Marketing & Services

Cara dan Rambu-Rambu Memilih Endorser Produk

oleh Nuri Fajriati

Foto: Fotosearch

Word of mouth alias ‘bisikan teman’ sudah terbukti mampu membuat sebuah produk laris, sejak dahulu kala. Zaman telah berganti, bisikan itu kini bisa dibeli. Para pelaku bisnis sengaja memberikan produk mereka kepada seseorang yang memiliki banyak penggemar atau memiliki kekuatan untuk memengaruhi opini orang banyak (influencer). Tujuannya, produk jualan mereka bisa dikenal khalayak lebih luas. Hal inilah yang disebut endorsement. Nah, sebelum Anda memanfaatkan jasa para endorser, pahami dulu cara dan rambu-rambunya!
 
Seberapa penting?
Konsep endorsement sebetulnya sudah ada sejak lama. Contoh paling mudah bisa dilihat ketika para desainer pakaian memberikan baju rancangannya untuk dikenakan selebritas di karpet merah perhelatan akbar. “Konsep endorsement sebetulnya lebih bersifat seperti public relations yang bertugas membentuk image. Meski tak dipungkiri pada akhirnya konsep tersebut memengaruhi penjualan,” ujar Tuhu Nugraha, pakar digital marketing.

Menurut Tuhu yang juga penulis buku WWW.Hm: Defining Your Digital Strategy, testimoni seseorang terkadang lebih meyakinkan daripada iklan. Itulah sebabnya, banyak produsen melakukan endorsement  melalui orang terkenal. Tujuannya untuk menjangkau masyarakat yang ada di kalangan orang terkenal itu. Maka, testimoni positif dari seseorang itu diharapkan dapat membuat masyarakat di sekelilingnya membeli produk si pengusaha.

Pada beberapa jenis produk seperti kecantikan dan perlengkapan bayi, endorsement sangat berpengaruh untuk meningkatkan penjualan. Tuhu percaya, mayoritas wanita bisa dengan mudah tergerak membeli kosmetik baru setelah melihat hasil aplikasinya dalam riasan di wajah teman.
Begitu pula dengan perlengkapan bayi. Ia mengatakan, para ibu biasanya mencari referensi dulu sebelum memutuskan produk yang paling cocok untuk si buah hati.  Dan, referensi tersebut biasanya tak jauh-jauh dari informasi endorsements maupun word of mouths.

Namun, menurut Tuhu, tidak semua jenis produk perlu menggunakan strategi endorsement, salah satunya bisnis makanan. Untuk urusan perut yang sifatnya impulsif, orang cenderung lebih tertarik pada gambar yang menggugah selera. “Selain itu, makanan sifatnya sangat tergantung selera orang masing-masing,” kata Tuhu.

Lila Imelda, pemilik produk fashion Lemari Lila, mengakui, endorsement dari selebritas ataupun public figure adalah strategi jitu untuk memasarkan produknya. Dalam memilih endorser, Lila tidak semata-mata bergantung pada segi ketenaran maupun jumlah followers di media sosial. “Saya memilih orang yang bisa mewakili produk saya. Endorser harus memiliki nilai yang saya suka dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan produk saya,” jelas Lila. Untuk diketahui, desain koleksi Lemari Lila adalah perpaduan antara sisi tradisional dan modern. Misalnya, blus dengan potongan asimetris dikombinasikan dengan bawahan berupa lurik dalam berbagai model. 

Tuhu pun setuju dengan strategi Lila yang selalu menyesuaikan profil endorser dengan produk yang ia jual, meski saat ini banyak pelaku bisnis yang pada saat memilih influencer hanya bergantung pada ketenaran di media sosial semata. Bukan tak mungkin, cara itu bisa menjadi bumerang yang dapat merusak reputasi sebuah produk. ”Orang yang diminta meng-endorse akan menjadi ’humas’ yang akan mewakili brand Anda. Makanya, Anda harus cermat dan berhati-hati memiliki endorser yang tepat,” ujarnya.

Baca juga:
Strategi Marketing di Balik Lip Kit by Kylie Jenner
5 Langkah Efektif untuk Storytelling Marketing

Tuhu mencontohkan, pemilik akun @awkarin yang kontroversial itu mungkin cocok untuk produk-produk yang kesannya rebel. Namun, ia belum tentu cocok dijadikan endorser produk kecantikan, karena kapasitasnya tidak sesuai. Pemilik nama asli Karin Novilda ini hanya seorang selebritas Instagram (selebgram), bukan beauty expert ataupun beauty blogger yang memiliki kapasitas berbicara soal kosmetik. ”Masyarakat tentu memilih dengan siapa ia mau dan tidak mau disamakan. Selain kepribadian orang yang akan kita endorse, kapasitas seseorang untuk bicara tentang jenis produk tertentu juga perlu diperhatikan,” cetusnya.

 Tuhu menjelaskan,  misalnya Anda memiliki produk kopi atau coffee shop, maka orang yang layak dimintai untuk meng-endorse produk Anda adalah seorang Q grader (ahli kopi) atau barista, bukan mereka yang ’sekadar’ selebritas. Yang juga perlu diperhatikan adalah audience produk. Jika produk Anda menyasar pada kalangan menengah atas, carilah sosok dengan audiensi ataupun followers yang juga berasal dari kalangan menengah atas. Kalau produk tersebut di-endorse oleh orang yang audiensinya berasal dari kalangan bawah, produknya bisa-bisa tidak laku karena kalangan bawah tidak mampu membelinya. (f)
 
 

 

Nuri Fajriati
-
Share This :

Trending

Related Article