Marketing & Services

5 Tren Perubahan Perilaku Konsumen Digital di Indonesia

oleh Cempaka Fajriningtyas

Foto: Fotosearch

Hasil riset Screenagers++: Multiplied Experiences, Real-time Emotions (2016) menunjukkan bahwa jumlah pengguna smartphone di Indonesia saat ini mencapai 86 persen, meningkat 9 persen dibanding tahun 2014. Sementara, jumlah screenagers atau orang yang memiliki smartphone, tablet, dan komputer atau laptop pada saat bersamaan juga mencapai 34 persen, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 31 persen. Bukan sekadar angka yang terus bertambah, pertumbuhan tersebut turut membawa perubahan pada perilaku konsumen digital. Benarkah penggunaan gawai (gadget) membuat konsumen digital di Indonesia jadi lebih konsumtif?
 
Generasi yang Digerakkan Teknologi
Keterkaitan teknologi dengan perubahan perilaku sebenarnya sudah dijabarkan oleh filsuf dan pakar komunikasi asal Kanada, Marshall McLuhan, sejak tahun 1962 dalam buku The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Menurutnya, inovasi-inovasi teknologi bukan hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi, tetapi juga membentuk budaya dan kehidupan, termasuk ekspektasi dan kebutuhan dalam proses jual beli.
 
Hal senada disampaikan Managing Director, Communications, Accenture ASEAN, Wong Tjin Tak. Namun, ia menekankan bahwa perubahan kebutuhan dan ekspektasi yang mendorong pergeseran perilaku konsumen digital itu juga menuntut perubahan pada sisi pebisnis. “Penyedia produk, layanan digital, atau pebisnis harus menyesuaikan lagi pola bisnis perusahaan mereka dengan kebutuhan konsumen saat ini. Screenagers saat ini lebih concern terhadap interaksi konsumen dengan perusahaan,” kata Tjin Tak.
 
Perubahan tersebut tercermin pada hasil riset yang dijalankan Accenture terhadap 28.000 responden di 28 negara, termasuk Indonesia. Berikut ini 5 tren perubahan perilaku konsumen digital di Indonesia.
 
1/ Multiplier Effect
Penggunaan perangkat pintar di Indonesia ternyata cenderung lebih tinggi dari 27 negara lain yang ikut dalam survei ini. Sekitar 99 persen konsumen tanah air telah menggunakan aplikasi mobile untuk layanan komunikasi, sementara total negara lain secara global hanya 87 persen. Dari jumlah tersebut, 75 persen konsumen Indonesia telah memahami layanan transaksi pembayaran mobile dan 53 persen di antaranya memanfaatkan layanan kursus online. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi berperan besar dalam kehidupan konsumen digital. Bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga berbagai kegiatan lain yang sebelumnya bisa dilakukan tanpa internet seperti nonton film atau main game, dan mencari informasi.
        
2/ You, Me, and Internet of Things
Hasil riset menunjukkan bahwa 85 persen konsumen digital yang termasuk dalam early adopter (mereka yang update terhadap produk teknologi terbaru) ternyata masih kesulitan menggunakan gawai secara optimal. Gawai yang termasuk dalam riset ini adalah kategori wearable, seperti smartwatch, perangkat olahraga cerdas, perangkat hiburan di dalam mobil, dan perangkat keamanan rumah.
 
3/ Lost in Transmission
Bukan konsumen digital namanya kalau mereka tidak menuntut keterhubungan secara real time dengan dunia melalui koneksi internet yang mulus dan cepat. Namun, riset ini menunjukkan bahwa 78 persen konsumen digital di Indonesia juga mementingkan keamanan bertransaksi finansial dan 60 persen menomorsatukan privasi saat berselancar di dunia maya.
 
4/ The Way You Make Me Feel
Nama besar sebuah merek saja tak lagi mempan meluluhkan hati konsumen digital. Misal saja,  riset yang menunjukkan bahwa hanya 16 persen konsumen digital yang bersedia membeli gawai terbaru dari merek terkenal sekalipun. Itu pun kalau harganya tidak melebihi anggaran belanja mereka yang kurang dari 10 persen. Bukan karena pelit, tetapi karakter digital native sekarang memang lebih kritis dibanding generasi sebelumnya. Informasi teknologi telah membuat mereka lebih menyadari bahwa produk yang baik bukan hanya canggih, tapi juga disertai servis yang paripurna dan bisa diandalkan.
 
5/ Brand Engagement  
Konsumen digital saat ini cukup mudah berpaling ke lain ‘hati’. Para pebisnis mohon  jangan sakit hati dulu. Hal itu bukan karena mereka tidak setia pada merek produk tertentu, melainkan karena mereka kini lebih fokus pada layanan yang tepat, kesederhanaan dalam penyampaian pesan, kesesuaian identitas diri, kualitas, privasi, dan produk. Bahkan, 73 persen konsumen digital di Indonesia menyatakan siap berpindah ke penyedia jasa lain demi mendapatkan layanan yang lebih baik. (f)
 

 

Cempaka Fajriningtyas
-
Share This :

Trending

Related Article