Marketing & Services

Atur layanan antar sendiri atau pakai ojek online?

oleh Nuri Fajriati

Foto : 123RF
 
Saat ruang usaha makin mahal dan jalanan makin macet, layanan pesan antar makanan menjadi jalan keluar yang sama menyenangkannya bagi pebisnis maupun konsumen. Pilihannya, bisa mengurus layanan pesan antar sendiri atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Mana yang lebih menguntungkan?
 
 # Antar Sendiri
 
Melihat kondisi Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang macetnya makin parah, Cynthia Tenggara, pemilik Berrykitchen, optimistis bisnis makanan berkonsep katering dan mengandalkan layanan pesan antar akan memiliki peluang luas untuk berkembang. Semua pesanan yang hanya bisa dilakukan lewat situs mereka, www. berrykitchen.com, akan diantar oleh kurir mereka.
 
“Kami pernah bekerja sama dengan beberapa operator ojek online, tapi kini kami memutuskan untuk menanganinya sendiri,” ujar Cynthia.
 
Kelebihannya,  dengan mengelola sendiri, ia bisa mengawasi dan memberi arahan langsung kepada kurir bagaimana cara menangani makanan yang diantar agar sampai di tangan pembeli dalam keadaan baik. Selain itu, juga menekan ongkos operasional. Misalnya, bebas ongkos untuk pembelian di atas seratus ribu rupiah.
 
Kelemahannya, ada konsekuensi jika mengurus pengiriman makanan sendiri. Salah satunya, pebisnis harus memiliki tenaga kerja lebih banyak.
 
Hal ini tidak selalu mudah. Seperti yang sempat dirasakan oleh Cynthia. Soal tenaga untuk mengantar pesanan memang harus dipikirkan matang-matang, jika berniat mengelola layanan delivery sendiri. Apalagi jika bisnis makin besar dan pesanan makin banyak. Tanpa pengaturan yang tepat, bisa-bisa pembeli kapok karena faktor kemacetan dan antrean pengiriman yang membuat pesanan lama datang.
 
Hal ini diantisipasi Berrykitchen dengan merekrut kurir freelancer yang membawa kendaraan masing-masing. Mereka mendapat bayaran per lokasi pengiriman. Dengan begitu, ongkos produksi bisa ditekan. “Karena dikelola sendiri, ongkos kirim bisa ditekan sehingga lebih murah daripada menggunakan pihak ketiga,” tambahnya.

Dalam pengiriman makanan, tentunya dibutuhkan kemasan yang cukup aman dan bisa melindungi makanan hingga sampai ke tangan konsumen. Cynthia menuturkan, sejak awal ia sudah mendesain sendiri kemasan yang bersekat-sekat agar makanan tidak bercampur dan tahan banting. Karena digunakan untuk mengemas makanan, packaging haruslah menggunakan bahan yang foodgrade dan tinta soya agar aman dikonsumsi. Akan lebih baik lagi, jika bisa didaur ulang.
 
Kerjasama Dengan Ojek Online
 
Bagi yang tidak mau repot, bergabung dengan pihak layanan delivery tentunya jadi solusi. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Astrid Enricka dalam mendistribusikan masakan dari rumah makan Ayam Tangkap AR (Atjeh Reuyeuk) yang berlokasi di daerah Senopati, Jakarta Selatan.
 
“Setahun setelah restoran beroperasi, kami mulai menyediakan layanan delivery sendiri. Untuk itu, saya harus menyiapkan tenaga kerja dan kendaraan operasional yang siap mengantarkan pesanan. Namun, daerah jangkauan kami tidak terlalu luas, hanya sekitar Jakarta Selatan. Kebanyakan juga berasal dari langganan yang pernah datang ke restoran,” ujarnya. Otomatis, dengan keterbatasan itu layanan delivery pun jadi sulit berkembang.
 
Akhirnya, sejak dua tahun lalu ia mendaftarkan diri pada pihak layanan pesan antar online. “Sejak bekerja sama dengan aplikasi ojek online, volume makanan dengan delivery meningkat 20%. Pembeli yang datang ke restorannya juga jadi lebih banyak,” kata Astrid, senang. Meski mendatangkan lebih banyak pesanan, tambahan biaya operasional tak terhindarkan. “Ada potongan yang diberikan kepada operator ojek online. Ini membuat keuntungan berkurang,” ujarnya.
 
Astrid memutuskan untuk tidak membedakan harga makanan di restorannya dengan harga di aplikasi ojek online. Biasa terjadi, untuk menjaga margin keuntungan, merchant memberi perbedaan harga antara toko dan aplikasi. Ini dianggap sebagai ganti ongkos kirim.
 
“Saya tidak terlalu memperhitungkan margin keuntungan yang berkurang. Karena, angka penjualannya juga meningkat dan area pengirimannya meluas.  Belum lagi saya tidak perlu memikirkan kepusingan pengiriman dan menggaji kurir lagi. Ini saya anggap keuntungan nonnominal,” papar Astrid.
 
Astrid, ia mendapat masukan justru dari salah satu pelanggannya. “Saran pembeli, kami harus memberi perlakuan khusus untuk daun-daun dalam masakan agar tetap garing," katanya. "Karena itu, kini kami mengemas daun goreng dalam ayam tangkap secara terpisah. Ayam dan daun garing nanti dicampur sendiri oleh pembeli,” tambah Astrid, yang menggunakan kemasan dengan food grade take away paper tray yang didesain khusus berwarna putih bersih. (f)
 
BACA JUGA:

Pukau Calon Konsumen dengan Instagram Stories yang Seru
Teknik Sukses Bikin Sambal Korek untuk Bisnis
Penting bagi Foodpreneur! 6 Cara Layak Coba Agar Produk Viral

 

 

Nuri Fajriati
-
Share This :

Trending

Related Article