Liputan

Workshop Standar Food Safety Untuk Bisnis Makanan

oleh Desiyusman Mendrofa

Foto: Desiyusman Mendrofa

Tak kurang dari 80 orang Sahabat Femina Kota Medan yang merupakan pebisnis makanan hadir dalam acara workshop "Standar Food Safety untuk Bisnis Makanan" yang diselenggarakan oleh wanita Wirausaha Femina bersama dengan Nestle Indonesia di Medan, pada Sabtu, 4/11/2017. 

Iwan Utama, Head of Quality Management Nestle Indonesia dan Gigih Budi Abadi, co founder Dagadu Jogja yang juga dikenal sebagai desainer grafis dan praktisi branding hadir sebagai pembicara. 

Iwan Utama memulai materinya dengan menceritakan sejarah berdirinya Nestle dan juga berdirinya Nestle Indonesia. 

Iwan menjelaskan, Nestle hadir untuk meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi untuk masa depan yang lebih sehat. Dalam mewujudkan hal itu, Nestle memiliki beberapa pilar yaitu keamanan pangan, konsistensi, meminimalisir kesalahan, dan komitmen semua karyawan. 

"Nestle memastikan keamanaan pangan mulai dari produsen penyedia bahan baku, pada saat proses produksi, distribusi, hingga saat sampai di tangan konsumen," kata Iwan. 

Salah satu unsur yang bisa menjaga keamanan pangan adalah kemasan. Maka Nestle selalu memastikan bahwa bahan dan kualitas kemasan mampu menjaga keamanan produk. Serta kebersihannya hingga sampai di tangan konsumen. 

"Sebagus apa pun kualitas produk, bila kemasannya kotor dan kusam, maka orang tidak akan membeli produk Anda," kata Iwan, tegas.  

Sementara Gigih Budi Abadi menyampaikan bahwa kemasan adalah bagian dari brand. Maka kemasan harus bisa menarik perhatian orang.  Mulai dari bentuk, warna, desain, dan jenis huruf jangan dibuat asal-asalan.  

"Nama produk yang dicantumkan pada kemasan sebaiknya terdiri dari 2 suku kata, agar mudah dibaca dan diingat oleh orang," ujar Gigih. 

Sebab bila sulit diingat, produk Anda akan tenggelam di antara produk lain. Maka hampir dipastikan, produk Anda tidak laku.  "Mata manusia seperti layaknya  scanner. Misalnya display produk di pusat perbelanjaan, umumnya, orang hanya memberikan waktu 1 detik untuk melihatnya," katanya. 

Lebih lanjut Gigih menjelaskan, produk dapat mempromosikan dirinya sendiri lewat kemasan. "Kemasan bisa mewakili produsen untuk mempromosikan kepada calon konsumen," ujar Gigih. 

Acara yang berlangsung sekitar 3 jam itu diikuti dengan serius dan antusias oleh peserta. Terlihat sebagian peserta mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh pembicara di buku catatan mereka. 
 
Berbagai pertanyaan mengenai keamanan makanan juga diajukan. Mulai dari bagaimana cara penyimpanan produk susu sebagai bahan baku makanan yang tidak habis dalam sekali pemakaian, bagaimana cara pengetesan masa kadaluwarsa makanan kemasan hingga pertanyaan mengenai mengapa logo burung digunakan Nestle.
 
Acara ini merupakan bagian dari pengembangan program wanita wirausaha (wanwir) Femina. Program Wanwir sendiri sudah dimulai sejak tahun 2008 lalu yang kini telah menjangkau hingga 30 ribu wanita pebisnis di seluruh Indonesia melalui berbagai acara yang diselenggarakan wanwir femina.

Menurut database Femina, usaha makanan merupakan usaha yang paling banyak dipilih dan dijalankan oleh wanita Indonesia. Sebab pada umumnya, wanita memang menyukai kuliner. Atas dasar itulah Femina menyelenggarakan workshop ini bersama dengan Nestle. 

Bagi Femina dan Nestle, dalam bisnis makanan, selain rasa dan kualitas, food safety dan kemasan juga menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. 

"Materi yang disampaikan sangat bagus. Kebetulan, saya dan suami berencana merintis bisnis kuliner. Kami pastinya akan menerapkan ilmu yang saya dapatkan hari ini untuk bisnis kami nanti, " kata Chika, salah satu peserta yang ditemui usai acara. (f)
 

 

Desiyusman Mendrofa
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article