SDM

Dapat kritikan Jelek Dari Orang Terdekat, Jangan Galau. Lakukan Ini Saja

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay

Ludia, seorang mantan guru SD yang baru mencoba-coba membuka lembaga kursus pelajaran anak sekolah, sedang galau. Sebetulnya, ia sedang dipenuhi semangat karena segala pikrian dan tenaga yang ia kerahkan untuk membesarkan bisnisnya, sudah memperlihatkan hasil. Belakangan, jumlah pendaftar makin banyak, dan ia pun mulai merekrut beberapa tenaga pengajar baru.

Namun, apa yang terlihat cerah itu dihempaskan oleh komentar negatif. Memang sudah biasa bila kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi yang membuatnya shock adalah komen itu datang dari orang-orang terdekatnya. Sahabat dan papa mertuanya.
Gara-garanya, ia baru saja memperbaharui tampilan website lembaga kursusnya. Desainnya lebih minimalis, yang menurutnya sangat kekinian.

Namun, baru saja ia menarik napas lega, tiba-tia ia mendapatkan pesan pendek dari sahabatnya. Sang sahabat bilang, “Maaf ya, tapi saya tidak bisa menangkap apa yang ingin kamu sampaikan lewat desain baru website-mu. Selain itu, di bidang pendidikan kita kan tidak boleh mengatakan kalimat seperti….”

Meski selama ini Ludia tidak punya persoalan dengan rasa kepercayaan diri, namun mendapat kritik dari sahabat terdekatnya ternyata menyakitkan. Apalagi kemudian dia juga mendapat e-mail dari ayah mertuanya yang mengatakan, “Website kamu yang baru terlalu plain. Sama sekali tidak menggambarkan semangat….”

Memang bisa dimengerti bila komen yang tajam bisa membuat hari-hari Anda runyam. Tapi, menurut Melissa Cassera dalam artikel So… your friends, parents, or spouse do not support your business dreams? Yuck. Read this mengatakan, satu hal yang harus dijadikan pegangan dalam menghadapi kritik dan komentar negatif adalah,apakah si pemberi komen itu adalah target market alias konsumen ideal Anda. Ia mengutip kalimat terkenal dari RuPaul, transgender terkenal di dunia hiburan Hollywood, “Kecuali mereka membayar Anda, maka tak usah pedulikan.”

Bila melihat bisnis Ludia, target market-nya sudah jelas: ibu-ibu yang memiliki anak usia sekolah. Jadi, bila melihat hal ini, kritik sahabatnya harus dicerna dan dijadikan masukan karena sahabatnya memang berada dalam kelompok target pasarnya. Sementara, untuk ayah mertua, ya sudahlah didengarkan saja, tidak usah terlalu dibawa ke hati. Bagaimana pun, si ayah mertua bukan target market bisnis Ludia, bukan?

Feedback yang datang dari seseorang yang bukan customer ideal Anda, alih-alih membuat down sehingga membuat kita tidak produktif, mending anggap saja sebagai suara berisik. Namun, ada baiknya kritik yang datang tetap diapresiasi dengan mengucapkan terima kasih atas masukannya dan dijadikan bahan pertimbangan untuk perbaikan.

Biasanya, dengan jawaban demikian, akan menyudahi konversasi. Kecuali, orang yang mengeritik memang benar-benar ingin menjatuhkan, karena biasanya ia akan terus menerus menyerang Anda. Bila ketemu yang model begini, ya sudah lupakan dan fokus saja pada apa yang sedang Anda kerjakan saat ini. (f)

Baca Juga:
Rustono dan Bisnis Tempe Dari Mimpi
Bisnis Kelas Keramik Puaskan Keinginan Niche Market

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article