News

Wanita Wirausaha Meretas Batas: 7 Pebisnis Berbagi Cerita Bersama Kathryn Finney

oleh Puji Maharani

Foto: PM

Tekad berwirausaha memunculkan banyak tantangan tersendiri bagi wanita. Oleh karenanya, kesempatan untuk bertukar cerita dan berbagi inspirasi senantiasa menjadi kebutuhan. Rabu (30/11), CEO Femina Group Svida Alisjahbana dan Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Komunitas femina Petty S. Fatimah menyambut kedatangan Kathryn Finney, pendiri kewirausahaan sosial untuk pemberdayaan wanita wirausaha digitalundivided (@digundiv) asal Amerika Serikat. Dalam diskusi bersama sejumlah wanita wirausaha Indonesia yang bergerak di berbagai bidang, serta Managing Director Endeavor Indonesia Sati Rasuanto, Kathryn mengungkapkan antusiasmenya untuk belajar dari Indonesia.
 
“Indonesia terbilang cukup progresif dalam hal women in tech,” tutur Kathryn, berbekal pengalamannya mengunjungi sejumlah negara. Berkaca dari pengalaman pribadinya di dunia teknologi informasi, Eisenhower Fellow tahun 2016 ini menambahkan, “Penggunaan inovasi teknologi menghilangkan banyak batasan yang dihadapi wanita, terutama wanita kulit berwarna.”
 
Teknologi yang kian berkembang memang turut mendukung langkah wanita wirausaha untuk memulai dan mengembangkan bisnisnya. Contohnya Iim Fahima, yang ini menggagas Queenrides, sebuah start-up yang mengampanyekan berkendara aman (safety riding) bagi wanita. Diluncurkan pada 20 November lalu, gerakan ini menuai perbincangan di Twitter lewat tagar #womenridesafe.

Misi bisnis wanita wirausaha untuk turut memberdayakan wanita dapat dilakukan dalam berbagai cara. Lewat Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), Tri Mumpuni mengembangkan pengadaan listrik bertenaga mikro hidro, yang kini dapat dinikmati di lebih dari 60 titik terpencil di Indonesia.

“Energi merupakan suatu sektor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Lebih dari infrastruktur dan komoditas ekonomi, energi menjadi sebuah alat untuk mengembangkan modal sosial (social capital),” kisah Tri Mumpuni.

Mengenali keunggulan diri pun tak kalah penting dalam menentukan niche bisnis. Ligwina Hananto memilih untuk mengedukasi masyarakat, terutama kelas menengah, dalam hal perencanaan finansial, melalui QM Financial yang dirintisnya. Begitupun dr. Grace Judio-Kahl, yang bisnisnya, lightHOUSE Indonesia, bergerak di bidang manajemen berat badan. Demikian pula Ni Luh Ary Pertami Djelantik, yang mendedikasikan diri di bidang mode lewat label sepatu Ni Luh Djelantik.

Di sisi lain, wanita yang akrab disapa Ni Luh ini mengingatkan, bahwa teknologi bukanlah penggerak tunggal kelanggengan berwirausaha. “Siapa saja bisa menggenggam teknologi terbaru, namun kita semua masih membutuhkan human touch, maka itulah yang saya sertakan dalam sepatu-sepatu yang saya buat. Dengan cara itu, saya bisa memberdayakan orang-orang di sekitar saya dan membangun komunitas,” ujarnya. (f)

 

Puji Maharani
-
Share This :

Trending

Related Article