Marketing & Services

4 Langkah Membangun Reputasi Bisnis di Dunia Maya dari Pakar Pemasaran Digital Tuhu Nugraha

oleh Cempaka Fajriningtyas

Foto: Fotosearch

Tren digital dan penggunaan gawai yang terus meningkat  makin mendorong Indonesia untuk tumbuh menjadi pasar ekonomi digital terbesar di ASEAN. Pengembangan teknologi dan ekonomi digital sudah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu prioritas pembangunan. Bahkan, pemerintah memiliki target mencetak 1.000 technopreneur pada tahun 2020.

Untuk mewujudkannya, tentu tidak semudah menjentikkan jari. “Penyedia produk dan layanan digital harus mampu beradaptasi dengan tuntutan konsumen digital agar mereka mampu memenangkan hati kosumen,” ujar Managing Director, Digital, Accenture ASEAN, Mohammed Sirajuddeen.

Kemampuan beradaptasi itu juga sangat penting untuk menciptakan iklim bisnis dan persaingan yang sehat. Tentu saja, tidak hanya terbatas pada jual beli produk, tetapi juga mencakup berbagai proses di dalam perusahaan untuk menunjang kegiatan jual beli tersebut.

Pada tahap pembuatan produk, pebisnis atau penyedia layanan perlu melakukan observasi untuk memahami kebutuhan konsumen secara tepat. “Konsumen digital memiliki kebutuhan yang tinggi karena mereka punya banyak informasi. Informasi itu akhirnya membuat mereka jadi lebih menuntut banyak hal,” ujar Tjin Tak. Menuntut bukan berarti konsumtif dalam membeli produk baru, melainkan menuntut inovasi yang lebih relevan dengan kehidupan dan mudah digunakan.
 
Hal serupa juga harus dilakukan pada tahap merancang layanan internet untuk konsumen digital. Kecepatan akses internet tentu masih menjadi faktor penting. Namun, penyedia layanan juga harus memperhatikan jaminan keamanan dan privasi, konsistensi kualitas koneksi internet, serta layanan yang mudah dijangkau dan berkelanjutan.

Agar produk dan layanan menjadi relevan dengan kehidupan konsumen digital, pebisnis memang harus menginvestasikan waktu untuk memahami kebutuhan mereka. Pakar digital marketing yang juga chief operating officer dari digital social media agency Upnormals PingFans, Tuhu Nugraha, mengatakan, “Kegiatan observasi dengan mendengarkan keinginan konsumen bisa membantu menumbuhkan relasi atau rasa percaya antara sebuah brand dengan konsumennya.”
 
Akan tetapi, ibarat membangun tali persahabatan, menjaga relasi dan rasa percaya dengan konsumen tidak bisa dilakukan sekejap mata. Pebisnis atau sebuah brand harus terlebih dulu memiliki reputasi baik untuk mengikat hati konsumen digital. Menurut Tuhu, ada 4 langkah yang bisa dilakukan untuk membangun reputasi melalui platform online.

Tahap pertama, pastikan profil Anda sebagai pebisnis atau merek tertera jelas di laman situs resmi. Kemudian, bangun ekosistem kepercayaan melalui media sosial, baik milik Anda pribadi maupun di lingkaran terdekat Anda. Misalnya Anda memiliki situs yang menjual kain batik, maka akan lebih baik jika aktivitas media sosial Anda mencerminkan kecintaan Anda pada kain batik. Dengan begitu, konsumen digital dapat mengaitkan passion Anda dengan keseriusan dalam berbisnis.

Tahap kedua, berikan ruang apresiasi untuk para konsumen. Jika mereka memberikan testimoni dalam bentuk foto atau teks, segera berikan tanggapan dengan tulus. Begitu juga jika mereka memberikan keluhan. Respons itu membuat konsumen digital merasa didengarkan dan dihargai. Untuk jangka panjang, testimoni dari konsumen juga dapat menjadi nilai lebih bagi merek produk Anda. “Calon konsumen sangat memperhatikan testimoni dari pembeli-pembeli sebelumnya. Kalau testimoni dan responsnya cukup positif, secara psikologis calon konsumen bisa merasa lebih yakin untuk membeli produk Anda. Hal itu semacam social approval,” papar Tuhu.
 
Tahap ketiga, jawab pertanyaan konsumen dengan cepat dan bernada netral. Faktor penting yang membuat konsumen digital memilih untuk berbelanja online adalah efektivitas waktu. Oleh sebab itu, hindari menunda untuk menjawab pertanyaan konsumen. Selain untuk membangun kepercayaan, ketepatan waktu menjawab pertanyaan konsumen juga dapat membuat merek Anda bisa selalu diandalkan.

Tahap keempat, selalu update produk dengan jujur. Salah satu kesalahan yang cukup sering dilakukan pebisnis lewat merek mereka adalah lupa atau terlambat memberikan informasi terkini tentang produk mereka kepada konsumen. Misalnya, sepatu jenis A sudah tidak tersedia lagi, maka Anda harus segera mencantumkan informasi tersebut di situs resmi Anda. “Jangan tunggu sampai ada konsumen yang menanyakan produk tersebut. Meski terlihat sepele,  kesalahan ini bisa mengecewakan konsumen dan mengurangi reputasi Anda,” pungkas Tuhu. Ya, pada akhirnya, kualitas produk dan konsistensi layanan memang tetap menjadi kunci untuk bertahan di era serbacepat ini. (f)

 

Cempaka Fajriningtyas
-
Share This :

Trending

Related Article