SDM

Memaksimalkan Potensi Karyawan Gen Y Untuk Kesuksesan Bisnis Anda

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay

Karyawan sebagai aset penting? Ya, hal ini sepertinya mulai disadari  tiap pengusaha. Bahwa bisnis mereka tidak akan mampu berkembang tanpa di-support oleh karyawan yang kompeten. Namun, soal karyawan ini juga menjadi sumber persoalan yang tak ada habisnya bagi perusahaan.
 
Mungkin sering kita dengar keluhan miris para pemilik usaha: “Aduuh, karyawan kepercayaan dibajak kompetitor. Sudah capek-capek ngajarin, eh yang dapat untung orang lain.” Atau, mungkin Anda familiar dengan kondisi penurunan kinerja staf Anda gara-gara dia sedang putus cinta. Maklum, mereka kan manusia yang punya seribu satau keinginan dan persoalan. Dan seringkali, persoalan yang mereka hadapi berefek juga pada kinerja di kantor.
 
Hal lain yang tak kalah penting, angkatan kerja kita saat ini mulai didominasi generasi Y. Mereka adalah anak muda dengan rentang usia antara 23 tahun - 33 tahun. Generasi Y ini tentu memiliki ciri khas tersendiri, yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
 
Ini adalah fakta yang tak bisa dihindari, yaitu kian banyaknya generasi Y (gen Y) yang memasuki dunia kerja. Mereka kini mendominasi dunia kerja. Siapakah generasi Y? Mereka adalah anak-anak muda yang lahir antara tahun 1980-an hingga 2000-an. “Bila Anda termasuk generasi X (gen X), maka memahami karakter gen Y itu penting,” tutur Lita Mucharom, konsultan SDM dari Langkah Mitra Selaras dalam buku seri Kewirausahaan Femina: Inilah Cara Bisnis Naik Kelas.
 
Haruskah generasi X ini berubah dan menyesuaikan diri dengan generasi Y? Prinsipnya begini, kalau kita tidak bisa bersaing, maka bergabunglah dengan mereka. Misalnya, gen Y itu sukanya bermain-main dengan gadget, kalau bisa bekerja di rumah saja, semua pekerjaan bisa diselesaikan via e-mail. Gen X, ya, tidak boleh langsung bête  karena memang seperti inilah dunia mereka.
 
Faktor-faktor apa saja yang bisa membuat karyawan senang? Berbagai literatur yang dibuat oleh generasi X memberi panduan, jawaban responden survei ini biasanya adalah karena gaji, tunjangan kesehatan, kesempatan belajar. Ternyata sekarang berbeda, yang membuat karyawan senang adalah bila posisi kantor   dekat rumah dan memiliki jam kerja yang fleksibel. Jadi, literatur yang dibuat oleh gen X itu sudah tidak bisa diaplikasikan untuk menilai gen Y.
 
Karena itu, agar gen Y ini bisa lebih produktif, perlu dibangun budaya kerja yang bisa mengakomodasi sikap kerja mereka. Misalnya, mereka lebih bisa bekerja dalam situasi yang relaks, termasuk kebebasan dalam mengatur jam kerja dan cara berpakaian. Mereka menginginkan kenyamanan di kantor, tentu dengan batasan aturan main perusahaan yang harus dihormati.
 
Dalam hubungan atasan-karyawan sebaiknya memang tidak kaku. Atasan diharapkan bisa memberi perhatian ketika mereka ingin curhat, dan bisa mengerti ketika mereka sedang dilanda galau, misalnya ketika mereka bermasalah dalam hal percintaan. Untuk masalah ide dan inovasi, gen Y bisa diandalkan. Namun, dalam masalah struktur, sistematika kerja, dan pencapaian deadline, mereka harus didampingi dan diarahkan. (f)
             
 
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article