News

Google Womenwill : Bangkit Dari Keterpurukan, Wanita Wirausaha Semarang Majukan UKM Lokal Lewat Bisnis Digital

oleh Citra Narada Putri

Foto: CIT
 
Teknologi telah banyak membantu manusia dalam berbagai macam hal di kehidupan sehari-hari. Bahkan, bagi beberapa orang, teknologi bisa menyelamatkan mereka dari keterpurukan hingga akhirnya justru menginspirasi orang lain.

Dua wanita asal Semarang, Meliani Sugiarto dan Mariani yang memanfaatkan teknologi digital seperti Google Bisnisku untuk mengembangkan bisnis mereka dan memberdayakan para pedagang lokal lainnya.

Seperti yang disampaikan di hadapan 1.500 wanita wirausaha yang memadati ballroom Crowne Plaza, Semarang di acara konferensi Google Womenwill pada Kamis, 13 Juli lalu, keduanya bercerita tentang bagaimana teknologi digital membantu mengembangkan bisnis mereka.

 

Foto Lunpia Delight /Dok. CIT
 
 
Lunpia Delight, Inovasi Digital Kuliner Tradisional Lunpia Semarang

Meliani Sugiarto
, generasi kelima salah satu pencipta lumpia khas Semarang Tjoa Thay Joe (Lunpia Semarang, 1870) dan putri bungsu dari Tan Yok Tjay (Lunpia Mataram, 1980), sempat terpuruk ketika menjalankan bisnis kuliner yang dinamai Lunpia Express dengan mantan suaminya, karena masalah keluarga.

Tak ingin warisan resep lumpia leluhurnya hilang begitu saja, wanita yang akrab dipanggil Cik Me Me ini pun kembali membangun bisnisnya dari awal, yang ia namai Lunpia Delight di tahun 2014.
 
Kendati sudah banyak orang tahu tentang eksistensinya di dunia bisnis kuliner lumpia, namun ternyata memulai berwirausaha dari awal lagi tak semudah yang ia sangka.

Banyak saingan pedagang lumpia besar di Semarang yang harus ia hadapi, salah satunya Lunpia Gg. Lombok, Lunpia Pemuda Mbak Lien, Lunpia Mataram hingga bisnis yang ia turut bangun sendiri, Lunpia Express. Bahkan sekitar 3 bulan di awal bisnis barunya tersebut, Lunpia Delight tak menerima transaksi apapun.
 
Di sinilah ia belajar, bahwa selain harus melakukan inovasi produk dengan menyediakan enam varian rasa lumpia seperti rasa nusantara, kambing muda, ikan kakap, kepiting, hingga vegetarian, dibutuhkan langkah lain agar usaha kuliner tradisional Semarang miliknya bisa lebih berkembang di dunia yang serba modern ini. 
 
“Selain melakukan banyak eksplorasi pada varian menu agar jadi daya tarik tersendiri, kami juga masif mempromosikan Lunpia Delight dengan memanfaatkan platform digital di berbagai media sosial,” jelas Cik Me Me yang mengaku cara ini tak banyak dilakukan oleh para pesaingnya.
 
Salah satunya adalah pemanfaatan platform digital Google Bisnisku, agar memudahkan para pelanggannya dalam menemukan informasi mengenai Lunpia Delight secara lebih lengkap. Selain itu, dengan Google Bisnisku ini, pelanggan bisa memberikan ulasan tetang produk lumpianya secara lebih jujur.

“Ulasan dari pelanggan tersebut secara tidak langsung mempromosikan Lunpia Delight kepada semua orang. Karena orang justru lebih percaya rekomendasi ‘apa kata orang’ di internet,” ujarnya.
 
Pemanfaatan platform digital dalam pengembangan bisnis, diakuinya terasa sangat signifikan. Jika sebelum melakukan promo digital Lunpia Delight menjual hanya 500 lumpia, setahun setelahnya Cik Me Me mengaku bisa menjajakan oleh-oleh khas Semarang itu hingga 6.000 buah setiap hari.

“Dan tiap tahun lonjakan penjualannya bisa meningkat hingga lebih dari 20 persen,” tambah Cik Me Me yang pernah mendapatkan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) berkat kreasi dan inovasi varian lumpia yang dilakukannya. Hal ini juga turut membantunya menjadikan Lunpia Delight sebagai salah satu daya tarik wisata oleh-oleh terkenal di Semarang. (f)

Selanjutnya: Kesuksesan Meme Florist Semarang, Bisnis Bunga Tanpa Toko
 

 

Citra Narada Putri
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article