemari sejak disajikan di kafe Suwe Ora Jamu (SOJ),  yang didirikannya 2012 lalu. Ia berkolaborasi dengan suami, Uwi Mathovani, seorang graphic designer yang menyandingkan desain modern dan tradisional sebagai tema kafe yang menyajikan minuman herbal tersebut. Nova ingin kaum urban memberi tempat di hati untuk minuman ini.

Perlahan tapi pasti, jamu dilirik oleh kalangan ekspatriat. Sambil menyeruput minuman dingin sari jamu sehat berbasis fermentasi buah murbei dan asam jawa, femina menanti wanita Surabaya ini menyelesaikan sesi mengajar jamu kepada peserta yang kebanyakan ekspatriat Jepang dan Australia.  

Bagaimana Anda jatuh cinta pada jamu? 

Saya dibiasakan minum jamu oleh nenek saya. Kala haus dan membuka lemari es, jangan harap bisa menemukan minuman kemasan. Rak minuman diisi dengan aneka jamu racikan beliau. Jadi, sejak kecil saya sudah tidak punya pilihan selain minum jamu, he... he…he…. Beranjak SMU, kesadaran akan khasiat jamu pada orang-orang di sekeliling membangun kepercayaan saya dan berkeinginan untuk  mendalaminya.

Mengapa justru berbisnis minuman yang identik dengan pahit dan kuno?

Saya dan suami adalah peminum jamu. Ketika pindah ke Jakarta, kok, sulit menemukan tempat untuk minum jamu, tidak seperti saat saya  masih di kota-kota lain di Jawa. Akhirnya saya dan suami sepakat untuk membuat kafe Suwe Ora Jamu di lantai 1 ruko kantor di Petogogan, Jakarta. Sebelum resmi beroperasi, meeting di kantor sering menjadi masa trial untuk mengetahui minat. Saya tahu ini tidak mudah, tetapi kalau tidak dimulai kapan lagi. Belum lagi bahan baku jamu dari tanaman rimpang dan akar itu sangat mudah didapat di pasar tradisional dengan khasiatnya yang luar biasa. Sayang kan  jika budaya dan pengetahuan ini tidak diteruskan.

Bagaimana proses produksi dan quality control?

Selain meracik sendiri, ada pula pahitan (jamu pahit) dan godokan (jamu yang direbus) siap pakai dari produsen jamu Jamu Ibu yang sangat populer di Surabaya. Karyawan di outlet tinggal mencampur berdasarkan resep  dasar  racikan saya.

Apa perkembangan dalam tiga bulan pertama?

Tak disangka, banyak anak muda yang tertarik. Konsumen yang datang bukan hanya sekadar memesan, tetapi juga bertanya seputar khasiat di tiap menu herbal yang kami punya. Tentu saja dengan senang hati kami berbagi pengetahuan. Tak hanya sebagai peminum, konsumen juga mulai memberi hatinya untuk mengenal minuman tradisional ini lebih dalam. Kursus jamu beberapa kali dalam sebulan akhirnya hadir karena permintaan.

SOJ telah berkembang hingga beberapa outlet. Apa kiatnya?

Sabar dalam melalui  tiap proses. Tujuan SOJ tak sekadar karena bisnis, tetapi bagaimana merek ini bisa menularkan budaya minum jamu kepada publik. Beruntung, beberapa teman baik memberi dukungan terhadap misi ini dengan memberi tempat yang bisa digunakan untuk membuat outlet baru. Konsep profit sharing ini memuluskan perluasan produk.

Apa strategi pemasaran Anda? 

Inovasi produk dibutuhkan untuk melunturkan kesan bahwa jamu itu minuman orang tua. Di sini jamu diracik bervariasi sehingga rasanya mengesankan. Dimulai dari yang disajikan panas, dingin, hingga mocktail. Kemasannya modern sehingga dilirik segmen muda. Saya sadar, menyebarkan jamu kepada khalayak tak bisa hanya berdiam diri. Agenda berbau budaya yang market-nya sesuai dengan target diikuti demi merayu agar siapa pun tertarik pesona jamu.

Kaum ekspatriat justru mendominasi kelas jamu. Mengapa?

Saya juga kaget melihat animo mereka. Mereka tak semata ingin jadi penikmat, tapi juga memahami latar belakang dan cara membuat sesuatu yang asing ini. Materi kelas jamu tak sebatas pengetahuan resep, tetapi juga khasiat bahan bakunya sendiri serta saran memvariasikan jenis jamu yang diminum demi kesehatan. Saking banyaknya orang Jepang yang suka minum di kafe, kini menu jamu pun hadir dalam bahasa Jepang.

Apa harapan Anda di masa depan?

Tujuan SOJ bukan semata-mata ingin maju di bisnis F&B, tetapi menularkan pengetahuan dan khasiat bahan yang sangat dekat, tapi luput diketahui generasi muda. Saya ingin mengembangkan budaya yang nyaris hilang ini. Saya memaknai jamu tak sekadar karena khasiatnya, tapi juga bagaimana jamu mengajarkan saya mengenai kesabaran  hidup  dan hasil kerja petani. (f)

 

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article