Marketing & Services

Seri Memahami Konsumen Millennial: Opini Peer Group Menjadi Referensi Gaya Hidup

oleh Helen Christanti

Foto: 123RF
 
Ada sesuatu yang jauh lebih mendalam di balik keputusan ditampilkannya hipster coffee shops atau foto makanan yang menjadi viral, hingga hal-hal lainnya yang berbau kekinian. Berikut ini pendapat para pelaku marketing restoran, pencinta kopi, dan pendiri pop up market terkemuka tentang formulasi tren. Ini salah satunya:
 
Kenyang Bukan Ukuran
Tanpa perlu aba-aba, tiga pengunjung muda di kedai kopi Oetara serentak mengeluarkan smartphone dan memotret segelas piccolo di hadapan mereka. Kopi dengan permukaan latte art yang mengilap dan proporsional itu terus-menerus menjadi objek, hingga akhirnya tertinggal segelas kopi yang tak lagi hangat untuk disesap.

Ketika makanan adalah satu-satunya yang dibutuhkan generasi X untuk meninggalkan kesan, generasi langgas (millennial) justru mendefinisikan makan tak sesederhana persoalan mengisi perut. Media sosial yang tumbuh bersama kelompok demografis ini telah mengubah kegiatan bersantap sebagai aktivitas pengukuh lifestyle. Suasana nyaman, makanan yang fotogenik, dan crowd yang searus menentukan kelayakan sebuah tempat untuk dikunjungi dan diumumkan kepada dunia.

Walau  sesuatu yang bersifat baru menjadi karakteristik anak muda dari masa ke masa, teknologi memang telah memberikan diferensiasi unik pada generasi millennial. Studi milik The Boston Consulting Group menyebutkan bahwa opini peer group atau berbagai sumber yang bersifat nonkorporat dari dunia online menjadi referensi yang kuat dalam penentuan sikap consumer type ini. Perilaku pantang ketinggalan juga memicu mereka untuk mencari sesuatu yang baru. Pantas saja menentukan tempat makan tak lagi semudah cara orang dulu. (f)

Baca juga:
Seri Memahami Konsumen Millennial: Pengaruh Tren dari Negara Maju

 

Helen Christanti
-
Share This :

Trending

Related Article