Marini Putri Habibie, Guru Memasak Raisa, Yang Punya Trik Ampuh Membuat Anak Melek Gizi

oleh Wanita Wirausaha Femina

Foto: dok. pribadi

Hobi memasak mendorong Marini Putri Habibie (26) membuka kelas memasak LadyBake Cooking Class pada tahun 2014. Kelas privatnya diikuti oleh banyak selebritas, termasuk penyanyi Raisa. Berpartner dengan ibu, Putri menunjukkan bahwa ikatan keluarga mampu dijalin di dapur.
 
Sebagai tahap lanjutan, ia mencari cara meningkatkan kualitas gizi anak dalam cara tersendiri. Riset berkemas aktivitas memasak dilakukannya pada murid SMP. Hasil temuannya menarik: Anak lebih bijak dalam memilih makanan di tengah gempuran makanan gaya baru. Putri bercerita pada femina.

Saat anak menginjak usia sekolah, ibu relatif tidak lagi bisa memantau kegiatan anak 24 jam penuh. Anak pun mulai membuat keputusan-keputusannya sendiri, terutama saat berada di sekolah. Sesederhana memilih tempat duduk, bagaimana meminjam peralatan sekolah kepada teman, sampai pilihan makan siang. Nah, coba Anda bayangkan, kira-kira jajanan apa yang akan dipilihnya saat di luar pengawasan Anda? Gorengan, junk food, atau makanan warna-warni penuh zat pewarna yang belum tentu sehat? Oh, noo…!
 
Dalam jangka panjang, jika konsumsi makanan harian di usia pertumbuhan ini diisi jajanan yang kurang bergizi, dampak buruknya terjadi pada keseimbangan gizi dan kesehatan generasi selanjutnya. Padahal, meningkatkan daya saing terletak pada SDM anak bangsa. Sebaliknya, jika konsumsi makanan terjaga gizi dan kualitasnya, maka hasilnya tidak hanya akan terlihat pada perkembangan fisik dan psikis, tapi juga berpengaruh positif pada kesuksesan akademis selanjutnya.

Kegelisahan pada masalah ini begitu menggugah saya. Saya memutar otak, dengan cara apa mengajarkan anak-anak dan remaja untuk memilih jajanannya (yang sehat tentunya) sendiri. Ide saya mengerucut pada kelas memasak untuk anak. Proyek ini sekaligus menjadi proyek riset ilmiah saya dalam menyelesaikan studi S-2 di Binus Business School Jakarta. Riset yang menggabungkan kecintaan saya pada dunia memasak, mengajar, dan berbisnis ini melibatkan 270 murid SMP Labschool Kebayoran, berusia 11-12 tahun, pada Agustus 2017.
 
Mengapa memasak? Eksperimen ini ingin menjawab pertanyaan terbesar saya: benarkah anak yang bisa memasak akan lebih bijak dalam memilih makanan untuk dirinya? Jika ya, metode belajar masak seperti apa yang efektif dan praktis untuk mengajar anak usia sekolah?

Tidak sedikit studi yang membuktikan bahwa anak pintar memasak akan lebih menyadari pentingnya makanan sehat. Penelitian lain mengatakan bahwa pelajaran nutrisi yang dibarengi kegiatan memasak akan lebih efektif mengubah preferensi makan anak dibandingkan hanya sekadar penyuluhan nutrisi.
 
Eksperimen saya pada siswa SMP ini hadir dalam bentuk kedua metode, yakni membandingkan metode active learning atau hands on dan passive learning atau cooking demo. Tujuannya untuk mengetahui metode mana yang lebih efektif mengubah perilaku.
 
Dalam rentang waktu sebulan, kedua kelompok akan mengikuti empat kelas memasak bermenu sama. Sejalan dengan konsep active learning, siswa dalam kelompok hands on secara aktif terlibat memasak, sama seperti pada kelas LadyBake Cooking Class. Mereka memilih bahan, mengupas, memotong, hingga memasaknya di atas tungku.
 
Diskusi pun berlangsung spontan ketika mereka menemukan kendala. Pertanyaan seputar, “Ini bahan apa?”, “Bagaimana cara memotongnya?”, dan sebagainya, secara otomatis meluncur dari mulut para remaja ini. Di sela menjawab pertanyaan mereka, saya menyelipkan edukasi tentang nutrisi.
 
Di kelompok siswa passive learning yang melakukan cooking demo, mereka mengikuti pelajaran memasak layaknya menonton acara masak di televisi. Hanya melihat guru masak mempraktikkan masakannya di depan kelas. Mereka tidak turut memasak dan hanya diberi contoh sambil diberikan pengetahuan nutrisi.
 
Antusiasme kelas-kelas ini tampaknya tidak sebesar di kelas hands on. Namun demikian, cukup banyak lontaran pernyataan mengejutkan dari para murid yang membuat saya tertawa. Misalnya, “Kak, kalau aku jualan nanti, Kakak harus langganan, ya!” Jiwa wirausaha dari generasi Z ini memang begitu tampak.

Setelah program ‘pelajaran’ memasak berakhir, saatnya saya mengamati perubahan pada murid-murid SMP ini. Hasilnya menarik. Melakukan praktik masak membuat murid mengenal lebih dekat dengan bahan. Selain lebih familiar dengan aroma, bentuk, dan rasa asli dari bermacam bahan makanan, para murid kelas hands on lebih mengenal manfaat nutrisi pada masakan yang diolahnya.
 
Masalah minyak goreng, misalnya. Saat di kelas hands on, muncul pertanyaan, “Kok, minyak yang dipakai tukang gorengan warnanya hitam?” Jawaban bahwa minyak goreng berwarna hitam itu tandanya sudah dipakai berkali-kali dan sudah tidak baik untuk dikonsumsi, ternyata melekat pada memori anak-anak ini. Lantas, hal ini membuat mereka berpikir sekali lagi saat ingin jajan gorengan yang digoreng menggunakan minyak berwarna hitam.
 
Memilih membawa bekal dari rumah rupanya menjadi kebiasaan baru yang muncul setelah para murid ini mengikuti kelas memasak, terlebih pada anak-anak yang mengikuti kelas active learning. Selain karena ingin makan makanan yang lebih sehat, membuat makanannya sendiri ternyata menjadi sebuah kesenangan bagi mereka. Saya sungguh-sungguh bahagia!
 
Bahkan, beberapa anak bercerita bahwa dengan membawa bekal, mereka tak perlu berebut dan mengantre beli makanan di kantin. Bagi anak-anak, ini hal mengasyikkan karena waktu istirahat sekolah bisa digunakan untuk istirahat atau bermain lebih lama, ha.. ha.. ha..!
 
Dengan membawa bekal, uang saku yang diberikan orang tua mereka akhirnya tak terpakai. Keputusan mereka ternyata bukan dihabiskan untuk membeli jajanan lain, tapi ingin ditabung untuk dibelikan mainan incaran. Saat kebiasaan menabung tumbuh, otomatis anak dapat lebih menghargai uang dan belajar menentukan prioritas. (f)

Baca Juga:
Apakah Khasiat Madu Hilang Saat Proses Memasak?
Jajanan Basah Naik Kelas Lewat Packaging

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article