Marketing & Services

Seri Memahami Konsumen Millennial: Mereka Punya Tenaga Penuh untuk Media Sosial

oleh Helen Christanti

Foto: 123RF
 
Sebuah studi tentang konsumsi wine di kalangan generasi millennial menyebutkan bahwa review yang diraih secara online menjadi penentu terbesarnya dalam berbelanja, daripada ilmu yang dimiliki tentang wine. Anggapan yang mudah terbentuk melalui informasi di dunia online mau tak mau membuat bisnis food and beverage melihat urusan branding di ranah ini sebagai hal esensial dan menjadi pemain yang terlibat di dalamnya.

Dalam menentukan keputusan berbelanja, studi oleh Boston Consulting Group juga menyimpulkan bahwa generasi muda kini lebih menaruh preferensinya pada brand yang memiliki Facebok dan website, daripada generasi di atasnya. Telusuri saja isi Instagram Colette & Lola, sebuah pastry shop di bawah Ismaya Group. Berbeda dengan GIA, restoran Italia milik Ismaya Group yang menyasar consumer type yang lebih sophisticated, Instagram Colette & Lola dipenuhi visual penuh warna dan seru. Cake-cake berdesain unik difoto secara profesional, menyadari target market yang lengket dengan smartphone.

“Deretan presentasi ini sesuai dengan pasar yang ditargetkan. Gaya cake yang genit dan menggemaskan selanjutnya kami antarkan dalam suasana ruang yang muda dan segar,” tambah Ayu.

Kepentingan branding dalam ranah digital telah menggeser cara lama berpromosi dalam bentuk leaflet atau brosur yang keren. Tidak sedikit restaurateur  yang membangun sebuah divisi khusus untuk menangani ini, atau setidaknya menyewa fotografer lepas untuk rutin memotret.
Tentunya, skill yang dibutuhkan berbeda dengan fotografi komersial untuk iklan cetak. Fotografer kafe adalah mereka yang mampu menangkap sudut-sudut yang instagrammable dan mengemasnya dalam mood warna atau tone yang seragam untuk visualisasi di Instagram. “Untuk ini, kami bekerjasama dengan seorang food blogger karena dinilai jeli dalam menangkap sesuatu yang menarik untuk kapasitas Instagram,” ujar Ryo Limijaya, Marketing Manager Anomali Coffee.

Masih dari ranah internet, kemajuan teknologi juga telah menciptakan generasi yang interaktif dan connected. Kebolehan teknologi ini membuat mereka tidak menginginkan adanya boundaries dengan merek yang disayangi. Mereka ingin merasa terlibat dan berkolaborasi. ‘Becoming seamless’, begitu salah satu poin lembaga konsultasi dunia, Accenture, tentang hubungan antara consumer type ini dengan brand-nya.

Maka dari itu, banyak akun Instagram restoran ramai-ramai melakukan tren repost untuk foto-foto menarik yang diunggah penggemar. Sebuah langkah untuk mengakui keindahan karya yang membuat generasi ini merasa makin dekat dan didengarkan oleh brand kesukaannya. Ini pengakuan yang menyenangkan. 

Brand masa kini juga bisa mengajak konsumen merasa terlibat dengan melakukan kolaborasi menu. Beberapa bulan lalu, salah satu tempat makan brunch di Jakarta Selatan menggandeng seorang food blogger terdepan untuk menciptakan beberapa menu sarapan yang menarik.

Dalam setahun ke depan, Accenture menilai bahwa platform yang disukai bisa saja berubah nama seiring penggunanya yang telah move on. Dalam lima tahun ke depan, kanal media sosial bisa saja berubah menjadi bentuk yang benar-benar berbeda.

Lihat saja radio. Dibutuhkan lebih dari 30 tahun untuk mencapai penetrasinya ke 50% masyarakat dunia. Bagi mobile phone, dibutuhkan hanya 15 tahun untuk mencapai penetrasi yang sama. Bagi media sosial? Hanya 3,5 tahun saja. Pesan yang perlu dipahami pebisnis cukup simpel: berada di lingkaran percakapan anak muda, jika tak mau ketinggalan kereta. (f)
 
 

 

Helen Christanti
-
Share This :

Trending

Related Article