Marketing & Services

Seri Memahami Konsumen Millennial: Pengaruh Tren Dari Negara Maju

oleh Helen Christanti

Foto: Dok. Femina, Dok. Ismaya Group
 
Tren makanan yang datang silih berganti membuktikan bahwa sesuatu yang baru adalah hal pertama yang akan selalu menarik perhatian generasi millennial. Dulu mereka menyesap bubble tea, mengantre froyo, lantas kini menikmati cold-brewed coffee. Loyalitas seakan ditentukan oleh panjangnya umur sebuah tren.

Di industri restoran dan kafe, kini suasana tengah disegarkan oleh kehadiran restoran bermenu Aussie brunch, coffee shop yang menciptakan mood ala kafe-kafe negeri Skandinavia hingga gerai yang membawa menu Japanese cheesecake dan cheese tart. Ini bukti bahwa kebanyakan hal kekinian yang hadir di Indonesia merupakan pengaruh dari negara-negara yang kulinernya maju. Ini diamini oleh Ve Handojo, pemilik kedai kopi Ruang Seduh dan salah satu pendiri ABCD School of Coffee.

Ketiga pendiri grup restoran gaya hidup Ismaya Group: Christian Rijanto, Bram Hendrata, dan Brian Susanto, kerap berbelanja ide saat berpelesir ke negara lain. “Ide-ide inilah yang kemudian dimatangkan bersama tim internal dari Ismaya Group dan memadukannya dengan tren dan kebutuhan pasar lokal,” jelas P. Ayu Paramita, Corporate PR Manager Ismaya Group. 

Hal yang baru --didefinisikan oleh Ismaya Group sebagai sesuatu yang dinamis, segar, unik, dan up to date-- adalah fondasi sebuah ide. Inilah kekuatan yang perlu dimiliki brand yang ingin dilirik pangsa muda. “Hal-hal baru ini bisa datang dari segi interior yang unik dan menu yang tidak biasa, atau bahkan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain,” sambungnya.

Referensi dari negara maju juga terlihat di tengah fenomena minum kopi.  Menurut Ve, kebanyakan mereka berkaca pada negara lain yang budaya kopinya maju. Contohnya negara-negara Skandinavia (Norwegia, Denmark, Swedia, Finlandia) yang terkenal teliti dalam memilih bahan baku, atau Australia yang serius dalam dunia kuliner, terlebih kopi. Karenanya, mustahil bagi pebisnis lokal untuk tidak memperdalam ilmunya jika ingin bersaing di tengah era third wave coffee shop. Tak hanya perlakuan pada kopinya, mood-mood desain kedai kopi lokal juga terinspirasi dari negara-negara tersebut.

Banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia menjadi alasan besar mendominasinya kedai kopi bergaya Australia. Mereka menetap bertahun-tahun dan mengikuti kebiasaan penduduk lokal menikmati secangkir kopi berkualitas  tiap harinya. Kebiasaan ini melekat erat dan terbawa saat mereka kembali ke Indonesia.

Perkembangan menikmati secangkir kopi juga terjadi. Dimulai dari kebiasaan menyeruput iced coffee berbasis espresso, pesona latte art yang  memenuhi media sosial, hingga kini beralih ke seduhan kopi dengan teknik manual brew. Jenis biji kopi dan cara menyeduh secara manual pun bisa ditentukan sesuai keinginan peminum kopi. Sebuah jawaban untuk sifat generasi muda yang senang mencoba hal baru dan lebih personal.   

Edukasi tentang kopi dan kedekatan antara pemilik kedai kopi dengan pelanggan merupakan salah satu kunci mempertahankan tren kopi. Di Ruang Seduh, konsumen diajak untuk meracik kopi sendiri, dari merasakan pengalaman menyeduh kopi lewat metode manual brew hingga berkreasi dengan latte art. Menurut pandangan Ve, makin bertambahnya pengetahuan mengenai kopi, peminat kopi muda akan mulai berani melirik espresso yang memiliki rasa lebih kompleks. (f)

Baca juga:
Seri Memahami Konsumen Millennial: Opini Peer Group Menjadi Referensi Gaya Hidup

 

Helen Christanti
-
Share This :

Trending

Related Article