News

Lenzing Ingin Mengandeng Desainer Muda dan Brand Lokal

oleh Reynette Fausto
Foto: RFF


Serat viscose sebagai bahan dasar pembuat benang tekstil memang belum terlalu popular di mata awam, ketimbang katun dan polyester. Padahal, viscose yang merupakan olahan dari selulosa kayu memberikan kenyamanan yang sama dengan katun.
 
“Selain lembut dan adem saat dikenakan, serat viscose juga lebih kuat (tidak mudah mengkerut) dan memiliki ketahanan warna yang lebih lama,” ujar Ngudi Nugroho Fadhol, Business Development Textile Manager PT South Pacific Viscose, anak perusahaan dari Lenzing Group asal Austria,  memaparkan beberapa kelabihan serat viscose.
 
Untuk meningkatkan kualitas produksi dan memberikan layanan tambah bagi para buyer, pada 23 Oktober 2018 lalu, bertepatan dengan perayaan 35 tahun beroperasinya South Pacific Viscose di Indonesia, sebuah pusat riset dan uji serat viscose diresmikan di Pabrik South Pacific Viscose di Purwakarta.
 
“Lenzing Center of Excellence (LCoE) didirikan untuk memonitoring kualitas produksi viscose agar nantinya bisa diolah menjadi produk jadi yang berkualitas. Selain itu, LCoE juga memberikan layanan pengecekan proses produksi garmen dari para buyer-nya,” jelas Ngudi. Mulai dari uji kekuatan benang, kerataan gradasi warna, hingga memastikan serat benang lurus dan tidak ada cacat produksi seperti grunjulan dapat dilakukan di LCoE yang menjadi pusat uji dan riset serat viscose pertama di Indonesia.

Serat viscose di bawah brand LENZING yang diproduksi oleh South Pacific Viscose banyak digunakan sebagai pakaian pelindung dan pakaian kerja oleh para buyer. Dari total produksi 800 ton serat viscose per harinya, sebagian diekspor ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.
 
“Sayangnya, di Indonesia, pemasaran serat viscose masih terkendala dengan tidak adanya kebijakan anti-dumping seperti yang sudah diterapkan India. Alhasil, impor serat viscose dari negara lain, seperti Cina misalnya, bebas masuk ke tanah air dengan harga jual lebih murah,” kata Winston A. Mulyadi, Commercial Head South East Asia PT. South Pacific Viscose.
 
Itu sebabnya Winston berharap adanya dukungan pemerintah untuk menerapkan kebijakan anti-dumping sebagaimana Polyester. Dengan adanya kebijakan ini, produsen viscose dalam negeri bisa terlindungi karena pemerintah menaikkan harga jual yang lebih tinggi untuk impor viscose dari luar negeri.
 
Foto: RFF


Sedangkan di Amerika dan Inggris, Lenzing memproduksi dua brand yaitu TENCEL (serat woven premium untuk industri garmen) dan VEOCEL (non woven untuk produk kebutuhan sehari-hari seperti kapas, diaper, tisu, tisu masker wajah) yang baru dilluncurkan April lalu dengan keunggulan ramah lingkungan (biodegradable/dapat terurai),” kata Ngudi menambahkan. Kedua brand ini tidak diproduksi di Indonesia namun dijual di Indonesia.
 
Beberapa global brand ternama yang sudah menggunakan TENCEL untuk beberapa item fashion mereka di antaranya Mango, Mark & Spencer, Zara, Esprit, H&M, Uniqlo, Giordano. Sedangkan untuk brand lokal di Indonesia, misalnya EASE, produsen pakaian dalam Jockey, dan Zayana Hijab.
 
“Kami ingin memajukan industri tekstil di tanah air dan juga berkolaborasi dengan desainer-desainer muda atau brand lokal yang produknya menggunakan TENCEL, untuk membantu mempromosikan produk mereka,” imbuh Winston. Salah satu kolaborasi yang pernah dilakukan South Pacific Viscose yaitu dengan Zayana Hijab dan televisi swasta yang memberikan endorsement pada host-nya untuk mengenakan produk Zayana Hijab selama satu bulan penuh dalam tayangan program khusus di bulan Ramadhan lalu.
Tertarik ingin menggunakan TENCEL untuk mendongkrak value bisnis apparel Anda? (f)  

Baca Juga: 
3 SIASAT AGAR BRAND FASHION TAK TERGILAS PASAR

PARIS FASHION WEEK 2019 AKAN SEGERA BERAKHIR, INI CARA DESAINER MEMPREDIKSI TREND

DUA PRIA PENDIRINYA TIDAK BERPENGALAMAN BISNIS FASHION TAPI BERHASIL MEMBANGUN REVOLVE.COM BERNILAI JUTAAN DOLLAR. INI RAHASIANYA


 
 

 

Reynette Fausto
-
Share This :

Trending

Related Article