News

Building Brand Equity dan Leadership & Human Capital Management Untuk Pebisnis Sukses

oleh Reynette Fausto
Foto: RFF


EY Indonesia kembali menggelar Entrepreneurial Winning Women Entrepreneurship Insights Sharing Forum pada 8 Agustus 2018, yang merupakan rangkaian program penghargaan EY Entrepreneurial Winning Women tahun 2018. Ajang ini telah diselenggarakan di lebih dari 8 negara dan di Indonesia tahun ini menjadi tahun ke-8 penyelenggaraan Winning Women.

“Forum ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam membantu pengusaha perempuan. Berfokus untuk membantu EY Entrepreneurial Winning Women alumni dan wirausaha perempuan lainnya untuk memperluas pengetahuan bisnis dan meningkatkan ketrampilan kepemimpinan yang bermanfaat untuk meningkatkan skala bisnis mereka,” ujar Julianingsih Tan, Chief Financial Officer EY Indonesia. Dalam penyelenggaraan forum ini, EY bekerjasama dengan Perempuan Wirausaha Femina.

Acara yang dihadiri oleh para alumni program ini mengangkat topik “Building Brand Equity” yang dipresentasikan oleh Eva Arisuci Rudjito (Uci), Marketing Communications Professional PT Unilever Indonesia  dan “Leadership & Human Capital Management”  yang dibawakan Susi Boediman, Corporate Director of Human Resources PT Samsung Electronics.
 

Foto: RFF

Brand equity adalah bagaimana pebisnis dapat mengkomunikasikan apa yang dianggap fundamental dan menjadi inti dari bisnis mereka ke publik.

Ada poin-poin penting terkait brand equity yang disampaikan Uci, yaitu bagaimana pebisnis harus tahu dan selalu mengingat akarnya – apa tujuan ia mendirikan bisnisnya dan pebisnis juga harus mengetahui pressure point pelanggannya sehingga bisa memberikan sesuatu yang mereka inginkan atau butuhkan.

Contohnya produk lifebuoy.  Brand ini tidak sekedar menjual produk (sabun). Tetapi menawarkan perlindungan anak dari kuman lewat kebiasaan hidup bersih. Hal ini yang merupakan poin yang diinginkan atau dibutuhkan konsumen.

Selain itu hal penting yang harus diingat pebisnis bagaimana sulitnya membentuk pemikiran dan opini pelanggan akan brand yang telah tertanam. “Ini adalah tantangan paling kritikal bagi pebisnis,” kata Uci. Sebuah contoh brand yang sukses adalah Go-Jek. Meskipun bisnisnya telah berkembang menyediakan layanan antar barang, pijat, kebersihan, isi pulsa, dan sederet jasa lainnya, namun konsumen masih tidak bisa melepaskan persepsi bahwa Go-Jek adalah layanan jasa ojek online.

Sebuah brand juga harus bisa memposisikan dirinya lebih dari sebatas produk semata, tetapi ada functional dan emotional benefit. “Konsumen ingin bisa terhubung dengan produk yang dipakainya,” katanya.

Sebagai contoh, produk Dove yang tidak ingin menempatkan dirinya sebatas sabun atau beauty product saja. Lewat self-esteem programnya, brand ini mendatangi sekolah-sekolah untuk membangun kepercayaan diri remaja puteri yang menjadi sasaran target konsumennya.

Alhasil, brand ini tidak lagi dipersepsikan sebagai sebuah sabun semata oleh konsumennya. Tetapi orang akan melihatnya sebagai pendongkrak rasa percaya diri bahwa dirinya cantik.
 
Dalam sesi “Leadership & Human Capital Management”, Susi mengingatkan bagaimana perusahaan harus bersikap konsisten.

“Jika perusahaan ingin menjadi perusahaan global, maka nilai-nilai dalam perusahan yang diterapkan juga haruslah universal. Transparansi dan menghargai perbedaan justru menghidupkan keberagaman,” pungkasnya menutup forum sharing ini. (f) 

Baca Juga: 
BISNIS ANDA SEDANG TERKENA MASALAH? BERIKUT SARAN DARI PAKAR MANAJEMEN KRISIS

SIAPKAH ANDA MENJADI WIRAUSAHA?
FENY MUSTAFA SUKSES MEMBESARKAN LABEL BAJU MUSLIM SHAFIRA DENGAN MODAL AWAL PINJAMAN DARI IBU


 
 
 

 

Reynette Fausto
-
Share This :

Trending

Related Article