Kisah Sukses

Rina Trisnawati, Lewat Tintin Chips Berdayakan Ibu-Ibu Yang Memiliki Anak Disabilitas

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: dok. Femina

Dalam panel 2 koferensi Indonesian Women’s Forum 2018 kerjasama Femina Group dengan Womenwill Initiative by Google dengan tema Wanita Mandiri Ekonomi, Rina Trisnawati mencuri perhatian sekitar 900-an hadirin dengan kisah inspiratifnya mengembangkan Tintin Chips. Dengan gaya ceplas-ceplos dan apa adanya, Rina bercerita upayanya mengembangkan bisnis yang ia rintis sebagai cara memberdayakan ibu-ibu yang memiliki anak disabilitas. Perjalanan yang membuatnya harus banyak belajar, dari belajar membuat kue yang enak, hingga menggunakan internet untuk memasarkan produknya.
 
Bila melihat bagaimana Tintin Chips dikemas, kita akan sepakat bila Rina memang serius dalam mengelola bisnisnya. Produk makanan ringan berbentuk cookies tipis kering dari kacang almond, rengginang, dan keripik kentang itu dikemas menarik dan modern, sesuai dengan konsep terkini bahwa kemasan produk tidak sekadar bungkus tetapi juga sebagai branding untuk meningkatkan penjualan.

Dengan harga Rp60.000 per kaleng, target market Tintin Chips adalah kelas menengah atas. Namun, Rina memahami bahwa pasar sangat kompetitif. “Mungkin ada lebih dari seribu orang yang memiliki produk yang sama dengan kami, tentu kami harus memiliki pembeda, mengapa orang harus membeli Tintin Chips? Ada banyak hal, tetapi yang pertama adalah produk kami harus enak dan kemasannya harus bagus dan cameragenic,” kata Rina.

Pemahaman itu sudah ada dalam benak Rina sejak pertama kali merintis bisnis tahun 2014 yang ia beri nama dari nama ibundanya, Tintin. “Selain hobi masak dan mencoba-coba resep di rumah, termasuk resep dari Femina, saya juga hobi jualan makanan. Apa saja saya jual. Tetapi dulu, produk yang saya jual adalah buatan orang lain,” ujar wanita asal Bandung yang bekerja di Jakarta ini.

Namun Rina memendam cita-cita untuk memiliki usaha sendiri sebagai persiapan rencananya untuk pensiun dini dari kantor konsultan publik tempatnya bekerja. Karena itu, pada tahun 2014, ia pun memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Di saat bersamaan, Rina yang sebelumnya mengelola dana santunan dari teman-temannya untuk anak-anak penyandang disabilitas di lingkungannya, tergerak untuk memberdayakan ibu-ibu yang memiliki anak disabilitas seperti penderita cerebral palsy dan down syndrome.

“Bagaimana pun tidak baik juga ya terus-terusan mengharapkan bantuan orang. Kalau bisa menghasilkan uang sendiri tentu bisa lebih percaya diri. Lagipula, ibu-ibu tersebut fisiknya kan sehat, tapi waktunya mereka terbatas karena sebagian besar waktu mereka untuk mengurus anak-anak,” kata Rina. Ia pun mengajak adiknya, Wulan Diahsari, untuk bersama-sama merintis bisnis ini.

Langkah pertama adalah ia kursus membuat cookies tipis kering yang saat itu sedang booming. “Dengan modal Rp600.000 saya memulai usaha. Waktu itu, selain untuk membeli bahan-bahan kue, modal saya belikan oven tangkring karena saya takut sama oven gas. Saya takut meledak,” ujarnya, disambung tawa.

Namun, setelah kuenya jadi, dan dikemas dengan ala kadarnya, Rina merasa rasa cookies-nya tidak sempurna. Rasanya ada yang kurang. “Alhasil, produk pertama itu tidak jadi saya jual tapi kami bagi-bagikan saja ke keluarga dan teman-teman,” katanya.
Gagal diusaha pertama tidak membuat Rina menyerah. Menjelang Lebaran, uang THR dari kantor ia belikan oven gas yang bisa memberikan panas yang stabil dan bisa diatur sesuai kebutuhan. Persoalan kualitas cookies pun terselesaikan.

Dasarnya terbiasa jualan, Rina awalnya juga menjual produknya secara langsung, baik kepada teman-teman maupun di workshop-nya di kawasan Cileunyi, Bandung. Namun, ia juga menyadari bahwa di zaman internet dan sosial media ini, ia pun harus bisa memanfaatkan untuk mengembangkan bisnisnya. “Saya tidak punya mentor dan ilmu, tapi saya tetap menggunakan salah satu platform sosial media untuk memasarkan produk saya sebisanya,” ujar Rina sambil bercerita ia kemudian bergabung dengan komunitas dan organisasi pengembangan bisnis UKM.


