Marketing & Services

Pentingnya Memainkan ‘Emosi’ Konsumen Dengan Brand Storytelling

oleh Faunda Liswijayanti

Foto: Pexels.com

Pernah berpikir mengapa sebuah brand bisa lebih berhasil dari brand lainnya? Sebagai seorang pebisnis mungkin Anda kerap bertanya tentang hal tersebut. Perlu disadari bahwa nama besar sebuah brand tidak datang begitu saja. Di balik nama besar tersebut, ada cerita yang mereka bagi. Inilah yang disebut dengan brand storytelling.
 
Menurut Tuhu Nugraha, Digital Strategy Expert & Trainer dalam masterclass berjudul Brand Storytelling di acara Indonesian Women’s Forum 2018 yang digagas Femina Group, mengatakan bahwa branding sangat penting untuk produk ataupun perusahaan karena branding membangun kepercayaan, meningkatkan eksistensi produk dan perusahaan, sekaligus meningkatkan konsumen baru.
 
Merek dunia seperti Lego, Coca Cola, dan Google telah menjadi ikon industri karena kegemaran mereka ‘mendongeng’. Jika hanya mengandalkan produk dan penawaran, maka sebuah brand hanya akan menjadi sekadar merek ‘pada umumnya’. Ini artinya, brand Anda tidak dapat membedakan dirinya dari yang lain. Padahal di tengah kerumunan, brand harus menonjol.
 
Bagaimana agar brand Anda stand out? Menurut Tuhu membangun cerita adalah cara terbaik untuk membedakan diri dari merek lain. Selain itu dengan membangun cerita yang tepat, Anda bisa terhubung dengan audiens dan menarik emosi pelanggan ataupun calon pelanggan.
 
“Kita akan menjadi loyal terhadap suatu brand atau merek tertentu, ketika brand tersebut sudah menjual cerita. Mereka menjual cerita yang membuat kita menjadi emosional dan faktor itulah yang sebenarnya kita beli,” ungkap Tuhu.
 
Faktor emosional sangat berperan disini. Pada hakikatnya manusia cenderung membuat keputusan berdasarkan perasaannya. Cerita yang relevan terhadap keseharian kita, akan menjadi nilai tersendiri serta memiliki keunikan dalam pemasaran.
 
Membuat branding suatu produk atau perusahaan bukan hanya tentang cerita yang kita sampaikan kepada market, namun, bagaimana membangun konsistensi yang telah kita janjikan dari awal. Selain itu, nilai-nilai yang patut kita bawa antara lain, experience, visual, consistency dan communication.

Menurut Rizky Arief Dwi Prakoso, Co-Founder Nah Project, yang produk sepatu sneakers-nya dikenakan Presiden Joko Widodo saat menyalakan obor Asean Games 2018 lalu, penting membangun kepercayaan di dunia maya dengan cara membentuk storytelling yang tepat sasaran.
 
Hanya butuh waktu satu tahun bagi Nah Project untuk menancapkan brand-nya sebagai sepatu sneakers lokal yang kini produksinya mencapai 10 ribu sepatu. Semua itu berangkat dari brand storytelling yang dikedepankan Nah Project yaitu sneakers lokal yang berani membuka ‘dapur’-nya sendiri dengan ide transparancy in pricing dan shoes making.
 
“Kami ceritakan proses mendesain sebuah produk baru dan memberitahukan bahwa produk tersebut baru akan rilis enam bulan kemudian. Ternyata, engagement tersebut sukses membuat konsumen penasaran dan ingin beli,” ungkap Rizky.
 
Menurut Rizky  ada banyak cerita dari sebuah brand yang menarik untuk diangkat dan memiliki dampak kuat. Tapi, cerita-cerita hebat tersebut belum tentu bisa sampai kalau kita tidak paham tentang hirarki pesan. Hal yang pertama dilakukan adalah mencari unique selling proposition dari produk yang kita miliki. Misalnya produk batik ecofriendly, dengan pewarna alami dan desainer lulusan Milan dengan harga sama dengan batik dipasaran lainnya.
 
“Cerita tentang pewarna alami atau desainer dari Milan menarik, tapi konsumen tidak akan peduli. Karena kesannya kan mahal banget.
Jadi message-nya harus diubah, pilih yang paling friendly. Apa itu? Ya harganya yang affordable. Kalau sudah merasa bisa beli, pasti konsumen ingin tahu lebih banyak, tentang ecofriendly, base on reseach, serta dibuat oleh desainer,” kata Rizky. “Jangan belum apa-apa brand sudah membangun mental block dengan konsumennya,” tambahnya.
 
Kedua, lihat kembali posisi brand kita berada di fase mana? Apa pesan dari brand kita dan buat strategi sesuai pesan brand tersebut. Nah Project menekankan tentang sneakers lokal. Nah, touch of local ini yang kemudian mereka angkat juga untuk menjadi cerita brand.
 
Ketiga, kenali dan peduli dengan komunitas di mana konsumen produk kita berada. Dalam hal ini konsumen Nah Project berada dalam komunitas pecinta sneakers yang setahun belakangan jumlahnya terus bertambah. “Kita ada di sana, kenal dengan banyak orang. Dalam kasus Nah Project, ternyata di antara mereka ada yang punya link dengan pak Jokowi,” ungkap Rizky.
 
Branding memang  bisa menaikkan value dan produk kita agar dibeli orang secara cepat. Tetapi pada akhirnya, who define you is the product! Karena itu riset sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan kualitas produk. Rizky percaya bahwa brand adalah sebuah journey. Tidak ada brand yang sempurna sejak awal. Jadi menjadi lebih baik seiring jalan itu merupakan proses terbaik yang harus dilewati setiap brand untuk menjadi besar. (f)

Baca Juga: 
SEPANJANG 2018, 5 HAL TENTANG KECANTIKAN INI POPULER DITELUSURI NETIZEN
MENGAPA MILLENIAL LEBIH SUKA JADI WIRAUSAHA SOSIAL? INI ALASANNYA
THE POWER OF BRAND STORYTELLING: CERITA NAH PROJECT DAN MOZ5 SALON MUSLIMAH
 

 

Faunda Liswijayanti
-
Share This :

Trending

Related Article