Marketing & Services

E-Commerce: Cara Sederhana Membuat Storytelling Untuk Brand Anda

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pexels


Berjualan secara online, entah di marketplace atau sosial media, saat ini menjadi cara efektif bagi pebisnis UKM. Karena, meski baru 2 persen dari total perdagangan di Indonesia, e-commerce diprediksi akan terus meningkat.
 
Namun, untuk sukses berjualan di dunia maya juga membutuhkan berbagai syarat. Karena, teknologi itu hanya sarana, kita lah yang tetap harus bisa mengendalikan dan menggunakannya. “Hal yang terpenting adalah perubahan mindset dari offline ke online,” ujar Tuhu Nugraha, Digital Strategist Expert & Trainer.
 
Branding untuk membangun kepercayaan konsumen adalah menjadi syarat pertama bagi pebisnis ketika menjual produknya di online. Karena bila tidak, maka konsumen hanya akan menakar produk kita dari sekedar harga saja. Mereka beli produk kita hanya karena harganya lebih murah dari toko lain.
 
Salah satu cara untuk membangun kepercayaan konsumen adalah membuat storytelling. Berikut ini 3 cara mudah membuat storytelling:
 
1/ Cara paling sederhana adalah dengan memposting faktur pengiriman atau testimonial. “Karena ketika belanja daring, pasti ada rasa degdegan konsumen apakah barangnya beneran diantar atau tidak. Karena itu, memberikan kepercayaan bahwa barang akan diantar itu penting,” kata Tuhu.
 
2/  Membangun loyalitas pada brand Anda dengan engagement. Misalnya ketika Anda memiliki produk tas dan dompet dari kulit untuk wanita, posisikan Anda sebagai seseorang yang sangat mengerti kebutuhan konsumen yang menjadi target market Anda. “Ada sebuah brand yang ketika berkomunikasi dnegan konsumennya menyebut dirinya sebagai Umi, ibu yang mengerti kebutuhan ibu-ibu yang menjadi target marketnya. Bagaimana ibu-ibu membutuhkan tas yang dengan banyak kompartemen untuk mengakomodasi kebiasaan wanita yang suka membawa banyak barang,” kata Tuhu.
 
3/ Menunjukkan cerita di balik brand Anda. “Prinsipnya begini, ketika banyak pilihan di pasar orang lebih emosional saat membeli. Kalau kita tidak mau hanya dibandingin soal harga, kita harus menjual cerita, misalnya, oh ternyata dengan membeli produk ini saya itu sudah membantu wanita dari desa mana. Oh ternyata pembuatannya rumit banget ya, pantas kalau harganya lebih mahal. Cerita-cerita begitu disukai konsumen,” Tuhu menjelaskan.

Perlu disadari, bahwa kadang-kadang harga sebuah produk menjadi sangat relatif dan tergantung bagaimana seorang pemilik brand mengemas cerita. “Apalagi kalau kita bicara tentang pasar kelas menengah atas yang gampang tercolek dengan tanggung jawab sosial, maka cerita-cerita tentang adanya tanggung jawab sosial bisa efektif,” kata Tuhu. (f)

Baca Juga:
Cindy Alvionita, Warunk Upnormal Group: 'Menjual' Cabai Di Postingan Sosial Media
Azalea Ayuningtyas, Pemilik Du’Anyam, Mengatasi Masalah Nutrisi

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article