Liputan

Wise Women Jakarta - Belajar Ilmu Dasar Keuangan Bisnis dan Strategi Brand yang Tepat Sasaran

oleh Naomi Jayalaksana

Dok: Deny Herliyanso

“Membuat brand yang tepat sasaran adalah ujung dari tahapan perencanaan bisnis yang lebih mendasar,” ungkap Rex Marindo, Founder Warunk Upnormal, saat berbicara di acara WISE (Women Investment Series) Women Entrepreneur Masterclass, Sabtu (25/08), di Cocowork Filateli, Jakarta.
 
Pernyataan Rex ini menjadi sebuah refleksi tersendiri bagi sekitar 80-an peserta WISE Women. Sebab, pada kenyataannya masih banyak wanita pengusaha yang melompati beberapa tahapan penting dalam membangun bisnisnya.
 
Sebelum sibuk mengulik cara membuat strategi brand yang tepat sasaran, menurut Rex, seorang pengusaha harus memiliki mindset seorang pebisnis: siap bekerja keras, siap dengan risiko apapun, mendasari segala langkah dengan pengetahuan yang cukup, dan terus mendorong diri untuk belajar.
 
Start small, think big. Saya tidak mengawali bisnis dengan sesuatu yang luar biasa,” ungkap Rex. Ia mencontohkan produk makanan ringan seperti rujak cireng yang dijual di Warunk Upnormal yang saat ini omzetnya hari ini telah menembus angka Rp7 miliar per tahun!


Dok: Deny Herliyanso
 
Begitupun saat ia memutuskan berganti bisnis, dari perusahaan konsultan branding dan marketing menjadi bisnis kuliner Warunk Upnormal, dan beberapa brand kuliner lain yang sekarang bernaung di bawah bendera Cita Rasa Prima Group.
 
Warunk Upnormal mengambil pangsa pasar di antara bisnis warung kopi yang ada di lapisan bawah dan kelas warung kopi sebesar Starbucks di lapisan atas. Ia mengemas bisnis uniknya dengan menawarkan makanan mie instan dengan berbagai varian topping. Ia melengkapi “warung mie-nya”dengan colokan listrik dan wifi berkecepatan tinggi.
 
“Untuk Wifi saja, saya harus berani keluar modal Rp20 juta,” ungkap Rex dalam wawancara terpisah. Sebagai penguasaha, ia juga selalu membuka diri untuk belajar dari para pengusaha lain. Salah satunya, dengan melakukan Benchmarking.
 
Ia belajar tentang efisiensi penggunaan tenaga kerja dari bisnis Marugame Udon yang menjalankan cara swalayan, di mana pembeli mengambil sendiri pelengkap makanan yang mereka inginkan.
 
“Dengan cara ini, Bakso Boedjangan bisa melakukan efisiensi tenaga kerja dari 35 orang karyawan menjadi 17 karyawan saja. Otomatis ini sangat mengurangi biaya pengeluaran bisnis,” ujar Rex tentang bisnis bakso yang kini telah bernilai miliaran rupiah itu.
 
Pertumbuhan bisnis yang besar ini dengan sendirinya akan menarik investor untuk datang menanamkan modalnya. “Kaum pemodal ini hanya bisa diyakinkan dengan isi laporan keuangan bisnis Anda. Tanpa ini, mereka tidak akan mendapat seberapa baik bisnis berjalan dan seberapa besar potensinya ke depan,” ungkap Rex.


Dok: Deny Herliyanso
 
Faktanya, masih banyak wanita pengusaha yang belum sadar benar dengan pentingnya membuat laporan keuangan. Dari survei kecil-kecilan selama seminar terungkap bahwa baru sekitar 30% saja dari wanita pengusaha yang hadir di seminar, yang membuat laporan keuangan rutin dari bisnis yang dimilikinya.
 
Sementara itu, hanya 2% saja dari mereka yang memperhitungkan tenaga dan pikirannya sebagai bagian dari produksi. Dengan kata lain, sebagian besar para pengusaha UKM ini masih belum menggaji diri sendiri.
 
“Menggaji diri sendiri penting dimasukkan dalam anggaran bisnis. Saat usaha muai bertumbuh pesat, informasi post anggaran ini akan membantu pengusaha memperhitungkan besar pengeluaran untuk membayar karyawan,” jelas Head of SME Business Commonweath Bank Weddy Irsan, SVP, yang hari itu membagikan ilmu manajemen keuangan bisnis.
 
Weddy menegaskan bahwa membuat laporan keuangan menjadi tahapan paling mendasar yang harus ada dalam rangkaian penyelenggaraan bisnis. Dengan membuat laporan keuangan, pebisnis dapat memantau perkembangan usahanya.
 
Setidaknya, ada tiga jenis laporan keuangan yang harus dimiliki oleh usaha kecil menengah, yaitu catatan transaksi, laporan laba-rugi, dan neraca. “Sekecil apapun transaksi yang dilakukan harus dicatat, sebagai pertanggungjawaban terhadap keuangan perusahaan. Pisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis,” pesan Weddy.
 
Berbekal catatan transaksi penjualan dan pengeluaran inilah perusahaan dapat membuat anggaran. Penyusunan anggaran ini tidak hanya berguna sebagai pedoman pembagian sumber daya yang terbatas, tapi juga sebagai alat merencanakan pertumbuhan bisnis dan perhitungan kenaikan biaya produksi terhadap peluang kenaikan omzet. (f)

Baca Juga: 
WISE WOMEN BANDUNG, LAPORAN KEUANGAN YANG BAIK UNTUK PERKEMBANGAN BISNIS & TIP SUKSES BERBISNIS FASHION DARI SHAFIRA & ZOYA
WISE WOMEN MEDAN: MEMBUAT KONTEN FOTO TIDAK MAHAL
WISE WOMEN, STRATEGI PRICING UNTUK UKM














 
 

 

Naomi Jayalaksana
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article