Kisah Sukses

Lusia Hariyany, Menyulam Laba Dari Kain Perca

oleh Wanita Wirausaha Femina

Kain perca seringkali dianggap kain sisa yang tidak diperhitungkan nilai ekonominya. Namun di tangan Lusia Hariyany (48), kain perca ini diubah menjadi sebuah produk kreasi sulaman yang berharga ratusan ribu rupiah. Kuncinya, ia menjahit dengan teknik sulaman quilts dan patchwork yang memerlukan keahlian khusus.

Modal Lima Juta

Sejak duduk di bangku SMP, Lusia memang hobi menjahit dan menyulam. Namun hobi ini tak lagi ia geluti karena kesibukan mengurus rumah tangga.  Tahun 2004, ketika ia pindah mengikuti suaminya, Supratman Hadi Purnomo ke Surabaya, Lusia banyak memiliki waktu luang karena anak-anaknya sudah besar dan masuk SMA. Ia pun kembali teringat hobi lamanya, mengutak-atik sulaman.
 
“Awalnya, saya hanya menyulam di pakaian dan kerudung yang saya kenakan sehari-hari,” ujar ibu dari 2 anak ini. Lama-lama, sulamannya disukai tetangga dan teman-temannya. Mereka kemudian memesan produk kerajinan lain seperti seprai dan taplak meja.
 
Lantaran kebanjiran pesanan, tahun 2005, Lusia memberanikan diri membuka usaha dengan bendera Amira Handycraft. “Modal awal hanya lima juta rupiah, saya gunakan untuk membeli kain dan benang,” ujar wanita  kelahiran Surabaya ini. Awal usahanya, ia mengerjakan produksi sendiri dan hanya dibantu satu karyawan.
 
Lusia terus berinovasi mengembangkan produknya. Ia pun belajar patchwork, appliqué  dan quilts dari buku. Ketiganya merupakan kerajinan tangan berbahan dasar kain perca yang disusun dan dijahit secara kompak, sehingga menghasilkan karya yang artistik. Untuk mendalami patchwork, Lusia mengikuti kursus selama 3 hari di Jakarta dari seorang guru berkebangsaan Jepang. Produk sulamannya pun merambah ke dompet, sarung bantal, bed cover dan tas. Kini, produk tas perca menjadi unggulan Amira Handicraft. Harga produknya berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp3,5 juta. Untuk menjaring konsumen, Lusia rajin mengikuti pameran. “Pameran sangat membantu memperluas pasar, karena banyak konsumen atau pedagang reseller datang dari berbagai daerah,” ujarnya.
 
Ketika dunia online makin semarak, ia tak ketinggalan. Ia pun berusaha memaksimalkan usahanya melalui digital marketing. Dibantu oleh menantunya, Nadia (24), ia memasarkan produknya melalui internet. “Kami memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter, dan website. Melalui internet, saya menjangkau lebih banyak konsumen dari luar kota. Kini pembeli terbanyak dari Jakarta, Bandung dan Medan,” ungkapnya, bangga.  

Tak Pelit Membagi Ilmu

Lusia mengaku, banyaknya pesanan yang datang tidak sebanding dengan waktu pengerjaan yang lama. Ia merasa perlu menambah karyawan. “Hampir 80% produk saya handmade, hanya 20% yang dikerjakan dengan mesin, itu yang membuat waktu pengerjaannya lama,” ungkapnya.
 
Wanita ini tak habis akal, ia kemudian memberikan pelatihan menyulam bagi warga desa di Pandaan dan Sidoarjo. “Dari hasil pelatihan itu, saya terkejut, ternyata ada seorang bapak yang jahitannya sangat rapi,” ungkapnya. Mereka yang menghasilkan karya terbaik, oleh Lusia kemudian direkrut menjadi karyawannya.
 
Saat ini, Lusia telah memiliki 7 orang karyawan yang bekerja di rumah masing-masing. Seminggu sekali, Lusia datang ke desa mereka ke Pandaan dan Sidoarjo untuk mensuplai bahan baku dan mengambil produk yang telah jadi.
      
Usahanya terus berkembang. Lusia kemudian dipercaya mendapat pinjaman program kemitraan dari Bank Mandiri. “Uang hasil pinjaman saya belikan mesin jahit untuk memperlancar proses produksi,” ujar wanita yang mengaku omzet usahanya mencapai puluhan juta rupiah per bulan ini.
 
Namun, bagi Lusia, bisnis tak hanya melulu mengejar uang. Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika ia bisa menularkan ilmunya kepada orang lain, terlebih mereka yang tidak bekerja. “Membantu dalam bentuk ilmu itu tidak akan pernah habis. Membuat orang lain berdaya secara ekonomi, itu sumber kebahagiaan saya,” jelas wanita yang merupakan salah satu Mitra Binaan Bank Mandiri ini.

Daria Rani Gumulya
Foto: KIR

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article