Foto: dok. Tintin Chips
Tak Lelah Belajar
Lewat komunitas dan organisasi yang ia ikuti, jejaring Rina otomatis bertambah dan membuat produknya bisa masuk ke toko produk UKM milik Kemeterian Koperasi dan UKM, SMESCO. Tintin Chips juga mendapat tawaran untuk ikut pitching memasok chips ke maskapai Garuda Indonesia.

“Ketika mendapat tawaran itu, saya sempat ragu. Karena, artinya saya harus bisa menyediakan produk dalam jumlah besar mengingat penerbangan Garuda itu banyak. Namun, ketika saya memutuskan untuk tidak, teman saya yang mendorong saya untuk menerimanya,” ujar Rina.

Teman itulah, yang juga peduli terhadap misi sosial bisnis Rina, yang membantu Rina membuatkan desain kemasan Tintin Chips, seperti yang digunakan saat ini. Hanya dalam semalam saja, sang teman menyelesaikan desain sehingga Rina bisa mengikuti pitching. Tak sia-sia, Tintin Chips pun berhasil dipilih Garuda.

Satu hal yang mengusik rasa penasaran Rina adalah bagaimana ia bisa memanfaatkan teknologi digital semaksimal mungkin. Dari seorang keponakan, ia mendapatkan informasi mengenai pelatihan Womenwill awal tahun 2018 lalu. “Saya mendaftar lewat online, lalu mengikuti kelas yang diadakan Sabtu dan Minggu di Jakarta secara gratis,” katanya.

Di pelatihan ini Rina mengetahui adanya fitur Google Bisnisku (Google My Business) yang memungkinkan bisnisnya memiliki toko online sendiri. Begitu memiliki akun Google Bisnisku, Rina segera memunggah semua informasi mengenai Tintin Chips selengkap mungkin. Dari foto-foto yang menarik juga alamat lengkap workshop-nya yang membuatnya terlihat dalam Google map.

“Karena ada kolom review, saya meminta teman-teman yang menjadi pelanggan Tintin Chips untuk memberikan komentar. Komentar dan rating itu menjadi rujukan penting bagi konsumen di internet sebelum mereka memutuskan membeli produk kita,” katanya.

Sekali mengikuti pelatihan, Rina merasa belum cukup. Maka, ia yang biasanya setiap weekend selalu pulang ke Bandung, rela untuk tinggal di Jakarta karena ingin mengikuti lagi kelas Womenwill. Ia ingin memperdalam mengenai SEO (Search Engine Optimization) dasar agar Tintin Chips bisa muncul di halaman pertama laman pencarian Google.

Ia juga memperdalam SEM, bagaimana bisa memaksimalkan beriklan di dunia maya. “Sebetulnya gampang ternyata, semua ada tombol-tombolnya, kita tinggal klik saja di smartphone. Karena Google Bisnisku juga memiliki aplikasi yang bisa kita unduh dan operasikan lewat ponsel,” katanya.

Upaya Rina belajar menuai hasil, karena Tintin Chips mengalami peningkatan omzet yang signifikan. “Saat ini kami bisa memroduksi 100 kaleng per hari,” ujar Rina yang memperkerjakan 10 ibu-ibu ini. Kini sudah ada enam varian rasa cookies yaitu coklat, keju, green tea, cinnamon, purple yam, dan kopi.

Karena keaktifan dan antusiasmenya, selama pelatihan Gapura Digital juga Rina juga tak segan membawa dan mengenalkan produknya, ia lantas mendapat perhatian dari Google. Ia lalu diundang memberikan testimonial di forum yang dihadiri staf Google dari berbagai negara. “Setelah acara, saya mendapat pesan pendek dari staf Google asal Paris yang mengaku terinspirasi akan kisah saya,” ujarnya, dengan rasa bangga.

Apakah ia sudah cukup puas dengan pencapaiannya ini? “Saya masih harus terus belajar. Saya juga mengunduh Google Primer karena di sana banyak artikel tentang bisnis yang bisa saya pelajari. Prinsip saya, memiliki smartphone harusnya membuat kita bisa belajar banyak dan tidak hanya menggunakannya untuk hal-hal yang tidak produktif,” pungkas Rina yang tepat pada 24 Januari 2019 ini, diusianya yang ke-50, memutuskan berhenti kerja agar fokus menekuni bisnisnya. (f)

Baca Juga:
Womenwill: Melatih Wanita Wirausaha Indonesia Untuk Mengembangkan Bisnis dengan Digital

 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article