News

Bincang Santai dengan Andy Easthope, Juri Kopi Internasional

oleh Trifitria S. Nuragustina
Dok: Femina
 
Mandiri Jakarta Coffee Week 2018 di PIK Avenue berlalu tepat sehari sebelum Hari Kopi Dunia. Kedutaan Besar Australia menghangatkannya dengan mendatangkan Andy Easthope sebagai juri di AeroPress Championship di festival yang diselenggarakan oleh ABCD School of Coffee dan HYPE, itu. Andy roaster eks Five Senses Coffee ini kini berlabuh di Grinders Coffee Roasters sebagai National Academy Coffee Manager. Tempatnya bekerja ini adalah roastery terbesar di Australia yang menggunakan biji kopi bersistem fairtrade.
 
Sabtu lalu, ia juga menyempatkan hadir di Indonesia Coffee Academy, sebuah sekolah kopi yang berada di bawah naungan yang sama dengan kedai kopi Anomali Coffee. Ia merancang Brewing Masterclass, menggunakan AeroPress dan V60 untuk biji kopi yang dibawanya dari Grinders Coffee Roasters, yakni Panama – Maunier Estate (natural process). Caranya mengajar atraktif dan saksama, dibarengi rumus-rumus seduh yang ia temukan, cocok untuk kopi dengan notes jeruk dan floral, itu. Femina berbincang selepas sesinya mengajar. 

Kapan Anda menemukan passion terhadap coffee
Sudah 15 tahun saya di dunia ini, mengawalinya dari menjadi barista. Minat pada kopi meluap-luap ketika pindah ke Melbourne dari kota asal saya, Adelaide. Ini transisi besar-besaran karena specialty coffee ada di mana-mana di Melbourne. Melbourne saat itu baru memulai reputasinya sebagai pusat segala hal yang cool tentang kopi. Saya bekerja dari kedai kopi ke kedai lainnya, hingga akhirnya menemukan passion pada dunia mengajar. Lalu, saya mengejar peran sebagai trainer. Ketika kita bisa membawa impact pada proses belajar seseorang, perasaannya mengagumkan.
 
Anda sangat menikmati proses mengajar, ya
Sangat, karena peran ini memungkinkan saya untuk membangun program belajar dan mengatur perilaku SDM yang berada di dalamnya.
 
Sudah 2,5 tahun Anda di Grinders Coffee Roasters. Alasannya? 
Ini perusahaan yang besar dan menakjubkan. Kami menyangrai sekitar 2 juta kilogram kopi per tahun, dengan target B2C dan B2B. Distribusinya ke supermarket dan kafe di seluruh dunia. Kami juga menciptakan modul-modul belajar, untuk level pemula hingga mahir. Kami juga mengajarkan selling skills. Di tengah-tengah proses ini, saya juga menyempatkan meraih sertifikasi Q Grader.
 
Secara global, apakah ada rata-rata kesamaan tren kopi?

Kalau dilihat dari tren pemunculan kedainya, biasanya satu kedai akan sangat sukses jika dia memulai langkah sebagai high end coffee shop pertama di kotanya. Kedai-kedai ini membawa pola yang berhasil di negara lain (dari segi gaya dekor, hingga produknya). Di London, saya menemukan 15-20 kedai yang patut diperhitungkan. Sisanya masih mainstream. Tapi, untuk kota yang gaya hidup ngopinya sudah matang, seperti Melbourne, bahkan minuman kopi dari kedai yang ‘biasa’, rasanya sudah enak! Akses ke green bean berkualitas di perkebunan kini lebih mudah dibanding 10 tahun lalu, dan memungkinan bermunculannya roastery kecil. Dengan melayani 10-20 kedai, biasanya bisnisnya sudah bisa berjalan. Dan, untuk roastery yang sangat besar, sulit mengalami growth sebagaimana sedia kala.

Di kota besar di Indonesia, kedai kopi bermunculan, namun belum tentu seiring dengan preferensi konsumennya pada kopi-kopi berskor baik. Apa yang bisa konsumen awam lakukan untuk menjadi peminum yang lebih baik? 
Kembangkan pengetahuan. Caranya, minumlah lebih banyak kopi, riset, ekpslorasi area yang banyak coffee shop. Banyak yang memulainya dari kopi yang diberi sirop, chocolate drink, atau mocha drink. Tak mengapa. Namun, saran saya, coba mulai dari latte. Amati menu dengan baik. Kopi yang direkomendasikan biasanya ditandai, kok. Jangan takut mencoba. 
 
Di Anomali Coffee misalnya, apa yang seorang Andy Easthope akan pesan?
Saya akan memesan yang milk-based dan black (serta house blend-nya). Black saya pesan menggunakan metode filter. Profil kopi yang saya sukai adalah yang sweet, juicy, fruity. Balanced, dengan kompleksitas. Nordic style. Banyak kopi Indonesia di Australia, dan orang Indonesia perlu bersyukur negerinya punya banyak single origin coffee. Tadi saya minum kopi Jawa Barat. Saya suka banget(f)

Baca Juga: 
TREN KONSUMSI MENINGKAT, PENJUALAN KOPI TUMBUH SIGNIFIKAN
RESEP SUKSES PEMILIK TUKU: SEHARI MAMPU MENJUAL RIBUAN GELAS ES KOPI SUSU
JAKARTA COFFEE WEEK TEMPAT BERTEMUNYA PETANI KOPI DAN PARA PEBISNIS KOPI




 

 

Trifitria S. Nuragustina
-
Share This :

Trending

Related Article