News

Per Tahun 2020, Starbucks Tidak Lagi Menggunakan Sedotan Plastik

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay

Sedotan plastik adalah salah satu sampah yang membuat polusi lautan dan mengancam kehidupan bawah air. Tak heran bisa banyak negara mulai melarang penggunaan sedotan plastik.

Menyikap hal ini, Starbucks yang kedainya sudah global, mengumumkan bahwa pada tahun 2020, mereka tidak akan lagi menawarkan sedotan plastik di gerai mereka. Mereka melakukan desain ulang gelas dan penutup gelas untuk minuman dingin yang diprediksi bisa mengeliminasi satu miliar sedotan plastic tiap tahunnya. Starbucks juga akan berinvestasi untuk material alternatif untuk membuat sedotan yang ramah lingkungan.

Sampah sedotan plastik memang banyak dilaporkan berakhir di lautan, dan mengancam kehidupan penyu maupun hewan-hewan air lain. Sebuah studi mengestimasi, pada tahun 2025 berat total sedotan di lautan akan lebih besar ketimbang total ikannya!

Menurut Starbucks, desain tutup gelas yang tidak memerlukan sedotan akan menjadi standar bagi es kopi, teh maupun jenis minuman lain.

Frappuccino misalnya, akan disuguhkan dengan sedotan yang eco-friendly, namun pelanggan bisa meminta jenis gelas yang tidak membutuhkan sedotan.

Menurut CEO Starbucks Kevin Johnson, gerakan ini merupakan milestone yang signifikan bagi perusahaannya dalam menangkap aspirasi global yang menginginkan kopi yang sustain dan menyajikannya dengan cara yang lebih sustainable. "Kami akan memulai pada musim gugur depan di Vancouver dan Seattle,” kata Kevin.

Menurut berita di BuzzFeed News, penjualan minuman dingin saat ini sebesar 50 persen dari total pendapatan Starbucks.
Perusahaan makanan global McDonald's juga mengumumkan akan menggunakan sedotan dari kertas pada musim gugur ini. Mereka akan memulai di Inggris dan Irlandia dan diharapkan per tahun 2019 sudah di seluruh dunia.

Pada April 2018, pemerintah Inggris memang sudah mengenalkan kebijakan yang akan melarang penggunaan sedotan plastik, dan per Mei, Uni Eropa juga mengadopsi ide ini.

"Mengingat bahaya sedotan plastik, kami harap banyak pihak mengikuti jejak Starbucks,” ujar Erin Simon, dari the World Wildlife Fund. (f)

Baca Juga:
Bank Sampah
Memanfaatkan Sampah Kayu di Laut Jadi Karya Seni

 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article