Kewirausahaan

Menentukan Gaji Sendiri

oleh Wanita Wirausaha Femina

Tidak ada rumus yang tepat tentang berapa persen dari keuntungan yang diperuntukkan bagi gaji pemilik usaha. Yang jelas, menurut Lita, Undang-Undang Perusahaan Perseroan Terbatas (PT) mengatur bahwa dividen/bagi hasil para pemilik modal saja tidak boleh lebih dari 80% dari total keuntungan bersih. “Keuntungan bersih, ya, berarti harga jual   dikurangi harga beli dikurangi biaya operasional, termasuk pajak dan bunga bank,” ungkap Lita.
   
Jika sebagai pemilik usaha kita memutuskan 80% dividen akan kita jadikan sebagai gaji, lantas kita harus bertanya, apakah sisa keuntungan bersih yang ada akan cukup untuk mengembangkan usaha dengan cepat? Inilah yang harus menjadi pertanyaan besar. Jika menggunakan teori para ahli, total gaji seluruh karyawan sebuah perusahaan (gaji mulai dari pemilik hingga karyawan level bawah) yang ideal adalah maksimum 15% dari omzet. Hal ini juga bisa menjadi patokan berapa besar / persen yang mau kita sisihkan sebagai gaji kita pribadi.

Sebagai langkah awal yang bisa diambil adalah memastikan terlebih dahulu bahwa pemilik usaha memiliki kontribusi tenaga di dalam operasional usaha sehari-hari. Jika mengharapkan gaji bulanan, sebagai pemilik Anda bukan sekadar urun ide, aset, atau setor modal, tapi ikut dalam kegiatan operasional dan manajerial. Karena kompensasi untuk 3 kategori ini (ide, aset, atau setor modal) skemanya berbeda. Hal ini berlaku terutama pada bisnis yang dimiliki lebih dari satu orang.

Pemilik usaha yang ikut turun tangan dalam operasional sehari-hari layak  mendapatkan kompensasi setara karyawan. Besarnya kompensasi ini bisa ditentukan berdasarkan bobot pekerjaan atau posisi, kinerja, serta kompetensi.

Jika menggunakan ukuran bobot pekerjaan saja dengan mengabaikan kinerja dan kompetensi, maka job description di tingkat tersebut harus jelas. Harus ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara para pemilik usaha. “Dari pembagian tugas dan tanggung jawab inilah maka bisa ditentukan besaran bagi hasil/gaji yang layak didapat oleh pemilik usaha yang urun tenaga tersebut,” jelas Lita Mucharom, pakar sumber daya manusia (SDM).

Ketika seorang pemilik usaha memiliki karyawan, maka untuk menentukan berapa besaran gaji, Lita menyarankan untuk menggunakan grading system. Dengan cara ini,  tiap posisi, mulai dari level atas hingga bawah, memiliki bobot tergantung tanggung jawab dan otoritasnya. Bobot inilah yang menentukan nilai remunerasi yang pantas untuk sebuah posisi.

Untuk memudahkan, beberapa posisi bisa dikelompokkan pada tingkatan yang setara karena memiliki bobot yang sama. Bobot dinilai dari besarnya otoritas yang mencakup wilayah, dampak ke usaha, jumlah perputaran uang, jumlah staf, tingkat analisis masalah, tingkat risiko, pendidikan, dan lain-lain.

Jika bobot posisi sudah ditentukan dan grading system sudah disusun menjadi beberapa kelompok, maka besaran remunerasi yang dialokasikan untuk masing-masing tingkatan bisa Anda tentukan. Rentang remunerasi yang pantas diterima itu ditentukan oleh kemampuan bayar kita, yaitu tergantung pada besarnya keuntungan rata-rata per bulan.
        
Anda juga perlu melihat berapa nilai yang wajar di pasaran. Besarnya alokasi remunerasi ini harus setara, tidak hanya di dalam organisasi usaha yang Anda jalani, tapi juga bursa kerja yang ada.

Yang perlu juga dipikirkan adakah kenaikan gaji pemilik seiring dengan berkembangnya usaha. Menurut Lita, kenaikan gaji yang paling masuk akal adalah kenaikan yang sesuai dengan inflasi (cost of living adjustment), keuntungan usaha, dan kemampuan bayar perusahaan kita. Selain itu, harus diperhatikan pula tentang peningkatan penguasaan kompetensi kita, atau apakah sesuai dengan ruang lingkup kerja yang lebih luas dan lebih sulit alias berbobot. “Jika tidak ada alasan yang masuk akal, sebenarnya   sangat tidak disarankan untuk menaikkan gaji pemilik,” ungkap Lita. (f)

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article