Kisah Sukses

Rustono dan Bisnis Tempe Dari Mimpi

oleh Trifitria S. Nuragustina
Dok.Femina Group

Merintis bisnis bahan pangan Nusantara di mancanegara tentu tidak gampang. Rustono berhasil melunakkan kerasnya persaingan usaha di negeri Jepang. Puluhan media, baik media Jepang maupun Indonesia telah meliput Rusto’s Tempeh.
 
Pria yang kini terpandang berkat tempe ini tetap  bersahaja. Apa perjuangan terkini pengusaha asal Grobogan, Jawa Tengah, itu?
 
Apa yang memberanikan Anda memulai usaha di negara yang terkenal akan persaingannya?
Sebelum memutuskan untuk menikah dengan istri saya, Tsuruko Kuzumoto, dan hijrah ke Jepang, saya mencari tahu pengalaman teman-teman yang pernah tinggal di sana. Semangat dan dorongan mereka diiringi wanti-wanti yang nempel di saya, yakni ‘tidak menjadi pekerja di Jepang’.
 
Menurut pengamatan mereka, menjadi pekerja di Jepang berarti harus siap mencurahkan kehidupan untuk pekerjaan dan tidak ada waktu untuk keluarga. Padahal bagi saya, waktu yang berkualitas sangat penting untuk membangun keluarga. Karena ini saya bertekad untuk membangun sebuah bisnis. 
 
Mengapa justru tempe?
Saya tidak memilih, karena hanya tempe yang bisa saya buat. Untung saja kedelai berkualitas melimpah di Jepang. Bisnis ini harus dijalankan karena merupakan produk asli Indonesia yang belum ada di Jepang.
 
Di mana Anda belajar merancang sistem bisnis?
Kehidupan awal saya di Jepang terbilang sulit. Dalam jalan menuju impian, saya belajar cara memproduksi makanan di Jepang dengan bekerja selama 3 tahun di pabrik roti.
 
Saya mendapat ilmu tentang cara memproduksi makanan dan cara mendapatkan sertifikat tentang standar produksi di Jepang yang sangat kompleks dan detail. Pelajaran berharga ini menjadi pondasi membangun usaha tempe.
 
Empat bulan produksi, tidak ada satu pun tempe yang jadi! Maklum, saya tidak mengerti bagaimana cara produksi tempe yang benar di negara 4 musim.
 
Setelah berhasil pun, saya masih ragu. Akhirnya saya meminta izin istri untuk pulang ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar pembuatan tempe. Seratus lebih perajin tempe yang saya mintakan tolong, tapi, hanya sekitar enam puluh yang menerima. Dengan alasan, takut ilmunya dicuri!
 
Apakah warga Indonesia di Jepang turut andil dalam membangun usaha Anda?
Mereka adalah orang pertama yang saya tawarkan Rusto’s Tempeh. Mereka bahkan memborong tempe saya dan membantu memperkenalkannya kepada rekan-rekan.
 
Setelah berhasil mengumpulkan dana, membangun pabrik, dan mengajukan izin produksi, saya baru berani menawarkan kepada orang Jepang. Cara yang sederhana, dengan mengetuk pintu rumah sakit dan katering. Tidak meminta untuk membeli, tapi saya memohon kepada mereka untuk mencoba.
 
Bagaimana tanggapan orang Jepang?
Melihat muka saya saja yang bukan orang Jepang, mereka langsung bilang, “No, no, thank you.” Saya tak menyerah, karena impian saya lebih besar dari masalah yang saya hadapi ini. Janji saya dalam hati, suatu saat semua orang Jepang akan ketagihan tempe saya!
 
Momen apa yang menjadi titik terang Rusto’s Tempeh?
Suatu hari di musim dingin, saat salju turun deras, saya membangun lantai dua pabrik tempe di luar rumah. Seseorang yang melihat saya, berteriak, “Ngapain kamu di sana? Bahaya!” Lalu, saya jawab, “Saya sedang membangun impian!”
 
Keesokan hari, ia datang lagi. Orang ini rupanya wartawan. Akhirnya, kisah saya dalam membangun impian pun ditulis. Mulai saat itu orang Jepang mengenal saya. Mereka menghargai perjuangan ini dan ikut terlibat dalam membangun mimpi saya dengan membeli Rusto’s Tempeh.
 
Menurut Anda, apa yang terpenting dalam memulai usaha di mancanegara?
Pegang teguh impian dan gunakan hati dalam membangunnya. Niat juga harus bulat karena perjuangan di negeri orang tak mudah. Setelah terbiasa dengan usaha tempe di tempat dengan suhu yang naik turun, terbentuk hubungan antara hati dengan tempe. Itu yang saya ajarkan kepada anak saya, Noemi Kuzumoto, yang sekarang mulai menjalankan usaha tempe ini.
 
Tempe disantap dan  oleh pelanggan menjadi gizi yang sangat baik. Karenanya, saya menekankan kepada anak untuk membuatnya dengan hati yang baik.
 
Satu lagi, “Dealing with people is important.” Kalau memahami cara berhubungan yang baik, tiada perbedaan budaya yang bisa membatasi. Karena kita berbicara tidak hanya dari mulut dan mata, tapi juga dari hati.
 
Bahkan Rusto’s Tempeh telah masuk ke dalam menu maskapai?
Saya tidak mau impian setinggi langit itu hanya sekadar kiasan. Terbukti saat ini, di ketinggian 13.000 meter, penumpang Garuda Indonesia bisa menikmati Rusto’s Tempeh. Bagi saya, mimpilah setinggi-tingginya selama masih gratis!
 
Pernah terucap, suatu saat saya akan menduniakan Rusto’s Tempeh. Saya yakin alam semesta akan mendukung ini.
 
Ini terjawab melalui telepon dari Luisa Veles, wanita yang kini menjadi partner bisnis saya di Meksiko. Bermula dari sini, kini orang-orang asing penggelut makanan sehat di segala penjuru Eropa menghubungi saya untuk menjadi ‘konsultan’ tempe dengan membantu membangun usahanya. (f)

Baca juga:
LAHAN BESAR JADI TOUR GUIDE MAKANAN
THE BETAWI SALAD, BISNIS KEREN MAKANAN SEHAT

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article